Wala, Diartikan sebagai nyanyian yang dibawakan dengan gerakan tari

0
2303

Wala dapat diartikan sebagai nyanyian yang dibawakan dengan gerak tari dalam budaya orang Matbat. Wala merupakan tradisi lisan dalam budaya suku matbat atau orang matbatsebagai suku asli di Misool, kabupaten Raja Ampat. Masyarakat di Misool secara luas mengenal wala sebagai lan batan o atau lagu tanah yang mengandung pengertian nyanyian yang dibawakan dalam bentuk tarian pada orang matbat yang berkisah tentang asal usul batan me/batan msool dan  persebaran asal usul dan kehidupan orang matbat dan segala bentuk peristiwa yang mereka alami. Wala  sendiri mengandung arti bernyanyi dan  bagi orang matbat wala dipandang  sebagai sesuatu yang dianggap sakral berkaitan dengan upacara sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Wala dianggap sebagai sesuatu yang sakral yaitu pada proses mendalami tradisi Wala dan peruntukan wala itu sendiri sendiri seperti untuk upacara adat tertentu. Pada proses seorang matbat mendalami wala maka ia akan dihadapkan pada  persyaratan-persyaratan yang akan dan harus dilewati sebagai seorang pemimpin atau pembawa Wala. Sedangkan peruntukanya, ada Wala yang hanya dibawakan pada saat upacara tertentu. Ada anggapan seorang pembawa wala hidupnya selalu dekat dengan alam dan juga sebagai seorang yang dapat berkomunikasi dengan dunia lain.

Kenyataan yang dapat kita temui pada kelompok suku yang ada di Papua, setiap proses ritual upacara adat selalu diikuti atau diiringi dengan nyanyian dan tarian. Konsep walapada orang matbat pada sisi tertentu sangat kuat dengan prosesi upacara baik yang berkaitan dengan masa remaja dimana seorang anak muda matbat memilih untuk mendalami tradisi wala dan juga peruntukan saat membawakan wala tersebut .

Wala dalam tradisi orang matbat di Misool dibagi dalam dua mode wala berdasarkan wilayah sebaran yaitu Wala yang dibawakan oleh kelompok matbat yang berada di bagian matahari naik atau Pun Munsa dan Wala yang dibawakan oleh kelompok matahari turun atau Pun Muncai. Perbedaan yang sangat mencolok pada dua wilayah ini yaitu pada hentakan kaki dan irama yang dibawakan yaitu dibagian matahari naik (pun munsa) irama sedikit halus dengan hentakan kaki mengikuti irama sedangkan pada kelompok matahari turun irama atau tempo agak cepat dan sedikit kasar diikuti dengan adanya hentakan kaki sebagai antara.

Dalam penyampainnya wala dilakukan  secara lisan diikuti dengan gerak yang oleh orang matbat disebut sibilwala (dansa wala). Sebagai kajian  folklor wala merupakan tradisi  lisan di mana dalam kajian isi dari  wala ditemukan berbagai pesan dan nilai  berupa kritik ataupun nasehat  yang berkaitan dengan aspek-aspek tertentu dalam  kehidupan orang matbat  yang sifatnya simbolik, juga isi dari wala  menceritakan kejadian yang di dukung dengan berupa bukti tempat-tempat tertentu sebagai penguat kejadian  atau sebagai pengingat yang dibawakan dalam wala tersebut (mnemonic device).

Tulisan ini hanya sebagai pengantar atau pintu masuk untuk lebih memahami dan mendalami wala terutama berkaitan dengan struktur dan analisa semiotic dalam wala.

 

Asal Usul Wala

Berbicara asal usul Wala berkaitan dengan mitologi orang Matbat yang berhubungan  dengan  asal usul terjadinya Batanme atau pulau Misool dan orang Matbat. Dalam pelaksanaan dansa adat wala  ada tahapan-tahapan, saat sebelum seorang baut memimpin wala kemudian persyaratan ataupun kehususan pada marga tertentu sebagai penutur merupakan bagian dari cerita asal usul orang Matbat yang tertuang dalam walaterutama wala batano yang menceritakan kejadian asal mula terjadinya pulau Misool atau Batanme dari gunung ke gunung, tanjung ke tanjung, sungai atau kali-ke kali dengan kejadian-kejadian. Jadi berbicara wala berarti berbicara sejarah asal usul orang Matbat.

