Tari Dampeng

0
1549

Dikisahkan bahwa tarian ini diciptakan oleh seorang Teungku bernama Teungku Gemerinting yang berasal dari Singkil yang kemudian merantau ke Pagaruyung. Dalam perjalanannya menuju Pagaruyung, ia melewati hutan. Pada saat malam tiba ia memutuskan untuk beristirahat di atas pohon. Kemudian dari atas pohon itu, ia melihat seekor elang terbang berputar-putar di atas kepalanya. Dari gerakan elang tersebut, Teungku Gemerinting menciptakan sebuah gerak tari yang melambangkan kekuatan dan keperkasaan elang di angkasa.

Tarian ini merupakan salah satu tarian persembahan pada masyarakat Suku Singkil. Tari ini biasa di pertunjukkan pada acara pernikahan sebagai rangkaian prosesi mengantar mempelai pria. Dahulu tarian ini ditarikan oleh 2 orang saja. Namun pada perkembangannya tarian ini kemudian ditarikan hingga oleh 8 orang. Jumlah penari haruslah genap karena beberapa gerak tari dilakukan secara berpasangan. Tarian ini pun menjadi simbolisasi gerakan melindungi raja (dalam hal ini mempelai pria atau marapulai dalam acara pernikahan). Tarian ini selalu diiringi dengan alat musik tradisional diantaranya gendang dendang dan bangsi. Selama perjalanan marapulai menuju rumah pengantin wanita atau dara baro, rombongan diiringi oleh musik tradisional tersebut.

Dalam gerakan tarian ini, khususnya pada upacara pernikahan, kita dapat melihat 2 hingga 4 orang penari melingkari mempelai pria dan menari berputar-putar lingkaran dalam dengan menggunakan langkah yang serupa dengan langkah silat. Kemudian, 4 orang penari lain menari melingkar di lingkaran luar. Kemudian, dalam rentak tertentu, seluruh penari di lingkaran dalam melakukan gerakan tari berpasangan dengan penari di lingkaran luar.

Penjelasan pada hal-hal yang berkaitan dengan kostum meliputi: model, nama perbagian dalam penggunaan bahasa lokal, sehingga tidak menjadi umum dalam bahasa Indonesia (ikat kepala, baju, celana luar, sarung pinggang), motif/gambar, dan 5 warna utama (merah, kuning, putih, hijau, dan hitam) yang sejatinya semua yang tersebut di atas memiliki makna filosofis ataupun simbolis atas nilai-nilai kehidupan masyarakatnya.