Sebelik Sumpah, Warisan Budaya Tak Benda dari Jambi 2017

0
1110

Domain                                  : Kemahiran dan Kerajinan Tradisional

Lokasi Persebaran                   : Taman Nasional Bukit Duabelas, Kab. Sarolangun

Maestro                                 : Temenggung Tarib, Kab. Sarolangun

Kondisi                                  : Masih Bertahan

Pohon Sebelik Sumpah adalah jenis tanaman pohon keras, yang menghasilkan buah-buahan. Biji yang ada dalam buah-buahan tersebutlah yang dimanfaatkan sebagai perhiasan oleh Orang Rimbo. Biasanya biji dari buah sebelik sumpah dijadikan perhiasan berupa kalung dan gelang (dalam bahasa rimba disebut manik). Setelah dibelah, kemudian biji buah dikeluarkan dan ujung kedua biji buah sebelik sumpah dipotong, selajutnya dironce atau dibuat untaian dengan menggunakan tali yang biasanya berasal dari akar pohon. Rata-rata Orang Rimbo baik laki-laki, perempuan dewasa maupun anak-anak memakai perhiasan ini. Mereka percaya bahwa sebelik sumpah mempunyai kekuatan dan mampu menolak dan menangkal bala. Bahkan Orang Rimbo meyakini bahwa sebelik sumpah jika dipakai, maka akan membalikkan sumpah serapah yang diberikan oleh orang lain kepada si pemakai.

Pohon sebelik sumpah sangatlah keramat dan Orang Rimbo sangat menghargai kekuatan pohon tersebut, bahkan untuk mengambil buah sebelik sumpah dilakukan dengan merayunya terlebih dahulu. Hal inilah mungkin yang menjadi bagian menarik dari perhiasan milik Orang Rimba. Bagian yang menarik selanjutnya adalah bahwa untuk mendapatkan untaian biji dari pohon sebelik sumpah ini Orang Rimba harus masuk ke dalam hutan beberapa hari, karena saat ini pohon sebelik sumpah termasuk jenis pohon yang sudah sulit didapat yang hanya tumbuh di hutan yang masih rimbun serta tidak setiap musim pohon tersebut berbuah.

Selanjutnya setelah menemui pohon sebelik sumpah, maka Orang Rimba akan duduk di depan pohon yang batangnya sangat tinggi dan rimbun, mereka akan menyenandungkan rayuan berupa nyanyian kepada pohon sebelik sumpah agar si pohon mau dipanjat dan diambil buahnya. Rayuan puitis tersebut disenandungkan secara terus menerus sampai pohon sebelik sumpah luluh dan memberikan izin untuk dipanjat dan diambil buahnya. Sebuah keselarasan dan keunikan dalam menghargai alam.