SUTRADARA FILM, SANG PERINTIS PEMBUATAN FILM ANAK-ANAK

0
1190

Dalam sejarah perfilman Indonesia, khususnya pada periode 1950–1964-an, ada beberapa tokoh perfilman dan karyanya yang tidak dapat dilupakan begitu saja, salah satu tokoh tersebut adalah Kotot Sukardi dengan karya filmnya yang sangat dikenal saat itu adalah “Si Pintjang” dan “Lajang– lajangku Putus.” Kedua film tersebut bertemakan semangat nasionalisme yang tinggi.

“Si Pintjang” merupakan film Indonesia pertama yang diputar pada Festival Film Internasional di Cekoslavia (Festival Film Karlovy-Vary, Ceko) pada tahun 1951. Film anak–anak ini pun menjadi catatan penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Film ini menceritakan Giman yang pincang sejak lahir. Ia anak keluarga petani yang berkecukupan, tetapi karena situasi pada saat itu perang, keluarganya pun porak-poranda. Giman terlunta–lunta, namun dengan keterbatasannya ia tetap berusaha mencari sesuap nasi. Dalam cerita tersebut digambarkan pula ayah dan kakaknya yang ternyata masih hidup, dan berhasil menemukan Giman, Si Pincang yang tinggal di asrama anak–anak telantar. Meski “Si Pintjang” adalah film anak–anak, namun di dalamnya menggambarkan perjuangan yang sarat dengan nilai–nilai ideologis, dengan genre “oldies drama” dan berdurasi 67 menit.

Film garapan Kotot lainnya berjudul “Lajang–lajangku Putus” (1958). Film ini menceritakan tentang layang–layang milik Amat (Nurdjojo) yang putus. Narasi film ini menonjolkan pentingnya persatuan Indonesia yang terdiri atas pulau–pulau dan suku-suku bangsa yang mendiami pulau tersebut. Melalui pengembaraan ke Mentawai, Jakarta, Jawa Tengah, hingga ke Bali dan lain– lain, Kotot ingin mengesankan bahwa Indonesia itu satu. Layang–layang itu dikejar Amat hingga ke Ambon dan ketika layang–layangnya kembali kepada Amat, Amat pun terbangun dari mimpinya.

Berdasarkan konsistensinya dalam berkarya, tampaknya Kotot Sukardi memiliki ketekunan dalam menggarap ide cerita, penata skenario, dan sutradara. Sebagai Pegawai Kementerian Penerangan di zamannya, sehingga memungkinkan sebagian besar karya–karya filmnya diproduksi oleh Perusahaan Film Negara (PFN). Seperti film “Si Pintjang” yang diproduksi tahun 1951, “Lajang–lajangku Putus” tahun 1958. Demikian pula dengan karya–karya Kotot lainnya, seperti film “Sepandjang Malioboro” (1951), “Si Mientje” (1952), “Djajaprana” (1955), “Ni Gowok” (1958), “Tiga Nol” (1958), “Kantjil Mentjuri Mentimun” (1959), “Melati di Balik Terali” (1961), “Dibalik Dinding Sekolah” (1961), “Sajem (sebuah kisah di kota Kudus)” dan “Sampai Berdjumpa Kembali.”

Selain sebagai sutradara film ia aktif berkarya dalam bidang kesusastraan Indonesia, ia banyak menghasilkan naskah sandiwara, antara lain mengisahkan tentang Bende Mataram yang berlatar belakang masa Perang Diponegoro (1825–1830). Sandiwara itu pun kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka dengan judul yang sama, yaitu “Bende Mataram”.

Hal yang patut dicatat adalah Kotot sangat produktif membuat film, tetapi jejak–jejak karyanya banyak yang tidak sampai ke tangan kita. Berdasarkan penelusuran terhadap beberapa caption foto koleksi keluarga, yang direproduksi oleh Yayasan Idayu, terbukti adanya fakta sejarah aktivitas Kotot dalam dunia perfilman Indonesia. Tepatnya sekitar tahun 1956 hingga 1959, Kotot dengan timnya tengah menyiapkan film tentang Ki Hadjar Dewantoro sebagai Tokoh Pendidikan Nasional yang diproduksi oleh PFN. Dari foto–foto yang ada itu, dapat dimaknai bahwa Kotot saat proses pembuatan film juga mendiskusikan berbagai hal tentang film itu langsung dengan narasumbernya, yaitu Ki Hadjar Dewantoro, Tokoh Pendidikan Nasional kita.

Dari data-data yang ada, dapat ditafsirkan bahwa sebagai seorang penulis cerita, penata skenario, dan juga sutradara, Kotot bersungguh– sungguh untuk mengangkat sebuah realitas sosial-politik ke dalam layar bioskop. Bagaimana ia mengangkat sosok Ki Hadjar Dewantoro, sebagai pelopor pendidikan, untuk masyarakat pribumi di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Atas jasa kepeloporan Ki Hadjar Dewantoro itulah, maka setiap tanggal 2 Mei—yang merupakan tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantoro—diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Pada saat itu, tampaknya sudah ada upaya dari beberapa insan perfilman untuk membangun emosi penonton yang bersifat dinamis, terlepas dari kondisi sosial politik yang sedang terjadi. Sebagai catatan dalam hal produksi, pada awal 1950-an terjadi lompatan produksi film nasional yang melonjak tajam. Lonjakan produksi itu terlihat, antara lain selama tahun 1949 diproduksi hanya 8 film, tetapi setahun kemudian meningkat menjadi 23 judul. Selanjutnya pada tahun 1951 jumlahnya menjadi 40 judul. Perusahaan film yang aktif memproduksi adalah Djakarta Film, Samudra Film Golden Arrow, Bintang Surabaya (semuanya milik pengusaha etnis Tionghoa). Juga perusahaan film yang dimiliki negara, seperti Perusahaan Film Negara, Kino Drama Atelier, dan yang terbanyak produksi Persari. Dengan iklim yang sangat kondusif di masa itu, hampir setiap tahunnya Kotot—baik sebagai penulis cerita, penata skenario maupun sebagai sutradara—aktif berkarya, setidaknya dalam kurun waktu selama 10 tahun lebih, yaitu sejak tahun 1951 sampai dengan 1961.

Satu ciri terpenting dari Kotot melalui karya-karyanya adalah semangat nasionalisme dalam skenario ataupun film yang disutradarinya dan sangat kental melandasi proses kreativitasnya, khususnya pada periode 1950–1964-an. Semangat tersebut direpresentasikan melalui sekitar 12 film, yaitu “The Long March” (Darah dan Doa),1950 (Sutradara Usmar Ismail, Produser Perfini); “Bunga Bangsa,” 1951 (Sutradara Nawi Ismail, produser Persari); “Enam Djam di Djogdja,” 1951, (Sutradara Usmar Ismail, Produser Perfini); “Sepandjang Malioboro,” 1951, (Sutradara H. Asby, Produser Persari); “Kafedo,” 1953 (Sutradara Usmar Ismail, Produser Perfini); “Lewat Djam Malam,“ 1954 (Sutradara Usmar Ismail, Produser Perfini); “Turang,” 1957 (Sutradara Bachtiar Siagian, Produser Rencong Film Corp. Yayasan Gedung Pemuda Medan (Refic Film, Abubakar Abdy); “Pedjuang,” 1960 (Sutradara Usmar Ismail, Produser Perfini); “Badja Membara,” 1961 (Sutradara Bachtiar Siagian, Produser Rencong Film Corp. Yayasan Gedung Pemuda Medan (Refic Film, Abubakar Abdy); “Di Lereng Gunung Kawi,” 1961 (Sutradara Tandu Honggonegoro, Produser Gema Masa Film); “Toha, Pahlawan Bandung Selatan,” 1961 (Sutradara Usmar Ismail, Produser Perfini); “Anak–anak Revolusi,” 1964 (Sutradara Usmar Ismail, Produser Perfini).