Tradisi Adat Istiadat Perkawinan Masyarakat Melayu, Tradisi Basuh Lantai

0
7146

Kabupaten Lingga pernah menjadi pusat kerajaan Melayu lebih kurang 113 tahun (1787-1900). Selama dalam kurun waktu tersebut di Daik Lingga tidak saja menjadi pusat pengembangan adat dan budaya Melayu tetapi juga pengembangan Agama Islam. Salah satu adat budaya yang di bina dan dikembangkan adalah adat istiadat perkawinan Melayu sampailah pada tahapan pasca perkawinan seperti pada tahap  kehamilan dan persalinan.

Pemikiran  masyarakat tradisional, biasanya masih sederhana, dan lazim dikenal dengan cara pikir secara mistis, alam pikiran mistis merupakan alam pikiran yang timbul oleh ketegangan antara manusia dengan alam. Ketika itu manusia tidak mampu mengenal berbagai peristiwa atau kekuatan alam dengan kemampuan pikiran, maka muncul pembayangan tentang misteri alam. Daya imajinasi itu berhasil membentuk pembayangan-pembayangan tersebut menjadi berbagai cerita. Dengan cerita tersebut, berbagai ralitas alam seakan-akan telah diterangkan. Melalui cerita-cerita itu berbagai peristiwa atau misteri alam telah mendapatkan pembenaran. Cerita-cerita itu telah dipandang sebagai keterangan atau penjelasan berbagai rahasia alam yang belum terpecah oleh pikiran manusia. Karena itu berbagai peristiwa alam telah dibuatkan ceritanya, sehingga seakan cerita itu telah terbukti. Padahal sebenarnya cerita itu hanya sekedar rekaan. Apabila cerita-cerita semacam itu telah diterima sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat, maka cerita itu meningkatkan menjadi mitos. Mitos merupakan suatu keyakinan tentang kebenaran sesuatu, tanpa perlu diuji atau diteliti lagi. Jika mitos itu diberi atau dikokohkan dengan upacara, maka cerita-cerita itu akan dipandang sesuatu yang sakral, sehingga sebenarnya sudah telah menjadi semacam kitab suci dalam kepercayaan primitif. Dengan proses rupa itu maka terbentuklhah alam pikiran mistis, hasilnya merupakan kepercayaan yang muncul dan ditaati oleh masyarakat pendukungnya, sehingga hal tersebut menjadi suatu tradisi.

Alam pikiran masyarakat melayu juga telah melalui lintasan pikiran yang demikian. Alam pikiran orang Melayu juga telah memberi bekas, bagaimana agama/kepercayaan pernah menjadi suatu sistem nilai dalam kehidupan mereka. Pada masa lalu orang Melayu juga memuja alam. Benda-benda dipandang mempunyai kekuatan gaib, mempunyai semangat atau mempunyai roh. Kekuatan gaib itu dipandang berasal dari makhluk halus yang dikenal dengan berbagai nama seperti hantu, mambang, jembalang, dan peri. Tiap pohon dipandang mempunyai mambang, sebab mambang itulah yang menjadi kekuatan gaib dari pohon itu, bagaikan semangat roh dalam jasad. Berbagai tempat dipandang mempunyai penghuni seperti hantu, jembalang , sehingga tempat-tempat itu mampu memperlihatkan suatu kekuatan gaib. Demikianlah alam pikiran ini dikenal dengan istilah animisme dan dinamisme, telah bertumpu kepada kepercayan terhadap berbagai makhluk halus yang dipandang dapat memberikan kekuatan gaib terhadap benda-benda.

Karena mereka  merasa aman atau memperoleh jaminan keselamatan dari mitos yang berisi cerita tentang makhlus halus dan benda-benda yang dipandang aneh itu, maka sejumlah benda yang dianggap mempunyai kekuatan gaib telah dipuja. Segala yang sakti boleh dikatakan mempunyai aspek religius, sebab semua yang sakti telah dipuja. Konsep kepercayan pada masa itu adalah ketergantungan manusia kepada benda-benda yang sakti, yang jika dipuji dianggap mampu memberi keselamatan atau tidak menimbulkan marabahaya.

Dalam pandangan masyarakat melayu pada masa lalu alam ini dihuni oleh makhluk halus, manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Makhluk halus tersebut dibayangkan hidup seperti manusia, mempunyai anak, ibu, bapak, rumah tangga dan sebaginya. Rumah tangga makhlus halus itu adalah berbagai tempat atau benda-benda yang bila dihuninya akan mempunyai ber bagai kekuatan yang luar biasa dalam bentuk perisrtiwa alam, maka makhluk halus mempunyai posisi lebih tinggi daripada manusia. Itulah sebabnya kekuatan makhluk halus gaib (halus) yang nampak melalui alam disebut juga sebagai kekuatan supernatural.

Secara keseluruhan masyarakat Melayu, khususnya di Daik masih percaya terhadap berbagai jenis makhluk gaib (halus) yang juga disebut sebagai orang halus, terdiri dari jin, mambang, dewa (deo), jerambang, jembalang, orang bunian. Mereka percaya sebagian makhlus gaib tersebut ada yang baik, dan ada pula yang jahat. Makhluk halus yang baik mereka jadikan sahabat, dan untuk yang jahat mereka upayakan jangan mengganggu masyarakat. Untuk itu mereka melaksankan berbagai upacara / ritual, agar yang baik tetap menjadi sahabat, dan sebaliknya yang jahat tidak mengganggu atau mendatangkan bencana/musibah. Karena menurut kepercayaan orang Melayu di Daik, makhluk halus dapat membawa kebahagiaan dan dapat pula mendatangkan bencana seperti halnya upaca basuh lantai yang ada dan masih dilaksanakan masyarakat di Daik

Basuh Lantai adalah mencuci, membersihkan lantai .Tradisi Basuh Lantai ini dilakukan secara turun – temurun oleh masyarakat Kabupaten Lingga pada umumnya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui Tradisi Basuh Lantai, keluarga yang bersangkutan menjadi bersih total baik dirinya maupun lingkungannya. Bukan hanya lahirnya saja tetapi juga bathinnya. Dengan melakukan Tradisi Basuh Lantai keluarga yang bersangkutan  akan terhindar dari berbagai malapetaka yang ditimbulkan oleh berbagai kekuatan gaib yang dipercayai. Tradisi Basuh Lantai ini termasuk daur hidup (lingkaran hidup individu), Tradisi ini tidak saja dilakukan oleh sesorang atau individu akan tetapi dihadiri oleh kerabat, tetangga, tokoh masyarakat, ulama dan handai taulan.Tradisi Basuh Lantai mengandung nilai – nilai antara lain : kebersihan, ketelitian , kegotong royongan, kebersamaan, kerja keras, keteguhan, keselamatan, kehati – hatian dan Ketuhanan Yang  Maha Esa.

Biasanya masyarakat di Kabupaten Lingga melakukan tradisi Basuh Lantai yang berhubungan dengan proses kehamilan sang ibu pada usia kehamilan 7 bulan dengan  -menempah Bidan Kampung yang akan nantinya membantu proses persalinan/ kelahiran si cabang bayi. Tadisi Basuh Lantai dilakukan di kamar yang akan digunakan di tempat proses melahirkan dan akan dilaksanakan setelah 44 hari semenjak kelahiran si bayi dan tradisi ini diahiri dengan mengembalikan asam garam ke mak bidan kampong sebagai ungkapan terimakasih pihak keluarga yang telah berhajat.

Alat-alat dan benda-benda yang perlu dipersiapkan untuk upacara itu antara lain : 2 buah kelapa, semangkok padi, semangkok beras, 2 batang lilin, bedak langi, celak (penghitam bagian kelopak mata), sebuah sisir, sepinggan ( sepiring) pulut kuning, asam dan garam, sehelai kain, seekor ayam, jenis ayam tergantung pada jenis kelamin bayi. Jika bayi perempuan, disediakan ayam betina, jika bayi laki-laki disediakan ayam jantan, sebuah sanggan atau tempat kecil yang terbuat dari logam, benang tukal atau benang kasar, dan sebuah limau purut atau sejenis limau yang berkerut-kerut dan sebuah cermin.

Sebelum upacara dilakukan terlebih dahulu segala lat-alat dan benda – benda itu diatur dan disusun sesuai dengan langkah-langkah dan urutan upacaranya. Buah kelapa diukir sehingga berbentuk bulat lonjong. Setelah itu diletakkan didalam sanggan yang telah berisi padi. Dikiri kanan kelapa diikatkan 2 batang lilin. Setelah semua benda- benda itu disusun dan diletakkan secara teratur, maka mak bidanpun mulailah melakukan upacara tersebut. Sementara itu ibu dan bayi dipakaikan dengan pakaian yang baru dan rapi.

Mula-mula mak bidan membaca mantra tertentu sambil mulutnya berkomat kamit, menyembur kekiri dan kekanan. Kemudian diambilnya ayam, dipegangnya kepala itu perlahan-lahan kaki ayam dicakarnya kelantai, mula-mula dari depan ke kanan, kemudian dari depan ke kiri. Gerakan yang serupa itu dilakukannya sebagai 7 kali. Kemudian ibu jari tangannya yang kanan dimasukkan kedalam mulut ayam, langit-langit mulut ayam ditekan dengan ibu jari tersebut. Setelah itu ibu jari tadi ditekan diatas dahi bayi sebanyak 3 kali, kemudian paruh ayam di goreskan perlahan-lahan kebagian dahi bayi sebanyak 3 kali. Mula-mula digoreskan dari atas kekanan, kemudian dari atas ketengah dan seterusnya dari atas ke kiri. Selesai upacara mencakar ayam, dilanjutkan upacara mencuci lantai ditempat melahirkan.

Mula-mula kelapa yang telah dibersihkan kulitnya itu digolekkan diatas lantai dari kanan kekiri, langsung ke depan. Kemudian kelapa diambil, di goncang-goncang didekat telinga kanan bayi.

Sesudah itu dilanjutkan dengan upacara membedak dan melangi lantai. Setelah membaca mantra, bedak dan langi dimasukkan kedalam mangkok yang berisi limau purut, kemudian limau purut itu diperas airnya dicampukan dengan bedak langir itu. Kemudian campuran itu disiram keatas lantai sampai rata. Kemudian digosok. Setelah itu disiram dengan air bersih. Kemudian lantai yang sudah bersih itu diminyaki, disisir dan diberi celak. Sebelum mendadani lantai, bidan meminyaki dirinya sendiri. Setelah selesai didandan cermin, kelapa, lilin yang ada diatas sanggan tadi dikelilingkan oleh bidan pada daerah lantai yang sudah dibersihkan tadi.

Adapun makna atau simbol (lambang) dari perlengkapan upacara basuh lantai yang terdiri dari beberapa bahan tadi sebagai berikut :

  1. Ayam, apabila bayinya adalah laki-laki, maka dipilihlah seekor ayam jantan. Demikian sebaliknya, apabila bayinya adalah perempuan, maka harus dipilih seekor ayam betina. Makna simboliknya adalah bahwa disunia ini selalu diciptakan segala sesuatu oleh Tuhan, berpasang pasangan, seperti ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada baik dan ada yang jahat, demikian seterunya. Sedangkan tujuan disediakan seekor ayam adalah sebagai ganti darah yang telah keluar atau yang telah tertumpah, sehingga penunggu tanah atau setan tanah (jembalang) tidak akan selalu menagih/ menggoda/ mengganggu sang bayi tersebut. Itulah sebabnya kadang-kadang bayi sering rewel, menangis terus, selalu kurang sehat, maka ahal tersebut ada kemungkinan adanya gangguan dari jembalang (setan tanah), hal itu terjadi karena adanya persyaratan yang belum dipenuhi/ belum lengkap sewaktu ibu sehabis melahirkan,
  2. Padi, merupan lambang atau melambangkan semangat. Padi juga melambangkan atau sebagai simbol laki-laki. Sebaliknya beras melambangkan perempuan, padi dan beras dianggap sebagai dua hal yang berpasangan. Keberdaan beras karena adanya padi. Padi dan beras juga diartikan dengan rezeki, suatu keluarga dianggap banyak rezekinya, apabila juga mempunyai bannyak beras (padi). Sehingga dalam setiap keluarga selalu ada tersimpan persediaan beras (padi), biarpun sedikit tetap akan selalu diusahakan ada dalam persediaan.
  3. Benang, merupakan lambang dari rintangan atau halangan. Manusia hidup tidak bisa lepas dari berbagai rintangan atau hambatan, untuk itu manusia harus selalu waspada,selau hati-hati agar bisa melewati segala rintangan. Makanya dalam upacara basuh lantai, ada proses memutuskan benang. Maknanya agar sang anak agar bisa melewati segala rintangan, selalu bisa menyelesaikan masalah dalam hidupnya.
  4. Lilin, sebagai lambang penerang, sebagai pedoman dalam kegelapan. Maknanya agar hidup sang anak selalu dijalan yang terang, seterang cahaya lilin, tetap bisa berjalan meskipun dalam kegelapan karena memiliki pedoman atau pegangan, serta keyakinan dalam hidup ini.
  5. Kelapa, merupakan simbol kehidupan. Kelapa sangat mudah tumbuh menjadi tunas kelapa, tumas kelapa bisa tumbuh dimana saja. Maknanya agar sang anak bisa hidup dimana saja, bisa menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya. Kelapa juga sangat berguna dalam kehidupan, kelapa bisa dimanfaatkan untuk apa saja. Kelapa digoncangakan ketelinga anak. Apabila air kelapa bergoncang kuat, menandakan anak itu akan menjadi anak yang baik. Apabila kurang bunyinya berarti anak akan menjadi anak yang nakal.
  6. Cermin, sikat, dan sisir merupakan perlengkapan berdandan yang harus ada dalam kehidupan. Maknanya bahwa dalam hidup ini harus selalu dijaga kebersihan, kerapian, sebab dengan demikian semua itu juga akan berpengaruh pada kesehatan diri kita.
  7. Minyak langi,  terbuat dari gambir, asam, kapur,dan limau, kemudian ditumbuk. Minyak atau bedak  langi dimaksudkan sebagai ramuan untuk membersihkan diri agar terhindar dari gangguan makhluk halus, juga dimaksudkan sebagai penolak bala.
  8. Pulut/ketan kuning merupakan lambag laki-laki, sedangkan serabai adalah lambang perempuan.

 

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201900844

Nama Karya Budaya :Tradisi Basuh Lantai

Provinsi :Kepulauan Riau

Domain :Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda