Tradisi Adat Baku Pukul Manyapu di Negeri Mamala

0
3548

Baku Pukul Manyapu di Negeri Mamala
Baku Pukul Manyapu di Negeri Mamala

Tradisi Pukul Manyapu atau pukul sapu di negeri Mamala telah dilakukan secara turun temurun untuk mengenang keberhasilan warga desa setempat membangun masjid tanpa menggunakan “Ping” atau paku pada abad 17.

Menurut cerita mantan Raja Negeri Mamala, usai perang Kapahaa (1637-1646), rakyat dperintahkan oleh Belanda untuk turun dari gunung dan mendirikan kampung dan masjid di pesisir agar mudah diawasi.

Saat membangun masjid, warga kesulitan menyambung kayu-kayunya sehingga pekerjaan terbengkalai. Imam Tuni, seorang tokoh agama saat itu, melakukan puasa selama beberapa hari untuk memperoleh petunjuk yang diberikan dalam mimpinya saat tidur.

Dalam mimpinya Imam Tuni diminta untuk menyambung kayu-kayu tersebut menggunakan minyak “Nyualaing Matetu” atau yang lebih dikenal dengan minyak “Tasala”. Minyak ini kemudian digunakan untuk membasahi potongan kain putih yang dipakai menyambung kayu-kayu tersebut.

Hal ini dapat dibuktikan saat pembongkaran masjid tua di Desa itu, di mana ditemukan potongan kain putih pada setiap sambungan kayu maupun tiang yang tidak menggunakan “Ping”. Satu-satunya kayu yang menggunakan paku adalah Tiang Alif pada masjid tua itu.

Minyak yang oleh kalangan masyarakat Ambon atau Maluku lebih dikenal dengan sebutan minyak Mamala ini ternyata memiliki kasiat yang terbukti ampuh untuk mengobati penyakit patah tulang dan keseleo.

Untuk membuktikan keampuhannya ini, maka dilakukan uji coba pemukulan dengan menggunakan batng lidi mentah dari pohon Enau, dimana ternyata luka yang ditimbulkan akibat sabetan lidi menjadi sembuh setelah dioles minyak Mamala.

Minyak itulah yang kemudian digunakan untuk mengobati luka para pemain akibat bekas pukulan sapu lidi. Dalam tempo dua atau tiga hari lukanya akan mengering dan tidak meninggalkan bekas. Keberhasilan ini kemudian dirayakan dengan memilih waktu tepat berdasarkan hadits Nabu Muhammad SAW yaitu hai raya ketujuh atau 7 Syawal setelah lebaran dengan Tradisi Adat Baku Pukul Manyapu.

Disadur dari Kabar Timur, ed. Sabtu 25 Juli 2015, hal. 15