Sejarah dan Definisi dari Kesenian dan Kebudayaan Masyarakat Bonai, Burung Kwayang

0
3634

Peristiwa kesenian dan kebudayaan pada masyarakat Bonai umumnya terjadi secara turun temurun, dan secara fungsional bersifat sakral dan hiburan. Dalam budaya tertentu (sacral), pelaku seni dan budaya tercipta di lingkungan keluarga terdekat dan homogeny dalam satu turunan, bahkan pada laku tertentu hanya dapat terjadi pada satu garis turunan saja, misalnya kemampuan seorang kemantan biasanya akan turun pada anaknya atau kaum kerabat yang terdekat. Dalam kebudayaan, tingkah-laku kesenian seperti musik atau tari tidak berdiri sendiri, seperti yang terdapat pada upacara pengobatan  Bedewo, ada suatu prosesi atau bagian berupa musik dan tarian yang disebut Buwong Kuayang.

Orang Bonai merupakan komunitas yang hidupnya akrab dengan alam. Meskipun saat ini mereka sudah menganut Islam, namun praktik-praktik kepercayaan tradisional yang bersumber pada interaksi dengan alam itu masih dipertahankan sebagai suatu kekayaan budaya masa lalu yang karakternya sangat melekat pada kebiasaan dan budaya orang Bonai. Buwong Kuayang pada masa lalu memiliki peran sentral dalam kehidupan sehari-hari orang Bonai. Ia mengemban fungsi untuk mengobati anggota komunitas yang sekaligus sebagai fungsi sosial untuk memahami dan mengatasi persoalan sosial penyebab sakitnya seseorang dalam komunitasnya.

Orang Bonai di Ulak Patian yang diwariskan upacara Bedewo dari nenek moyang mereka, membawa budaya tersebut dari pemukiman mereka sebelumnya yaitu daerah hilir sungai Rokan. Puncak perpindahan mereka ke daerah Ulak Patian yaitu pada tahun 1935 di bawah pimpinan seseorang yang kuat bergelar bogodang bernama Mudo Kacak. Kelompok ini belum menganut Islam pada waktu itu, namun sudah mengetahui sedikit-sedikit tentang Islam.

Sejak perpindahan tersebut hingga saat ini kehidupan orang Bonai di Ulak Patian (Rokan Hulu) dan daerah Tanah Putih (Rokan Hilir) terus mengalami perubahan. Puak Melayu yang mayoritas dan beragama Islam di sekitar mereka memiliki pengaruh besar, interaksi antar puak ini menyebabkan komunitas Bonai memeluk Islam dan meleburkan diri ke dalam puak Melayu. Tradisi dan budaya lama yang kepercayaannya menganut animisme dan dinamisme perlahan ditinggalkan, meskipun ada pula yang menyesuaikan yaitu dengan cara merubah arah permohonan do’a-do’a yang semula kepada Dewa –Dewa beralih tujuan kepada Allah SWT sesuai agama Islam, yang satu diantara tradisi budaya itu ialah Tari Buwong Kuayang.

Salah satu keturunan dari Datuk Matendang, anak dari Leman yang bernama Rasyid diwarisi kemampuan Pemantan dari Ayah dan Kakeknya. Ia lahir setelah sekitar 13 tahun kelompok Bonai mendiami Ulak Patian. Di masa-masa kecil ia mengaku masih menyaksikan upacara Bedewo yang mempraktekkan pengobatan dengan tari Buwong Kuayang. Dan pada tahun 1990-an ia pula yang meneruskan kemampuan Pemantan dengan kelompoknya hingga sekarang. Pada masa Rasyid inilah pergeseran dan perubahan Buwong Kuayang dari fungsi upacara pengobatan menjadi pertunjukan. Diungkapkan oleh Rasyid bahwa dulu ia masih mampu mendatangkan roh de’o dalam upacara pengobatan, hal ini secara nyata dapat pula disaksikan ketika mereka memandikan bara api ke tubuh para pemantan tanpa rasa panas dan sakit.

Namun diperkirakan sejak tahun 1990-an itu juga pengobatan Bedewo sudah jarang sekali sebagai cara penyembuhan, karena sudah ada dokter dan puskesmas oleh pemerintah. Kemudian untuk lagu dan do’a-do’a permohonan tidak lagi murni tertuju kepada roh nenek moyang, akan tetapi disampaikan untuk rangkaian pertunjukan tanpa pengharapan untuk merasuk ke diri para pemantan.

Secara khusus, Tari Buwong Kuayang digubah dari ritual pengobatan Buwong Kuayang, dengan menghilangkan unsur-unsur magisnya oleh maestro Buwong Kuayang, Rasyid. Meskipun demikian perlengkapan dan prosesinya ditiru semirip mungkin dengan situasi aslinya, dengan penambahan unsur-unsur dramatis. Dalam versi ini, titik perhatiannya adalah menyajikan sebuah pertunjukan berupa nyanyian dan tarian dengan sebuah koreografi yang mengisahkan prosesi upacara pengobatan. Dramatisasi juga ditunjukkan dalam perlengkapan, misalnya pakaian. Para penari dan pemeran pemantan semuanya memakai baju kulit torok (terap), yang menguatkan kesan bahwa persembahan ini berasal dari orang Bonai, yang pada satu masa dikenal sebagai komunitas hutan yang memakai pakaian dari kulit kayu terap tersebut. Citra ini menguatkan pandangan orang luar pada orang Bonai mengenai eksotisme mereka.

Alat musik utama yang dipakai dalam pertunjukan ini adalah gendang senungko. Para penari berjumlah tujuh orang, semuanya laki-laki dan masing-masing memegang lotang di kedua belah tangan mereka. Lotang berupa dua bilah kayu yang dimainkan dengan diadu sehingga menghasilkan bunyi dengan irama khas menyertai irama pukulan gendang.

Properti pertunjukkan Tari Buwong Kuayang antara lain Balai Mukun yang menjadi properti utama dalam upacara Buwong Kuayang sebenarnya. Balai Mukun berbentuk rumah-rumahan yang dihias meriah dengan anyaman-anyaman daun kelapa. Tiang-tiang Balai Mukun juga dicat merah, membuatnya menjadi properti yang sangat menarik.

Pertunjukan dibuka dengan lagu pembuka dengan iringan gendang senungko.  Begitu lagu dilantunkan, para penari mulai menari di arena. Di tangan para penari tersebut lotang dimainkan seiring dengan irama gendang. Para penari menari dengan berbaris, menghentakkan kaki sesuai irama gendang dengan gerakan yang seragam.

Lagu demi lagu dinyanyikan, para penari terus menari, menggambarkan prosesi upacara Buwong Kuayang yang sebenarnya. Secara berurutan lagu-lagu roh de’o yang berdelapan dinyanyikan disusul dengan lagu-lagu roh de’o yang berlima. Irama gendang senungko yang monoton memang membawa penonton ke dalam suasana magis. Namun, seperti diutarakan sebelumnya, ini hanyalah pertunjukan, bukan sebenarnya, sehingga tidak melibatkan roh-roh de’o (dewa pelindung) yang dihimbau turun untuk mengobat pasien. Oleh karena itu, suasana pertunjukan lebih terasa.

Perbedaan antara pertunjukan dan upacara sebenarnya terletak pada kesan adanya ’skenario’. Tari-tarian yang ditampilkan menunjukkan gerakan-gerakan seragam yang terlatih dengan adanya koreografi yang mempertimbangkan dimensi artistik. Gerak tarian ini gabungan gerak yang khas yaitu Burobah Bopulun, Olang Bubega, Tupai Bugoluik, Langkah Tigo Bungo Silek. Sementara dalam upacara yang sesungguhnya, tarian cenderung menjadi ekspresi yang dipercaya dituntun oleh kekuatan magis dan menggambarkan citra roh de’o dalam lagunya.

Pertunjukan Buwong Kuayang ini menjadi sebuah pertunjukan yang menggabungkan berbagai unsur seni, yaitu musik dan tarian yang berkisah tentang sebuah upacara pengobatan. Aspek magis-religiusnya hanya berupa kesan-kesan yang disampaikan oleh simbol-simbol, baik berupa properti pertunjukan, lagu maupun tariannya; bukan dalam arti sesungguhnya.  Prosesinya sendiri merupakan bentuk ringkas dari upacara Buwong Kuayang sesungguhnya yang biasanya berlangsung selama beberapa jam dalam tiga malam berturut-turut.

 

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201900838

Nama Karya Budaya :Burung Kwayang

Provinsi :Riau

Domain :Seni Pertunjukan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda