SIAK “THE TRULY MALAY”

0
2872

DSCF0340
Sebuah fakta menandai perjalanan sejarah Siak sebagai pusat kebudayaan Melayu. Siak the truly Malay ungkapan yang tengah digaungkan Pemerintah Kabupaten Siak yang menjiwai grand design pengembangan budaya Melayu di Kabupten Siak. Syamsuar, Bupati Siak menandaskan bahwa budaya merupakan identitas suatu daerah. Di Riau, khususnya Kabupaten Siak budaya Melayu merupakan payung negeri. Oleh karena itu, budaya yang disandingkan dengan agama perlu dijunjung tinggi oleh semua pihak untuk menjaga perdamaian yang selama ini sudah terwujud. Arah visioner mewujudkan Kabupaten Siak sebagai pusat kebudayaan Melayu di Indonesia tahun 2025, adalah dengan meningkatkan pelibatan masyarakat untuk secara bersama menggali, membangun, dan mengembangkan kampung–kampung lama Melayu, demikian pula dengan kampung suku Asli (Sakai dan Akit). Kuatnya akar budaya Melayu tidak sekadar menopang kehidupan masyarakat, tetapi menjadi penguat karakter bangsa untuk menyikapi intervensi budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Pelibatan masyarakat sebagai pendukung kebudayaan Melayu menjadi sangat penting.

Kilas balik, Kabupaten Siak yang terletak di Riau, awalnya adalah sebuah kerajaan yang berdiri tahun 1723 dengan raja pertama Raja Kecil bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Bekas–bekas kerajaan ini, antara lain ditandai adanya bangunan Istana Siak yang berwarna kuning gading yang di dalamnya masih tersimpan berbagai macam benda koleksi kerajaan sebagai peninggalan sejarah. Perpaduan tiga gaya arsitektur Eropa, Arab, dan Cina terlihat nyata dari berbagai elemen bangunan dan ornamennya. Tatkala raja terakhir, Sultan Syarif Khasim II menyerahkan istana Siak sebagai aset nasional kepada Pemerintah Republik Indonesia sebelum akhir khayatnya, maka istana Siak yang berdiri megah itu pun, semakin kuat memiliki simbol payung negeri melayu di Indonesia.

Sebagai titik simpul sejarah budaya Melayu hampir di semua kampung- kampung, masih ada komunitasnya yang memiliki tradisi pembuatan alat-alat musik gambus sebagai pengiring tarian zapin, tarian khas masyarakat Melayu. Secara turun–temurun keahlian membuat dan memainkan alat musik tersebut masih dapat kita lihat dan saksikan dalam kompetisi pertunjukan zapin internasional yang sudah beberapa tahun diselenggarakan.

Sesuai dengan visi dan misi Kabupaten Siak, yaitu mewujudkan masyarakat Siak yang sehat, cerdas dan sejahtera dalam lingkungan masyarakat yang agamis dan berbudaya Melayu serta mewujudkan pelayaan publik terbaik, Bupati Syamsuar pun menekankan beberapa program yang sudah dan sedang dilaksanakan. Bahkan Syamsuar yang menyadari potensi Siak yang kaya akan nilai–nilai tradisi, sejarah, dan budaya, pemerintah telah mengusulkan daerah ini sebagai kawasan heritage city atau kota yang memiliki kekayaan budaya dan sejarah yang harus dilestarikan.

Beberapa strategi kebijakan yang diterapkan semuanya diarahkan pada terwujudnya masyarakat yang sejahtera, baik itu menyangkut perhatiannya terhadap budaya benda maupun budaya tak benda. Untuk budaya tak benda, pengembangan budaya Melayu melalui pengembangan sikap mental dan perilaku masyarakat berdasarkan nilai-nilai kerifan lokal. Contohnya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola museum sekaligus meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan kampung adat. Sedangkan untuk budaya benda, beberapa program terkait dengan pencatatan benda cagar budaya, pemeliharaan situs–situs sejarah purbakala, demikian pula dengan upaya merevitalisasi produk budaya Melayu termasuk kampung-kampung lama dan kampung suku asli (Sakai dan Akib).

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Siak berharap Siak menjadi destinasi wisata yang semakin ramai dikunjungi wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan ekonomi kerakyatan, sesuai dengan amanah Undang–Undang Nomor 10 tahun 2009, tentang kepariwisataan yang bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Beberapa periode terakhir ini banyak kegiatan yang bersifat nasional dari pemerintah pusat memilih Kabupaten Siak sebagai venue atau host.

Diharapkan ke depan generasi muda, semakin menyadari dan mencintai kekayaan budaya bangsa. Termasuk upayanya mengetahui dan menumbuhkan rasa bangga, bahwa di negeri Siak ini, pada masa yang lalu, pernah hadir dan jaya dalam naungan Kerajaan Siak. Fakta sejarah dan bukti peninggalan kerajaan nyata masih terlihat lengkap dan terpelihara. Kebanggan bahwa kita dapat melestarikan peninggalan kerajaan Melayu yang sangat besar, memiliki andil di dalam suasana persaudaraan, beradaptasi dengan semua suku bangsa, dan agama yang beraneka ragam, sehingga kedamaian pun dapat terpelihara dengan baik. Untuk menjaga komitmen ini sehingga memiliki manfaat yang berkelanjutan, sepatutnya dapat disarikan untuk menjadi muatan lokal. Seperti mata pelajaran sejarah Kerajaan Siak yang diberikan sejak dari SD sampai SLTA. Paralel dengan itu kemitraan yang dibangun, misalkan saat ini ada beberapa event tentang SIAK, Siak bermadah (menjelang ulang tahun SIAK), dialog–keterlibatan seluruh masyarakat bisa terlihat dari bibit–bibitnya, sehingga setiap tahun terlihat perkembangannya, festival zapin internasional melibatkan negara– negara jiran, dan lembaga adat Melayu Riau.

Meski ada beberapa kendala yang dihadapi terutama berkaitan dengan adat istiadat, yaitu masih saja ada sebagian orang yang berupaya menyederhanakan adat, tetapi pemerintah tidak boleh berhenti berupaya untuk selalu mengingatkan. Bupati Syamsuar tetap konsisten, bahwa tekad besar untuk mewujudkan cita–cita Siak sebagai pusat Budaya Melayu di Indonesia tahun 2025 sebagai implementasi dari grand desaign yang bersifat integrated antarsektor harus dapat menjadikan kebudayaan sebagai leading sector. Dan semua itu hanya dapat terwujud, apabila ada kerjasama dan uluran tangan dari semua pihak, baik pemerintah maupun swasta, serta peran aktif masyarakat.