Srimpi Teja, Lahir pada jaman Sri Sultan Hamengku Buwana VIII

0
2031

Tari Srimpi Teja itu lahir pada jaman Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, namun dimungkinkan merupakan perkembangan dari tari Srimpi Putri Cina yang diciptakan pada jaman pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VI. Latar belakang dibentuknya tarian ini dikarenakan setiap raja yang menduduki tahta kerajaan senantiasa mengadakan pembaruan – pembaruan pada bidang kesenian dan budaya, khususnya bidang tari dan karawitan. Maka tidaklah mengherankan apabila pada pemerintahannya Sri Sultan Hamengku Buwana VIII terbentuk Koreografi tari Srimpi Teja ini, yang sampai sekarang masih terpelihara dengan baik. Antara Tari Srimpi Ranggajanur, Srimpi Pramugari, Srimpi Muncar, Srimpi Marak Kasimpir, yang kesemuanya itu merupakan ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwana VIII.

Tari Srimpi Teja yang berasal dari Kraton Kasultanan Yogyakarta, merupakan salah satu bentuk tari klasik gaya Yogyakarta, termasuk juga dalam kategori tari sakral, karena tidak sembarang waktu dipentaskan, dan merupakan bentuk tari kelompok. Tari ini bertemakan peperangan, dan menampilkan ceritera Menak, yang menggambarkan perang tanding antara Dewi Rengganis dengan Dewi Widaninggar. Pengertian tari Srimpi di kalangan luar istana sering diasumsikan atau ditafsirkan secara keliru, dianggap bahwa setiap bentuk koreografi tari klasik yang ditarikan oleh penari putri disebut Tari Srimpi, atau untuk menyebut segala macam tari putri klasik gaya Yogyakarta dan Surakarta, yang biasanya ditarikan oleh empat penari putri. Kata ”srimpi”itu sendiri sinonim dengan bilangan empat, seperti halnya kata ”pendhawa” yang sinonim dengan bilangan lima. Soedarsono dalam buku Jawa dan Bali Dua Pusat Perkembangan Drama Tari Tradisional di Indonesia mengatakan bahwa Srimpi merupakan komposisi tari wanita keistanaan, yang pada umumnya ditarikan oleh empat penari wanita. Biasanya menggambarkan peperangan antara seorang prajurit wanita dengan prajurit wanita lain. Komposisi yang terdiri dari empat penari ini sebenarnya merupakan komposisi berpasangan, artinya dua orang penari memerankan seorang tokoh, dan dua penari lainnya memerankan tokoh yang kedua. Isi ceritanya banyak yang menggambarkan peperangan ( Ceritera Menak ) atau ceritera Mahabarata. Namun demikian bukan berarti bahwa tari srimpi itu selalu hanya ditarikan oleh empat penari putri. Sultan Hamengku Buwana V Mengubah tari srimpi yang agak lain, yang ditarikan oleh lima orang penari wanita. Adapun isi ceriteranya juga agak lain, sebab tidak menggambarkan peperangan. Srimpi yang penarinya lima ini ialah Srimpi Renggawati. Menceritakan pada waktu raja Anglingdarma dengan menyamar sebagai seeokor burung belibis putih mencari penjelmaan Dewi Setyawati yaitu Dewi Renggawati. Menurut pendapat guru-guru tari di kalangan istana, pengertian ”srimpi” sudah menunjukan satu bentuk tari klasik yang ditarikan oleh empat penari putri, juga untuk menyebut penari itu sendiri. Sedangkan ”Teja” diartikan sebagai ”wahyu” atau ”petunjuk”. Istilah ini menjadi inspirasi dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII sebagai seorang pemimpin untuk tini laku mencari ”Wahyu” agar mendapatkan kebaikan wahyu tersebut guna masyarakat yakni kesehatan, keselamatan, dan negeri yang makmur. Teja sebagai petunjuk diartikan sebagai penanda akan adanya sebuah peristiwa tertentu. Dalam hal ini, penanda akan adanya perselisihan diantara puteri Jawa dan puteri Cina.

Pada umumnya nama lengkap tari srimpi disesuaikan dengan nama gendhing utama ( gendhing pokok) pengiringnya. Demikian halnya dengan tari Srimpi Teja gaya Yogyakarta ini, karena gendhing pokok yang mengiringnya adalah gendhing Teja. Maka disebut tari Srimpi Teja. Jumlah penarinya delapan orang putri, empat orang sebagai penari Srimpi, dan empat orang lainnya berperan sebagai dhudhuk yang bertugas menyampaikan senjata berbentuk seperti perisai di sebbut jebeng dalam adengan perang kepada penari Srimpi. Terlebih dalam tata busana, rias, dan gerak empat penari tari Srimpi Teja tidak homogen. Perlu dicatat, meskipun motif-motif gerak keempat penari secara keseluruhan dapat dianggap sama, tetapi kenyataannya pada adegan tertentu menunjukan gerak yang berbeda. Justru di sinilah letak perbedaan tari Srimpi Teja ini dengan tari Srimpi yang lain.

Perbedaan di atas mungkin sekali disebabkan karena cariteranya menggambarkan perang tanding antara dua orang putri. Seorang menggambarkan putri dari negeri Cina, yang tentu saja latar belakang sosial budayanya berbeda dengan putri dari jawa, yang digambarkan melalui peran Dewi Rengganis. Demikian pula mengenai motif gerak tari antara putri Cina dan Dewi Rengganis ada sedikit perbedaan, misalnya juga nggrudha, tetapi gerakan tangan kanannya lebih tinggi ( Tawing ).

Srimpi Teja mempunyai ciri – ciri yang spesifik, yang cukup menarik, gerak nggrudha pada peran putri Cina ( Dewi Widaninggar ) pada tari Srimpi Teja ini agak berbeda dengan gerak nggrudha tari Srimpi Teja ini agak berbeda dengan gerak Nggrudha tari srimpi pada umumnya, yaitu dengan mengangkat tangan tawing, juga pada waktu melakukan gerak kicat erek aliyan nyangkol udhet, nyangkol udhetnya diganti dengan tawing njipit sampur. Gerak sojah yang identik atau ada persamaannya dengan orang yang sedang bersembah yang sesuai dari misi ceritera menak itu sendiri juga merupakan salah satu ciri dari srimpi ini. Tari srimpi Teja merupakan kelanjutan dari srimpi Muncar, yang keduanya bersumber pada Serat Menak. Gerak perpindahan Dhudhuk pada waktu memberikan jebeng ke pada penari Srimpi dengan gerak lampah Pocong juga merupakan ciri lain tari Srimpi Teja Gaya Yogyakarta ini.

Tari sebagai karya seni senantiasa erat kaitannya dengan ekspresi jiwa penciptanya dan latar belakang pendukungnya. Adapun fungsi tari tersebut antara lain adalah sebagai hiburan

raja, sekaligus merupakan penyajian nilai – nilai estetis dari penciptanya. Dalam hubungannya dengan pelestarian karya seni tradisi, maka penggalian atau pementasan kembali terhadap tradisi itu harus diupayakan. Hal ini tidak saja dapat memberikan gambaran tentang pola pemikiran dan budaya manusia yang hidup pada masa lampau, tetapi dari karya tersebut dapat digunakan sebagai titik pijak atau dasar untuk penciptaan karya selanjutnya. Pedoman atau aturan di dalam tari tradisi tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang beku atau tidak hidup, melainkan harus dipahami sebagai ciri tradisi yang perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman.

Ada beberapa macam motif gerak yang dipergunakan dalam tari Srimpi Teja, terdiri dari motif-motif gerak yang berdiri sendiri, dan motif gerak tari yang berfungsi sebagai penghubung (sendhi gerak tari atau sendhi). Motif gerak tari yang dipergunakan dalam Tari Srimpi Teja terdiri dari motif sembahan, mayang kanginan, nggrudha, ngenceng encot, ngendherek, ngusap suryan, kicat erek aliyan nyangkol udhet, ngundhuh sekar, ulap-ulap nyathok udhet, sojah, lampah sekar, kicat tawing kiwa, dan pang-kapang. Sedangkan sendhi gerak yang digunakan adalah ungkek, pendhapan, sirig, imbal, kengser, ngancap, dan nglereg. Iringan tari diiringi oleh seperangkat gamelan berlaras slendro. Suasana khas dihasilkan dari seperangkan instrumen di atas.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201900974

Nama Karya Budaya :Srimpi Teja

Provinsi :DI Yogyakarta

Domain :Seni Pertunjukan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda