Sujana Priya: Menghidupi “Kedok” Hingga di Usia Senja

0
1975

Wayang wong dari Cirebon memang sudah sekarat, tetapi perajin “kedok”-nya masih tetap sehat di usianya yang merangkak senja. Adalah Sujana Priya yang tetap setia menghidupinya. Setiap hari, penari wayang wong cirebonan dari Desa Suranenggala Lor ini tiada henti mencungkil-cungkil potongan kayu jaran yang bergeletakan di teras rumahnya untuk dijadikan kedok alias topeng.

Sujana Priya adalah satu dari sedikit pembuat kedok— sebutan orang-orang Cirebon dan sekitarnya untuk topeng terbuat dari kayu—yang masih bersetia menjaga seni tradisi warisan leluhur mereka. Baginya, menjadi perajin kedok bukan semata karena ia bisa mendapatkan penghasilan darl penjualan aneka karakter kedok tersebut, tapi lebih dari itu apa yang ia lakukan menjadi semacam panggilan hidup.

Aneka jenis topeng itu ia tatah dengan pengerjaan sepenuh hati. Dimulai dari bonggol atau potongan kayu jaran yang telah ia persiapkan, Sujana pun duduk di atas dingklik kayu di teras rumahnya di gang sempit di Desa Suranenggala Lor. Pahat besar seperti bersaing dengan alat yang menyerupai cangkul mini, menyisir bonggol kayu berbentuk segitiga yang ia letakkan di atas bantalan kayu bulat-pipih. Merasa tak cukup leluasa kerja di teras rumah, menjelang sore Sujana beringsut, pindah ke halaman. Seperangkat alat tatah berupa pahat dalam berbagai ukuran dan bentuk, dari yang besar hingga yang paling kecil, ia gelar begitu saja. Sujana kembali bekerja, menorehkan pahatan sedikit demi sedikit, sampai kemudian terbentuklah wujud kasar karakter kedok—umumnya berhidung runcing dengan mata besar dan berbibir tebal— yang ia inginkan.

“Peralatan ini saya pesan khusus ke tukan pandai besi. Lebih dari dari 20 jenis ukuran dan bentuknya,” ujar Sujana sambil terus bekerja, tanpa menoleh ke lawan bicara yang mengunjungi pada satu sore di awal September 2019.

Setelah lama tak lagi jadi penari topeng dalam pertunjukan wayang wong cirebonan, lantaran panggilan untuk naik pentas kian langka, maka membuat kedok menjadi ruang pengabdian Sujana dalam upaya ikut melestarikan seni tradisi ini. Sesekali ia bisa tersenyum lebar bila ada kesempatan tampil unjuk kebolehan dalam membawakan tari topeng. Undangan untuk pertunjukan wayang wong memang semakin berkurang, tetapi menari dengan kedok menutup muka juga bisa dilakukan sebagai penari tunggal untuk jenis pertunjukan yang mereka sebut topeng babakan.

Menurut Sujana, dulu ada lebih 40 jenis kedok. Masing-masing memiliki karakter sendiri-sendiri. Sekarang malah berkembang hingga lebih dari 70 jenis kedok. Akan tetapi penggunaannya dalam seni pertunjukan, khususnya dalam tari topeng babakan, semua itu tetap saja masuk dalam lingkup apa yang ia sebut sebagai “panca wanda” (baca: topeng lima rupa): topeng panji, topeng samba/pamindo, topeng rumiang, topeng tumenggung/patih, dan topeng kalana/kelana. Tiap lingkup kategori itu merepresentasikan simbol perjalanan hidup “manusia Cirebon”.

Mengutip Theodoor Gautier Thomas Pigeaud (1889-1988) dalam Javaansche Volkvertoning, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT, kini Balai Pelestarian Nilai Budaya, BPNB) Bandung melaporkan, sejak dulu memang terdapat dua jenis tari topeng gaya cirebonan. Pertama, pertunjukan topeng yang di dalamnya ada cerita atau lakon wayang. Pegeaud menyebutnya groot maskerspel, yang dalam khazanah kesenian tradisional Cirebon dinamakan wayang wong cirebonan. Kedua, pertunjukan topeng yang hanya menggunakan tari-tarian tunggal (disebut Pegeaud sebagai kleine maskerspel), tanpa cerita khusus, yang kemudian dinamakan tari topeng babakan.

Adapun “panca wanda” yang mempresentasikan simbol perjalanan hidup “manusia Cirebon”, yang mendasari tarian topeng babakan, tervisualisasi lewat beragam karakter dari masing-masing jenis tari topeng yang disajikan. Pada topeng panji, bentuk karakternya halus berwarna putih-bersih seperti bayi yang baru lahir. Sementara pada topeng samba atau pamindo, bentuk topeng menggambarkan karakter manusia menginjak masa remaja, hiasan umumnya berwarna putih atau hijau dengan bibir sedikit terbuka; dalam wujud tarian, biasanya ia tervisualisasi lewat gerakan yang lincah, tapi juga centil dan lucu. Lalu pada topeng rumiang, karakter yang ditonjolkan simbol dari puncak keremajaan dengan hiasan rambut merah muda dan bibir tersenyum; gerak tarinya pun semakin terlihat tegas.

Dua jenis topeng lainnya lebih merepresentasikan “manusia Cirebon” yang sudah memasuki usia dewasa. Pada topeng temenggung atau kerap juga disebut topeng patih, wujud manusia dewasa itu digambarkan lewat mata yang terbuka, berkumis, dengan wajah lebar berwarna merah jambu; dalam pertunjukan tari, sang penari melengkapi penampilannya dengan penutup kepala berupa topi. Adapun pada topeng kelana, karakter yang ingin ditampilkan adalah sosok manusia dewasa yang bengis, angkuh dan terlihat sombong. Dengan tampilan kumis yang lebih tebal dengan sorot mata tajam, dan dalam tarian ia tervisualisasikan lewat gerak-gerak yang sangat ekspresif dan eksplosif.

Adalah keahlian Sujana untuk menerjemahkan karakter-karakter itu ke tiap kedok yang ia buat. Berkat ketekunan sejak muda belajar pada Ki Kandeg Padmajawinta, sosok seniman Cirebon serba bisa yang sangat melenggenda pada 1970-an, Sujana Priya pun diakui oleh banyak kalangan mampu mewarisi bakat dan keterampilan sang guru. Terlebih
di bidang pembuatan kedok, Sujana Priya bahkan disebutsebut sebagai salah satu murid Ki Kandeg yang konsisten dengan idealisme tinggi untuk bersetia pada tradisi pembuatan kedok sesuai pakem. Malah ada yang menyebut Sujana Priya semacam reinkarnasi Ki Kandeg. Tingkat keterampilan dan kualitas kedok buatan Sujana Priya dinilai setara dengan
garapan Ki Kandeg. “Ki Kandeg memang guru saya. Bukan hanya dalam hal membuat kedok, tapi juga dalam hal menari topeng dan menggarap wayang wong,” kata Sujana.

Meski dikenal luas sebagai seniman tradisi, khususnya sebagai pembuat kedok, tetapi pekerjaan tetapnya—sesuai yang tertera di kartu tanda penduduk alias KTP—Sujana Priya tetaplah seorang petani. Dari lahan sawahnya seluas setengah bahu atau sekitar 3.500 meter persegi, sekali panen ia bisa membawa pulang sekitar dua ton padi. Dari sanalah sumber utama penghidupannya, termasuk biaya renovasi rumahnya di Desa Suraneggala Lor yang sempat lima tahun ia tinggalkan dan “mengungsi” ke bangunan milik pemerintah di Dusun Astana Gunung Jati, Cirebon.

Sujana Priya memang berasal dari keluarga seniman tradisi. Paling tidak bakat dan minat seni yang ada padanya mengalir dari sang bapak, Suradi, yang smasa hidupnya dikenal sebagai penabuh karawitan, khususnya pada alat musik gambang atau saron. Kini, didampingi Asiti yang ia nikahi tahun 1973, Sujana Priya tetap bersetia pada seni tradisi yang ia hidupi sejak belia. Meski tidak begitu banyak “menyumbang” materi untuk hidupnya sehari-hari, akan tetapi tradisi yang ia geluti tersebut telah ikut memberinya kepuasan batin dan mengantarkan dirinya meraih Anugerah Kebudayaan kategori Pelestari dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber: Buku Profil Penerima Anugerah Kebudayaan 2019