Salokoa, Salah satu benda bawaan dari Tu Manurung Baineya Ri Taka Bassia Gowa

0
1896

Mahkota “Salokoa” adalah salah satu benda bawaan dari Tu Manurung Baineya  Ri Taka Bassia Gowa. Orang Makassar sering menyebutnya Kalompoang atau Gaukang. Kalompoang berasal dari kata Lompo berarti besar. Benda Kalompoang diartikan Benda Kebesaran, sedangkan Gaukang berasal dari kata “Gauk” berarti Kuasa.Benda Gaukang diartikan Benda Kekuasaan , benda tersebut termasuk benda regalia. Benda tersebut diyakini bertuah dan berfungsi sakral yang berkaitan dengan masalah magis, yang menjadi sebuah atribut legetimasi Raja/Ratu berkuasa setelah penobatan/pelantikan.Salokoa adalah berasal dari kata Makassar “Loko” yang berarti Himpunan, maka kata Salokoa diartikan sebagai “Penghimpun atau Pemersatu”. Seorang yang diangkat Raja/Ratu dilengkapi dengan benda utama Kalompoang/Gaukang “Salokoa”, yang member nilai tambah untuk sebuah nilai kharisma atau wibawa sebagai seorang pemimpin yang dianggap sebagai penghimpun atau pemersatu, bahkan dianggap sebagai Kerajaan itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari ungkapan di Kerajaan Gowa yang menyatakan bahwa : “Inai-Inai Anjujungi Salokoa, Ampasappiki Sudanga, Ambarai Cindeya, Iyami Antu Karaeng RiGowa”. Yang artinya Barang siapa menjunjung/memakai mahkota Salokoa, menyisipkan Kalewang Sakti Sudanga di pinggang dan melilitkan ikat pinggang Cindea , maka dialah disebut sebagai Raja/Pertuan di Gowa.Mahkota Salokoa terbuat dari bahan logam mulia emas murni dengan bertahtakan permata berlian, ruby dan zamrud sebanyak 250 butir yang berbentuk kerucut atau mirip seperti stupa. Mahkota Salokoa memiliki ukuran sebagai berikut :

– Berat = 1.768 Gram

– Tinggi = 25 Cm

– Diameter Puncak Melingkar = 13, 5 Cm

– Diameter Badan Melingkar = 30 Cm

– Pola Denah Dasar/Kaki Melingkar = 50, 5 Cm

 

Terbentuknya simbol-simbol dari kedua aspek tersebut yakni aspek struktural dan aspek ragam hias/ornamen didasarkan pada sebuah nilai-nilai etis dan pandangan hidup dari orang Makassar.  Mahkota Salokoa merupakan benda kebesaran (kalompoang) atau benda Kekuasaan (Gaukang) utama dari Kerajaan Gowa yang berfungsi sebagai atribut legitimasi sebagai seorang Raja (Somba) yang berkuasa. Mahkota Salokoa pertama kali di kenakan oleh Raja Gowa Tu Manurung Baineya yang bergelar Karaeng Sombaya Ri Gowa sekitar awal abad ke-14 (tahun 1320) dan terakhir dipakai oleh Raja Gowa Terakhir Raja Gowa Ke-36 (tahun 1960) Andi Idjo Karaeng Lalolang Sultan Abdul Muhammad Abdul Kadir Aiduddin.

Setelah berakhirnya masa kerajaan, kini Mahkota Salokoa termasuk replikanya tersimpan di Museum Balla Lompoa Sungguminasa-Gowa Sulawesi selatan.

 

Salokoa merupakan salah satu Regalia dari kerajaan Gowa. Dimana pada masa kejayaan Kerajaan Gowa para rajanya memegang regalia yang menjadi bukti bahwa ia adalah benar seorang raja. Benda-benda regalia itu oleh Orang Makassar disebut Kalompoang. Dalam pergantian kekuasaan dala kerajaan beralih juga regalia tersebut dari raja lama ke raja baru. Pergantian kekuasaan ditentukan oleh sebuah dewa yang anggotanya terdiri atas persekutuan 9 raja bawahan yang ada dalam wilayah Kerajaan Gowa. Dewan ini disebut Bate Selapang. Bate Selapang inilah yang biasanya menentukan siapa yang akan memegang regalia kerajaan selanjutnya. Salokoa merupakan pakaian tradisional raja yang disimpan oleh keluarga kerajaan Gowa. Sebagai benda pusaka mahkota yang berlapiskan dengan emas dan disakralkan oleh masyarakat Gowa. Karena di anggap bahwa leluhur mereka bersemayam atau tidur dalam benda tersebut. Selain Salokoa berlapis emas, mahkota raja ini juga memiliki sejumlah perhiasan emas dibeberapa bagiannya, sehingga tampak indah. Karena nilainya yang tak terhingga maka mahkota ini disimpan dalam sebuah lemari besi peninggalan Belanda dan dijaga dengan ketat oleh keluarga istana. Pada setiap Hari Raya Idul Adha masyarakat dan keluarga Istana (ballaq lompoa) mengadakan upacara pencucian dan pemberian kurban kepada salokoa sebagai regalua (kalompoang) yang mereka hormati.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901056

Nama Karya Budaya :Salakoa

Provinsi :Sulawesi Selatan

Domain :Adat istiadat Masyarakat,Ritus dan Perayaan-perayaan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda