SERAT JIWA: 40 Tahun Perjalanan Karya Biranul Anas Zaman

0
1215

Direktorat  Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Kesenian, dan Galeri Nasional Indonesia menggelar Pameran “Serat Jiwa” sebagai penanda 40 tahun perjalanan karya Biranul Anas Zaman. Pameran diresmikan tadi Malam pada hari Senin, 25 Maret 2019 Pukul 19.30 WIB di Ruang Serba Guna Galeri Nasional Indonesia, Jalan Merdeka Timur No.14 Jakarta Pusat oleh Hilmar Farid  selaku Direktur Jenderal Kebudayaan.

Dikurasi oleh Kurator Rizki A. Zaelani, ekshibisi ini akan menampilkan 20 karya seni serat (tapestry) hasil olah artistik Biranul Anas Zaman, serta artefak kain tenun tradisi Sumba) dan dokumentasi sejarah yang dikumpulkan Biranul Anas Zaman. Menurut Rizki, karya – karya tersebut menunjukkan rentang jejak dan jarak tahun penciptaan yang cukup jauh (sejak tahun 1980-an). Tema karya – karya yang ditampilkan pun berbeda, sebagian menunjukkan kecenderungan karya yang bersifat abstrak.

Tahun 1970-an, khususnya di Amerika, serat (benang, kain) digunakan sebagai medium ekspresi seni yang bersifat individual ter-bedakan dari kebisaan budaya yang menganggap kain (serat) sebagai pokok kebutuhan fungsional atau simbol – simbol nilai budaya yang bersifat komunal. Perkembangan seni dengan medium serat di tahun 1970-an merupakan hasil dari kajian ilmiah dibidang seni rupa dan berwatak puitis – estetis. Corak seni serat inilah yang diserap dan mulai dikembangkan di lingkungan seni rupa Bandung di ITB.

Salah satu karya Biranul Anas yang dipamerkan

Kain yang mencerminkan lembaran perjalanan karya Biranul Anas Zaman, terdiri dari dua jenis benang yang terjalin erat dan kuat pada dua arah sumbu bentangan (vertikal dan Horizontal). Perjalanan karya yang khas ini mengandung gambaran tentang kerangka berpikir yang mengandung sifat percabangan (split) dan pepasangan (duality). Gambaran ini menunjukkan proses pergulatan antara: pertimbangan dimensi personal yang khusus dan dimensi sosial yang bersifat umum. Kerangka berpikir dengan sifat bercabang dan pepasangan yang khas serta berfungsi secara produktif inilah yang membentuk dimensi intelektual Biranul Anas Zaman hingga dirinya memperoleh gelar penghargaan tertinggi secara akademik sebagai profesor dalam bidang kriya dan desain tekstil.