Pada masanya Kawasan Muarajambi merupakan tempat pembelajaran bagi para biksu. Berabad-abad setelahnya Kawasan Muarajambi tetap menjadi tempat pembelajaran bagi masyarakat saat ini. Sekolah Lapangan menjadi sarana untuk mempelajari Kawasan Muarajambi secara komprehensif. Pelibatan mahasiswa dan dosen dari multidisiplin ilmu.

Direktorat Pelindungan Kebudayaann melaksanakan Kegiatan sekolah lapangan dengan melibatkan lima puluh mahasiswa dan dosen yang berasal dari Universitas Jambi, UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, UIN Raden Fatah Palembang, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung dengan program studi yaitu Desain Produk, Teknik Geofisika, Biologi, Sejarah Peradaban Islam, Ilmu Sejarah, serta Arkeologi dalam sekolah lapangan membuka peluang kajian yang lebih luas untuk Kawasan Muarajambi. Sekolah Lapangan dilaksanakan selama 14 hari, 18 – 31 Juli 2022 di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi. Selama pelaksanaan kegiatan Sekolah Lapangan, para peserta tinggal di rumah warga Kawasan Muarajambi.

Pelaksanaan Sekolah Lapangan difokuskan di dua Situs, yaitu Kotomahligai dan Gedong I. Kedua situs tersebut pada saat yang sama sedang dilakukan pemugaran, dengan demikian para mahasiswa dapat langsung belajar bersama dengan para tenaga ahli yang bertugas. Pun terdapat dua narasumber yang turut mendampingi para mahasiswa, yaitu Bapak Junus Satrio Atmodjo (TACBN) sebagai narasumber di Kotomahligai dan Bapak Marsis Sutopo (TACBN) sebagai narasumber di Gedong I.

Kegiatan Sekolah Lapangan dibuka secara resmi pada 19 Juli 2022 oleh Wakil Gubernur Jambi, kegiatan pembukaan Sekolah Lapangan ini juga sekaligus menutup Kegiatan Ekspedisi Sungai Batanghari. Sebelum seremonial pembukaan, pada peserta Sekolah Lapangan melakukan orientasi lapangan mulai dari Candi Kotomahligai, Kedaton, Parit duku, hingga Gedong I dan Gedong II.

Pada 20 Juli 2022, masing-masing kelompok mulai bertugas di Kotomahligai dan Gedong I. Pada siang hari, kedua kelompok bersama dengan peserta Ekspedisi Batanghari dan KKN UIN Raden Fatah Palembang berkumpul di Kotomahligai untuk mengikuti kegiatan Diskusi Interaktif dengan Direktur Jenderal Kebudayaan.  

Pada 21 dan 22 Juli 2022, masing-masing kelompok mengikuti arahan dan penjelasan dari tenaga ahli dari BPCB Jambi yang tengah bertugas di masing-masing situs. Secara umum kedua kelompok mengikuti dan mempelajari aktivitas yang sedang dilakukan di masing-masing situs, aktivitas yang dilakukan antara lain, ekskavasi, penanganan temuan arkeologis, dokumentasi, dan pemugaran. Pada malam hari dilakukan kegiatan diskusi dan evaluasi antara dosen pendamping dan mahasiswa peserta Sekolah Lapangan.

Pada 23 Juli 2022, para peserta sekolah lapangan mengikuti praktik Geolistrik di Menapo Sungai Melayu I. Secara bergantian peserta mencoba alat geolistrik dipandu oleh dosen pendamping Geofisika Universitas Jambi dan Narasumber. Pada malam hari dilaksanakan diskusi antara peserta sekolah lapangan dengan Pak Junus Satrio Atmodjo dan dosen pendamping. Keesokan harinya, pada Minggu, 24 Juli 2022 dimanfaatkan oleh peserta Sekolah Lapangan untuk beristirahat dan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing. Aktivitas sehari-hari para peserta Sekolah Lapangan terekam dalam Log Book Harian yang wajib diisi setiap hari dan menjadi unsur penilaian.

Pada pekan Kedua Sekolah Lapangan, lokasi tugas masing-masing kelompok ditukar, kelompok yang pada pekan pertama bertugas di Kotomahligai maka pada pekan kedua bertugas di Gedong I, begitu pula sebaliknya. Pada pekan kedua juga para peserta Sekolah Lapangan direncanakan akan melakukan wawancara dengan masyarakat sekitar kawasan.

Kontributor : Bimo Andriawan
Direktorat Pelindungan Kebudayaan