Usaba Dimel Desa Adat Selat, Sebuah desa dengan kondisi pertanian

0
2382

Desa Pakraman Selat adalah sebuah desa dengan kondisi pertanian dan wilayah yang subur sehingga Desa Pakraman Selat disebut sebagai Lumbungnya Pura Besakih dan Pura Pasar Agung dimana Desa Pakraman Selat adalah tempat untuk menampung hasil panen atau pajak sawah yang nantinya digunakan sebagai pelaksanaan upacara dan pemeliharaan Pura Besakih dan Pura Pasar Agung yang tertuang dalam Prasasti Selat B. Dengan landasan tersebut, masyarakat memiliki upaya untuk mewujudkan rasa syukur atas hasil panen yang didpat melalui rangkaian upacara, salah satunya Usaba Dimel. Usaba berarti pertemuan, pesta atau jamuan sedangkan dimel dalam Bahasa Indonesia berarti sawah, sehingga Usaba Dimel dimaknai sebagai upaya melakukan perjamuan atau upacara persembahan atas hasil di sektor persawahan.

Usaba Dimel dilaksanakan setiap tahun biasanya 27 hari setelah Usaba Dalem Puri di Besakih. Dalam pelaksanaanya Usaba Dimel atau sering pula disebut Aci Dimel rangkaiannya meliputi :

1. Ngepitu : aci yang dilaksanakan di Pura Puseh di depan Stana Ida Ratu Sakti Gunung Agung Pura Puseh oleh Desa Cakcakan Bibit sebagai bentuk permohonan ijin dan kesiapan masyarakat menyongsong Usaba Dimel.

2. Ngoncang : rangkaian kegiatan yang dilaksanakan setelah aci ngepitu oleh muda-mudi di masing-masing banjar dengan memberikan hiburan berupa tarian ataupun seni tabuh dengan mengelilingi desa.

3. Aci Nyaga Nyungsung : dilaksanakan 6 hari setelah aci ngepitu dengan tujuan untuk nguningayang (mempermaklumkan) kepada Idan Sanghyang  Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Ida Betara Pertiwi bahwa masyarakat Selat sudah siap melaksanakan usaha merawat dan melestarikan kesuburan lahan termasuk pula Usaba Dimel.

4. Nguit Toya : dilaksanakan 3 hari setelah Aci Nyaga Nyungsung yang bertujuan menghaturkan bakti kehadapan Ida Betara Wisnu sebagai dewa kesejahteraan yang memberikan air untuk pengolahan sawah.

5. Meboros Lan Nagingin Pulu : Aci meboros lan nagingin pulu dilaksanakan pada tahun yang berbeda, yakni Meboros pada tahun caka genap sedangkan Nagingin Pulu pada tahun caka ganjil. Meboros menggunakan sarana berupa bodag dan jaring yang bermakna sebagai upaya memohon anugerah agar segala bentuk tanaman dihindarkan dari hama penyakit atau memperoleh kesuburan dari mulai menanam, memelihara sampai memanen.

6. Aci Petabuhan : Aci ini dilaksanakan 3 hari menjelang puncak Usaba Dimel. Pada pagi hari para warga utamanya kaum wanita menghaturkan tenge (simbol bhuta kala) yang dibuat dari jenis dedaunan (daun gungung, daun tiying/daun bambu, gegirang) yang diikat mejadi satu dan digambari simbol bhuta kala. Tenge ini diletakkan di beberapa tempat seperti dapur, pelinggih, gerbang rumah yang mana pada sore hari semua tenge-tenge ini dikumpulkan kembali dalam wadah berupa sarang (daun aren yang dirangkai berbentuk kerucut digunakan sebagai alas membuat jajan uli). Pada sore hari semua tenge yang sudah dikumpulkan kemudian diletakkan depan pintu gerbang rumah dilengkapi dengan segehan dan api sambuk dengan tujuan semua bhuta kala akan meninggalkan rumah dan penghuninya menuju ke Bale Agung supaya warga bisa melaksanakan upacara Usaba Dimel dalam keadaan bersih lahir batin tanpa ada gangguan dari para bhuta kala. Pada Aci ini pula dilaksanakan tradisi Siat Sarang oleh kaum lelaki di perempatan desa.

7. Puncak Usaba Dimel : pada hari ini dilaksanakan persembahyangan oleh seluruh masyarakat Desa Pakraman Selat yang terbagi menjadi 3 tahapan persembahyangan yakni pada subuh dengan sesajen untuk memohon tirta amerta yang akan digunakan untuk persembahyangan di rumah masing-masing maupun di sawah. Pada siang hari kembali warga menuju Pura Dalem untuk bersembahyang dengan jenis sesajen berbeda yakni khusus bagi masyarakat yang akan melunasi hutang niskala akan menghaturkan sesajen buntilan dalam ukuran besar. Pada malam harinya kembali warga melaksanakan persembahyangan yang ditujukan kepada Bhatara Sakti Gunung Agung berupa banten sokan yang dipikul oleh kaum lelaki. Setelah selesai persembahyangan banten sokan tersebut dibawa kembali kerumah sambil berteriak “oborin” dan sebelum memasuki rumah harus disambut dengan api (oborin) dan segehan.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901007

Nama Karya Budaya :Usana Dimel Desa Adat Selat

Provinsi :Bali

Domain :Adat istiadat masyrakat,Ritus dan Peyaan-perayaan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda