Candi Gedingsuro

0
2412

Kompleks Candi Gedingsuro dikenal dengan nama Palembang Lamo (Kuto Gawang), karena wilayah itu dulunya merupakan pusat pemerintahan awal Kerajaan Palembang-Islam sebelum pindah ke Beringin Jangut menjadi Kesultanan Palembang-Darussalam, Kuto Batu (Kuto Tengkurak), dan terakhir Pulau Besak di pusat Kota Palembang Sekarang.

Lahan tempat kompleks Percandian Gedingsuro berdiri merupakan tanah aluvial. Benteng alam di tanah aluvial itu terdiri atas tanah kering dan tanah rawa. Tanah rawa terletak pada lahan yang ketinggiannya sekitar dua meter d.p.l., sedangkan tanah kering terletak pada lahan yang ketinggiannya antara 3–6 meter d.p.l. Pada jarak sekitar 150 meter ke arah timurlaut dari kompleks percandian terdapat parit kecil yang lebarnya sekitar empat meter membentang arah timur barat. Parit kecil ini sekarang merupakan tanah basah yang ditanami kangkung. Pada jarak sekitar 250 meter ke arah selatan terdapat Sungai Rengas yang membujur arah utara selatan dengan muaranya di selatan (Sungai Musi).

Kompleks Candi Gedingsuro atau dikenal juga dengan nama Kompleks Makam Gede ing Suro, terdiri atas beberapa kelompok bangunan makam dengan masingmasing kelompok terletak di atas masing-masing batur yang denahnya segi empat. Batur itu hampir seluruhnya terbuat dari bata. Seluruh bangunan, menurut catatan dari Schnitger, berjumlah enam bangunan (candi) yaitu Candi I sampai Candi VI. Namun, menurut catatan dari Proyek Pemugaran Candi Gedingsuo, Bidang Permuseuman,  Sejarah dan Purbakala, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatra Selatan, seluruhnya berjumlah tujuh bangunan, yaitu Bangunan A sampai Bangunan G.

 Candi I atau Bangunan F dan G, dindingnya tidak mempunyai hiasan dan merupakan dua bangunan yang dihubungkan dengan tangga di Bangunan F. Bangunan F berdenah empat persegi panjang. Bagian atas bangunan tersebut tidak terdapat tangga. Pada permukaan lantai atas bangunan, agak ke arah sisi utara terdapat tangga menuju Bangunan G. Sisi selatan Bangunan G seolah-olah bertumbpu pada sisi utara Bangunan F. Bangunan G merupakan bangunan terkecil dan dan tertinggi pada Kompleks Makam Gede ing Suro. Bentuk denahnya empat peregi panjang, membujur arah barat-timur dengan tinggi satu meter dari permukaan lantai Bangunan F.

Candi II atau Bangunan E dibuat dari tiga macam bahan yang berbeda, yaitu bata, batu putih, dan batu andesit (?). Bata digunakan untuk konstruksi badan bangunan, sedangkan batu putih digunakan untuk konstruksi lapik bangunan. Pada dinding lapik terdapat hiasan salib. Sisi selatan lapik terdapat tangga yang berpipi tangga menuju bagian teras atas bangunan. Bangunan utama dibuat dari bata dengan denah berbentuk empat persegi panjang. Seluruh dinding bangunan berhiasan ragam hias geometri dan ragam hias flora berbentuk empat kelopak bunga dengan bulatan yang menonjol. Seluruh ragam hias itu terletak dalam panil-panil bujursangkar yang disusun berselang-seling.

Batu putih digunakan untuk konstruksi dinding yang mengitari seluruh teras pemakaman. Teras pemakaman letaknya terpisah dengan bangunan utama yang konstruksinya dibuat dari bata. Batu putih yang digunakan pada konstruksi dinding itu dibentuk seperti batu candi. Pada dindingnya terdapat 4 hiasan medalion dengan hiasan roset di tengahnya. Antara konstruksi dinding bata dan dinding batu putih itu dibatasi dengan lorong. Pada bangunan teras tersebut terdapat sembilan makam yang berjajar arah barat-timur.

