Tak Hanya di Jawa, Inilah Jejak Masa Klasik di Pulau Kalimantan

0
11839
Bagian Utama Candi Agung, Kota Amuntai, Kalimantan
Bagian Utama Candi Agung, Kota Amuntai, Kalimantan

Masa klasik di Indonesia sebagian besar terkonsentasi di tanah Jawa. Hal ini terbukti dengan banyaknya candi yang tersebar di sana.

Sebelum masuknya Hindu dan Buddha, agama tertua yang dipeluk di Indonesia adalah agama Veda. Walaupun sempat menjadi agama yang dianut oleh beberapa kerajaan besar, jejak kerajaan berlatar belakang Veda berupa bangunan sama sekali tidak ditemukan. Agama Veda tidak mengenal pemujaan di bangunan suci seperti kuil atau candi.

Sebenarnya masa klasik juga terjadi pulau besar lain dan pulau kecil di sekitarnya. Persebaran agama Hindu-Buddha ke berbagai pulau tak lepas dari peran pedagang yang berdagang sambil memperkenalkan kebudayaan dan kepercayaannya.

Banyak kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di luar Jawa yang sempat mengukir nama besarnya di percaturan kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia: kerajaan Kutai, Sriwijaya, Melayu, dan lain-lain.

Sisa-sisa kerajaan masa klasik pun tak hanya ditemukan di Jawa. Ada beberapa jejak masa klasik yang ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Sumbawa.

Jumlah candi yang ditemukan di Kalimantan tergolong sedikit, tidak sebanyak yang ada di Jawa. Namun, jejak kerajaan Hindu-Buddha di Kalimantan tergolong unik, ada yang berupa batu besar berukirkan aksara kuno, bangunan keagamaan, hingga gua yang di dalamnya ditemukan beberapa arca. Yuk, kita cari tahu.

1. Situs Batu Pait

Dilaporkan keberadaannya tahun 1914 berdasarkan temuan sebuah prasasti pada sebuah batu granit yang berukuran 4×7 meter di tepi sungai Kapuas. Pada batu besar itu dipahatkan mantra-mantra Buddha.

Para ahli mempunyai pendapat yang berbeda tentang usia prasasti ini. N. J. Krom memperkirakan prasasti Batu Pait ditulis pada sekitar abad ke-7 Masehi, agak berbeda dengan pendapat Chabbra dan O’Connors yang memperkirakan prasasti ini berusia lebih muda dari yupa di Kutai (abad ke-5). Wales mengemukakan bahwa prasasti Batu Pait berasal dari abad ke-6 Masehi.

Penemuan ini mengindikasikan adanya kelompok masyarakat Buddha yang tinggal di lembah tersebut. Kemungkinan di situs tersebut dulunya digunakan oleh biksu untuk semedi, belajar kitab, dan retret.

2. Candi Agung

Candi ini terletak sekitar 200 km dari kota Banjarmasin. Ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1962 ketika Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara membuka hutan untuk memperluas jalan dan kota. Jejak yang ditemukan adalah fragmen sepasang kaki dan lapik teratai dari batu alam.

Berdasarkan cerita rakyat, candi ini dipercaya sebagai peninggalan Kerajaan Negaradipa Khuripan dari abad ke-14 Masehi.

Candi berbahan bata ini tergolong unik karena didirikan di atas tanah rawa yang diurug. Analisis radiokarbon dilakukan pada sampel kayu ulin yang tertancap di halaman kerikil candi menghasilkan pertanggalan abad ke-8 Masehi.               

3. Candi Laras

Kondisinya sudah hancur ketika ditemukan. Candi berbahan bata ini dibangun di lokasi yang strategis, dikelilingi oleh rawa. Selain runtuhan bata, ditemukan juga kayu ulin yang dijadikan tonggak. Ditemukannya arca Siwa Mahaguru, Nandi, dan lingga di reruntuhan candi ini menguatkan dugaan bahwa candi tersebut berlatar belakang agama Hindu.   

Uji radiokarbon yang dilakukan pada tonggak ulin menghasilkan penanggalan sekitar abad ke-14 Masehi.

4. Gua Gunung Kombeng

Di gua berukuran relatif kecil ini ditemukan sejumlah arca yang dibuat dari batu putih. Arca-arca bernafaskan agama Hindu tersebut disusun berjajar. Arca-arca tersebut adalah Siwa Mahadewa, Siwa Mahaguru, Ganesa, Buddha, Wajrapani, dan Kartikeya. Ditemukan juga sepasang arca penjaga Mahakala dan Nandiswara.

Ahli menyebutkan bahwa arca-arca di gua ini mirip dengan yang ada di Jawa, namun bentukya lebih pipih. Dari segi ikonoplastis, arca yang diletakkan dekat dengan mulut gua ini buatannya lebih kasar dan tidak proporsional.

Diduga arca-arca tersebut dibuat oleh seniman lokal yang sudah mengenal atribut arca pantheon. Hal ini membuat para ahli kesulitan untuk menentukan usianya. Tak hanya karena buatan seniman lokal, arca-arca tersebut tidak mempunyai konteks dengan prasasti yang berangka tahun dan tidak ada arca pembanding yang sudah diketahui gaya seninya.

Baca juga:

Mengenal Bendera Sang Saka Merah Putih Lebih Dekat

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, Perlawanan Raden Saleh atas Karya Nicolaas Pieneman

Arca Harihara Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya Nasional