Ekonomi Berbasis Kebudayaan, Faktor Penting dalam Pembangunan Manusia Indonesia

0
362

Jakarta — Direktorat Jenderal Kebudayaan bekerja sama dengan Koalisi Seni Indonesia (KSI) menggelar Economics Cultural Forum di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Petojo, Jakarta Barat, Rabu (5/9). Isu yang dibahas dalam forum kali ini adalah melihat pentingnya ekonomi berbasis kebudayaan sebagai salah satu faktor utama dalam pembangunan manusia Indonesia.

Prof. David Throsby AO, seorang ahli ekonomi berbasis kebudayaan dari Macquarie University di Australia mengatakan adanya kesinambungan antara industri (ekonomi), budaya dengan pembangunan manusia. “Kita perlu menunjukkan cara industri kebudayaan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Misalnya, sumbangan produksi, penyebaran, partisipasi, serta konsumsi budaya. Selain menjadikan masyarakat berdaya dari segi ekonomi, berbagai kegiatan tersebut juga memperkaya kebudayaan itu sendiri, serta memperkuat kohesi sosial masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Throsby menjelaskan manfaat kebudayaan dan pembangunan manusia dapat diukur melalui dua nilai, yakni dari segi ekonomi dan budayanya. Dari segi ekonomi, industri kebudayaan menghasilkan barang dan jasa untuk pasar dan kepentingan publik, serta berdampak pada inovasi industri lain. Sementara dari segi budaya, industri kebudayaan berkontribusi dengan menunjukan nilai dari barang dan jasa artistik, menaikan nilai peran individu dalam kegiatan kreatif, mewujudkan nilai sosial dialog lintas budaya, serta mendukung peran seni dalam Pendidikan.

Menanggapi hal itu, Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan bahwa Undang-undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menyediakan platform untuk meningkatkan ekonomi dan mengurangi kesenjangan.

“Indonesia telah memiliki asset kebudayaan yang begitu kaya dan perlu didukung Bersama secara gotong-royong. Ekonomi berbasis kebudayaan memperkuat alasan pemerintah, swasta, pegiat budaya, dan masyarakat untuk berkonsolidasi memadukan pengembangan budaya dalam pembangunan,” jelas Hilmar.

Senada dengan Hilmar, Mari Elka Pangestu, Menteri Ekonomi Kreatif 2011-2014 menuturkan, pemerintah Indonesia telah melihat nilai ekonomi kebudayaan melalui pengembangan industri ekonomi kreatif. “Ekonomi kreatif dipandang sebagai sektor penggerak yang dapat menciptakan daya saing bagi manusia dan bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Menutup diskusi, Throsby mengatakan diperlukan adanya kerja sama yang baik antar-pemerintah Indonesia untuk memajukan seni budaya dan pembangunan manusianya. “Hal tentang ekonomi berbasis budaya bukan hanya dilakukan oleh Kementerian Kebuyaan saja, tetapi juga oleh kementerian lain, sehingga mendapatkan masukan lain terkait kebijakan,” tukasnya.

Economics Cultural Forum masih berlangsung hingga Jumat (6/9) dengan materi kuliah umum Bersama Prof. David Throsby.

TINGGALKAN KOMENTAR