 

JENIS, BENTUK DAN FUNGSI WALA

Jenis-jenis Wala dari hasil identifikasi karakteristik wala dapat kami uraikan berdasarkan pada teks atau isi dengan kriteria-kriteria yang kami pakai untuk menyusun kategori-kategori jenis-jenis Wala adalah berdasarkan isi / kandungan teks Wala dan, berdasarkan ranah atau situasi saat pembawaan Wala tersebut. Berdasarkan kandungan atau isi teks, Wala dapat kami kelompokkan menjadi :

1. Wala Batan o / Wala Sejarah; adalah Wala yang mengisahkan tentang asal usul terjadinya  pulau Misool. Selain Wala yang mengisahkan tentang asal usul pulau Misool ada juga Wala yang mengisahkan peristiwa tentang pemimpin adat orang Matbat seperti bagaimana mereka mengisahkan Sangaji Mathafi sebagai  seorang pahlawan pemberani.

2. Wala Nasihat dan Puji-pujian ; adalah wala yang isinya berisi nasihat dan biasanya menunjuk langsung pada masalah. Seperti bila ada konflik antar keluarga biasanya mereka membawakan wala yang isinya bagaimana menghindari konflik dan suasana yang indah dalam hidup bersama. Sedangkan Wala puji-pujian biasanya masih berkaitan dengan tanah leluhur, orang tua, pengagungan kepada tamu dan saat kedukaan. Ke dua Wala ini paling sering di temui dalam teks Wala dalam kehidupan orang matbat

Wala Rekreatif; adalah Wala yang teksnya berisi ungkapan-ungkapan sebagai pembangkit semangat, memberi motifasi dalam melaksanakan pekerjaan tertentu yang membangkitkan kesenangan bagi yang mendengar. Seperti saat mereka membangun rumah terutama pada saat menutup bagian atap dan saat menarik perahu baru yang selesai dibuat.

 

 

*—————–

Tarian Wala adalah tarian sacral yang hidup berkembang bersama dalam budaya suku Matbat di Kepulauan Misoal Raja Ampat, terutama di kampung Tamulal, Falley, Lenmalas. Taria Wala atau Sibi Wala ini dimainkan pada saat pengukuhan pemimpin adat, penutupan tahun, membangun rumah. Waktu dulu wala hanya dimainkan dengan persetujuan pemimpim Adat atau orang yang dituakan oleh suku Matbat (Sangaji Matbat) melalui rangkaian ritual dan hanya tertentu. Dengan sendirinya masyarakat Matbat sangar menghargai tarian ini yang merupan warisan turun temurun. Tarian ini dilakukan baik laki-laki maupun kaum perempuan dan tidak menentu jumlahnya. Tarian ini dibawahkan diatas papan nibun dengan hentakan kaki yang menggambarkan kegembiraan atas apa yang diberikan sang pencipta dan diiringi ungkapan yang menceritakan asal muasal terjadinya batan me (pulau Misoal). Tarian ini juga mengungkapkan tentang pentingnya menjaga warisan leluhur nenek moyang. Nyanyian dalam tarian Wala ini juga mengisahkan tentang betapa kaya raya Raja Ampat jauh sebelum banyak peneliti mendatangi wilayah saat-saat sekarang. Salah satu nyanyian yang mengiringi tarian Wala mengisahkan. ?Ada seekor burung yang bercerita tentang seorang ibu yang sedang memancing ikan dan mendapat banyak sekali ikan hingga memenuhi noken-nya (sejenis tas rajutan yang umum digunakan masyarakat asli Papua). Keesokan harinya ibu itu kembali memancing tapi ia sudah tidak mendapatkan seekor ikan pun dan akhirnya ia pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia berbaring dirumahnya sambil melindungi wajahnya dari sengatan sinar matahari dengan meletakan tangan di keningnya dan menyanyikan lagu Wala sebagi ungkapan kesediannya kepada para leluhurnya karena tidak mendapatkan hasil tangkapan. Para penari pria menggunakan lembaran kain yang terbuat dari kulit kayu untuk menutupi alat vital mereka. Asesoris lain berupa ikatan kepala warna merah dan kuning yang terbuat dari kain yang telah dilukis dengan motif khas orang Matbat. Setiap lengan penari baik pria maupun wanita dihiasi dengan dedaunan. Noken dan manic-manik merupakan pelengkap untuk mempercantik diri. Kostum untuk kaum wanita pada atasannya menggunakan kain warnah pituh dan untuk bawahannya menggunakan sarung atau selendang. Formasi dalam tarian Wala Sibi ini sangatlah sederharna hanya maju dan mundur sambil memutar-mutarkan badan. Hentakan kaki merupan hal yang utama dalam tarian ini.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901084

Nama Karya Budaya : Wala

Provinsi :Papua Barat

Domain :Seni Pertunjukan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda