Ngobrol Santai: Batik dan Keseharian Anak Muda

0
1261

Sabtu, 2 Oktober 2021, Museum Batik Indonesia menggelar acara ngobrol santai ala generasi muda. Indonesia memiliki banyak sekali warisan budaya leluhur, dari Sabang sampai Merauke. Warisan budayanya mungkin tak terhitung jumlahnya. Beberapa dari warisan budaya itu telah masuk ke dalam daftar warisan budaya dunia yang diresmikan UNESCO. Sebagai contoh, Batik dari Indonesia yang telah resmi dikukuhkan untuk masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda pada tanggal 2 Oktober 2009 dalam sidang UNESCO di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Sehingga di setiap tanggal 2 Oktober kita peringati sebagai Hari Batik Nasional.

Dalam rangka Hari Batik Nasional 2021, Museum Batik Indonesia menyelenggarakan Ngobrol Santai dengan tema Batik dan Keseharian Anak Muda. Acara ini dimeriahkan oleh narasumber dari generasi muda, yaitu Syifa Mahala Adjani dari Remaja Nusantara yang akrab dipanggil Syifa dan Radinindra Nayaka Anilasuta yang akrab dipanggil Nayaka, Creative Director dariRadinindra. Kedua narasumber ini dipilih untuk mewakili anak muda yang selalu memakai kain batik sebagai busana.

Topik yang menjadi pembahasan utama dalam acara Ngobrol Santai tersebut mengenai bagaimana anak muda memandang batik. Seringkali kita masih mendengar banyak anak muda yang enggan mengenakan batik di kegiatan sehari-hari karena tidak menarik, terlalu resmi, dan sebagainya. Padahal, sejak dulu batik sudah dipakai menjadi pakaian keseharian, terutama menjadi kain bawahan. Hal ini berkali-kali disebut oleh kedua narasumber untuk menegaskan alasan mereka tidak malu memakai batik sebagai pakaian, khususnya sebagai kain bawahan.

Alasan Utama untuk Berkomitmen dengan Batik

Syifa dari Remaja Nusantara menceritakan pengalamannya ketika mengenakan kain batik sebagai kain bawahan yang ternyata tidak mendapat reaksi positif dari orang-orang di sekitarnya. Bahkan ia sempat diolok ketika memakai kain batik. Dari situ, Syifa ingin menunjukkan bahwa batik atau wastra Indonesia lainnya bisa dipakai dalam aktivitas keseharian kita. Syifa memperjelas, “Bahkan, aku pernah mengganti bohlam lampu dengan mengenakan kain bawahan batik”.

Hampir serupa dengan pernyataan Syifa. Alasan Nayaka memutuskan untuk berkomitmen untuk selalu memakai batik sebagai busana sehari-hari adalah karena pesan dari kakeknya, yang lebih senang jika kain-kain batik milik sang kakek dipakai dan bisa diperlihatkan kepada publik, ketimbang hanya disimpan. Selain itu, Nayaka juga ingin mempertahankan identitas budaya bangsa Indonesia dalam hal berbusana, yaitu dengan tetap mengenakan wastra tradisional, salah satunya adalah batik. Alasannya adalah batik sudah digunakan sejak dahulu dan telah menjadi identitas budaya bangsa.

Nayaka juga mengaku bahwa ia adalah seorang yang tidak pandai mengekspresikan perasaannya. Ia menemukan cara agar perasaannya bisa diekspresikan sesuai dengan keinginan dan karakter dirinya, yaitu dengan mengenakan batik. Dari situlah ia mulai mengenakan batik-batik koleksi keluarganya. Ia merasa, motif-motif batik memiliki makna yang bisa menggambarkan isi hatinya. Hal ini hampir serupa dengan pernyataan dari Syifa yang mengatakan, bahwa selain untuk mempertahankan kebiasaan berbusana masyarakat Indonesia sejak dahulu, menurutnya batik sarat akan ekspresi dari perajinnya, juga memiliki nilai-nilai adiluhung yang tergambar dari motif serta proses pembuatannya.

Sebuah Mimpi Besar

Bahasan yang paling menarik adalah ketika Syifa dan Nayaka ditanya mengenai mimpi mereka terhadap batik. Dimulai dari Nayaka yang asal keluarganya adalah dari Keraton Surakarta. Ia bercita-cita membuat Surakarta menjadi kota budaya, serta membuat Surakarta juga menjadi kota pusat batik. Selain itu, ia ingin mengubah pola pikir masyarakat mengenai batik melalui pendidikan. Supaya muncul kesadaran untuk memotong pengaruh budaya luar agar tidak mendominasi gaya berbusana kita terlalu kuat.

Pernyataan Nayaka serupa dengan Syifa yang juga ingin mengubah kiblat busana keseharian masyarakat tak lagi mencontoh gaya berbusana dari luar negeri, yaitu dengan memasukan batik dalam pendidikan sekolah mode. Sebab, Syifa menyayangkan gaya busana yang dikembangkan merk kenamaan dari luar negeri bisa mendominasi ketimbang gaya busana lokal tradisional yang sudah lama dimiliki Indonesia, seperti batik dan kain tradisional.

Melalui narasumber-narasumber muda tersebut, setidaknya memunculkan harapan bahwa keberadaan batik akan tetap eksis dan lestari. Hal ini dibuktikan dengan mulai banyaknya gerakan dari anak-anak muda Indonesia dalam hal kecintaan terhadap berkain dengan wastra Indonesia. Selain itu, peran serta berbagai lapisan masyarakat juga turut andil dalam pelestarian batik dan juga wastra-wastra di Indonesia.