Candi III atau Bangunan D letaknya di sebelah barat Candi II yang berdenah empat persegi panjang membujur arah utara-selatan. Bangunan itu paling rendah di Kompleks Candi Gedingsuro, dengan ukuran tinggi 0.95 meter. Seluruh permukaan dinding tidak mempunyai hiasan dan tidak ada tangga. Selain itu, bangunan ini tidak mempunyai teras yang berlantai seperti pada candi IV, candi V, dan candi VI. Yang ada hanya dinding teras di sebelah timur pada sisi utara dan sisi selatan. Di bagian atasnya terdapat dua makam.

Candi IV atau Bangunan A denahnya berbentuk empat persegi panjang. Lapiknya terdiri atas dua bagian, bagian pertama agaknya merupakan bangunan tambahan pada bagian kedua. Gejala ini tampak pada susunan bata yang menutup bidang sisi batur utama. Di atas lapik berdiri batur utama dengan tangga pada sisi selatan. Tangganya mempunyai lima anak tangga dengan pipi tangga yang pada bagian ujungnya berbentuk ukel di kiri dan kanannya, serta pelipit di bagian bawah. Pada dinding batur terdapat 18 panil-panil berdenah bujursangkar dengan pola hias geometri berbentuk hiasan salib, diselingi dengan 12 panil polos. Dinging sebeleh timur dari Bangunan A menjadi satu dengan dinding barat Bangunan B.

Candi V atau Bangunan B mempunyai denah berbentuk emat persegi panjang. Bangunan itu berhimpitan dengan Candi IV atau Bangunan A di sebelah barat. Di sebelah timurnya terdapat dua makam. Ketigabangunan itu terletak di atas satu lapik. Pada sisi selatan bangunan tersebut terdapat tangga dengan pipi tangga yang pada ujungnya berbentuk ukel dan pelipit di bagian bawahnya. Pola hias pada panil-panil bangunan ini sama dengan yang ada pada Candi VI, yaitu motif geometri yang diselingi dengan panil polos.

Candi VI atau Bangunan C merupaan bangunan yang terbesar di Kompleks Candi Gedingsuro. Bangunan ini  mempunyai teras yang berukuran 11,5 x 12,5 meter, dan bangunan utama berukuran 8,75 x 9,0 meter. Tangga di sisi selatan terdiri atas dua bagian yang bersatu, yaitu tangga teras dengan dua anak tangga, dan tangga pada bangunan utama dengan tiga anak tangga. Pipi tangga berbentuk biasa dengan pelipit pada bagian bawah. Di bagian atasnya terdapat tiga makam dengan batu nisannya yang telah aus (rusak).

Ragam hias yang terdapat pada teras pertama berbeda dengan ragam hias yang terdapat pada bangunan utama. Ragam hias pada teras pertama terdapat di dalam panil-panil berbentuk empat persegi panjang dengan pola hias sulur daun. Masing-masing panil dipisahkan dengan bingkai polos berbentuk bujursangkar. Ragam hias pada bangunan utama terdiri atas pola hias geometri berbentuk salib, diselingi dengan panil berisi pola hias tanaman berbentuk ukiran kembang dengan medalion polos di bagian tengah.

Di antara runtuhan bangunan Gedingsuro ditemukan satu fragmen arca Buddha dari bahan batu berlanggam Śailendra yang berkembang pada abad ke-8–9 Masehi, dan tiga arca (Brahma, Wisnu dan Śiwa) yang dibuat dari bahan Majapahit Akhir (abad ke-15 Masehi). Arca perunggu tersebut sekarang ditempatkan di Museum Nasional, Jakarta, dan arca Buddha disimpan di Museum Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Sumber

Wiwin Djuwita Sudjana Ramelan (ed.), 2014, Candi  Indonesia Seri Sumatera, Kalimantan, Bali, Sumbawa, Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hlm. 161–164.