Tudung Manto

0
3137

Asal mula penyebutan pemakaian tudung oleh perempuan Melayu dapat ditemukan dalam naskah Sulalatus Salatin. Tudung manto telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Abdullah Muayat Syah yang pernah memindahkan ibukota kerajaan Melayu Johor-Riau ke pulau Lingga pada tahun 1618, dengan alasan menjauhkan diri dari pengaruh Aceh. Hasil penelitian juga menyimpulkan bahwa tudung manto baru ada pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I (1722-1760). Pada masa ini pusat pemerintah Kerajaan Melayu Johor-Riau berada di Hulu Riau. Pulau Lingga pada masa ini dipimpin oleh megat kuning anak Datuk Megat Merah, yang disebut-sebut berasal dari Tanjung Jabung Jambi. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai Suku Mantang, Suak, Tambus dan Nyenyah. Pada masa Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I ini, disebutkan bahwa perempuan Melayu di Daik ini telah mengenakan kain penutup kepala yang disebut melayah atau tudung. Keberadaan melayah sebagai penutup kepala diperkirakan sebagai hasil enkulturasi dengan budaya Arab dan India.

Tudung manto merupakan kelengkapan pakaian adat perempuan Melayu Daik, berupa kain tipis penutup kepala yang terbuat dari berbagai jenis kain seperti kain kase, kain sifon, kain sari, dan kain sutera dengan warna tertentu seperti kuning, hijau, merah, hitam dan putih. Ciri khas utama tudung manto adalah hiasan tekat berbagai motif yang dibuat menggunakan kawat lentur seperti benang berwarna perak ataupun emas yang disebut genggeng atau kelingkan. Kelingkan adalah hiasan wajib dalam pembuatan tudung manto, dan tidak boleh diganti dengan bahan hiasan lainnya.

Pada zaman kerajaan, bahan pembuatan tudung manto diproduksi sendiri oleh pengrajin tenun dan tembaga di Daik. Karena mudahnya mendapatkan bahan baku, kain sari atau kain kase juga dipakai untuk membuat baju kurung yang disebut baju genggeng, yaitu pakaian perempuan Melayu Daik yang terbuat dari kain kase, kain sari atau kain sutera yang diberi hiasan tekat kelingkan. Baju genggeng ini juga dihiasi dengan motif-motif yang sama untuk hiasan tudung manto. Sejak pindahnya ibu kota kerajaan Melayu Riau Lingga ke Pulau Penyengat, bahan-bahan pembuatan tudung manto sudah tidak diproduksi lagi di Daik. Kain sari, sutera dan kelingkan dibeli dari Singapura atau Malaysia dengan harga yang cukup mahal.
Pekerjaan membuat tudung manto diawali dengan menegangkan kain bahan dengan bantuan kayu pembidang, benang penarik dan kain bantu. Kayu pembidang biasa dibuat dengan ukuran lebar 80cm dan panjang 160 – 170cm. Untuk menarik kain bahan, biasanya digunakan benang wol yang kuat dan diikatkan pada kain bantu yang disebut kain siba, yang terbuat dari beberapa lapis kain katun. Setelah kain bahan menjadi tegang, dilanjutkan dengan menekat kelingkan emas atau perak pada kain bahan sebagai hiasan. Menekat kelingkan berarti menyulam kelingkan pada kain bahan tudung manto dengan bantuan jarum sulam (jarum khusus yang dibuat dari perak murni), sehingga membentuk motif tertentu sesuai dengan pola yang telah dibuat. Motif hias yang pertama dibuat adalah garis paling luar dari motif tudung manto, yaitu dua buah garis yang dibuat disekeliling kain bahan yang berfungsi sebagai pembatas motif tengah tudung manto. Kedua garis ini biasa disebut dengan istilah tali air atas dan tali air bawah.

Diantara kedua tali air terdapat motif yang disebut bunga kaki bawah. Motif ini dibuat saling menyambung disekeliling kain tudung manto. Motif yang digunakan untuk bunga kaki bawah diantaranya motif awan larat dengan kelok paku, motif bunga pecah piring dengan kelok paku, motif itik pulang petang dengan bunga pecah piring, motif kantan setangkai, motif kelopak daun, motif semut beriring, motif awan larat dan bunga tanjung, motif awan larat dengan pecah piring, motif kelok paku dan bunga kangkung, bunga cengkih dengan kelok paku, motif wajik, serta motif kelok paku dengan bunga kundur. Semua motif bunga kaki bawah pada tudung manto diramaikan dengan penambahan motif berbentuk bulat kecil seperti titik yang disebut mutu. Motif ini berfungsi untuk mengisi kekosongan pada motif bunga kaki bawah, bunga pojok maupun bunga tabur.

Selain memakai motif bunga kaki bawah yang dipelajari turun temurun dan telah berlaku umum, saat ini pengrajin tudung manto dan tokoh budaya di Daik berusaha menciptakan beberapa motif kreasi yang digunakan sebagai hiasan bunga kaki bawah. Penciptaan motif ini diakui oleh para pengrajin sebagai pekerjaan paling sulit, karena membuat sebuah motif hias Melayu tidak boleh dilakukan sembarangan. Pembuatan motif tudung manto yang bersumber dari binatang harus disamarkan. Dalam alam fikir masyarakat Melayu Daik, binatang tidak boleh berada/terletak diatas kepala, karena ini bermakna merendahkan derajat manusia dibandingkan hewan. Bila hal itu dilakukan, maka orang yang memakai dinilai tidak memiliki harga diri. Oleh karena itu, binatang yang dijadikan simbol atas makna tertentu sedemikian rupa dibuat secara abstrak. Tidak boleh ada bagian tubuh binatang tersebut yang dibuat dengan jelas. Semua harus disamarkan dan digabung dengan bentuk-bentuk lain -yang juga bermakna bagi orang Melayu Daik- untuk menambah keindahan. Sebagai contoh : motif itik pulang petang yang digabung dengan motif kelok paku, sehingga menjadi semakin samar namun tetap indah.

Pembuatan motif harus merujuk kepada segala sesuatu yang ada dalam lingkungan alam Melayu, dan harus mengandung makna tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan oleh pembuat motif. Motif yang dibuat berdasarkan sesuatu yang tidak diketahui atau tidak pernah dijumpai oleh orang Melayu dalam kehidupan mereka, tidak akan diterima oleh masyarakat, dan dianggap sebagai motif yang tidak memiliki makna. Tokoh budaya di Daik mengatakan bahwa ketatnya aturan pembuatan motif hias tudung manto dimaksudkan untuk menjaga motif-motif yang sudah menjadi ciri khas tudung manto.
Penggabungan beberapa motif dasar juga boleh dilakukan selama pembuat motif mampu memaknai setiap motif secara tepat. Kesulitan pemaknaan menjadi ketakutan tersendiri bagi para pengrajin tudung manto yang ada di Daik saat ini. Oleh karena itu, para pengrajin lebih cenderung menggunakan motif lama dan sangat berhati-hati apabila ingin membuat atau menggabungkan beberapa motif tradisional. Beberapa motif kreasi baru yang digunakan sebagai bunga kaki bawah adalah motif kreasi kelok paku, dan kelopak bunga yang ditambah dengan sulur-suluran. Berbagai motif baru yang telah dibuat hanya disebut sebagai motif kreasi.