“Sabai”

0
753

Pemenang Lomba Penulisan Cerita Rakyat 2015, KATEGORI UMUM/DEWASA, Penulis: Laora Arkeman.

~HARUM tercium bau masakan Sadun (Sadun Saribai) dari dapurnya yang berukuran sedang, berlantai tanah yang keras, serta bertungku dua buah. Sesekali ia meniup melalui bambu untuk membesarkan api tungkunya. Gulai daging yang dimasaknya hampir matang. Di tungku yang satunya, Sabai (Juga dikenal sebagai Sabai Nan Aluih: Sabai yang halus) sesekali juga meniup bambu untuk membesarkan api, lalu membuka dandang, melihat apakah nasi yang ditanak sudah siap untuk diantar ke sawah.

“Sudah kau siapkan rantangnya, Sabai?”

“Sudah, Mak. Nasi juga sudah siap diantar ke Abak (Bapak/Ayah) di sawah…”

“Ya, kalio (Gulai daging, jika dikeringkan menjadi rending) juga sudah masak…, cepatlah kau antar untuk Abakmu!”

Tanpa banyak bicara, Sabai menyiapkan segala sesuatunya, piring kaleng,teko berisi teh, gelas, dan rantang berisi makan siang untuk Radjo Babandiang (Raja Berbanding), ayahandanya. Ia kemudian membawa semua itu dengan menjinjing rantang dan sebuah bakul berukuran sedang di punggungnya. Kulitnya yang putih menjadi kemerahan diterpa matahari, terutama sekali pipinya. Rambutnya yang hitam dan panjang, ia sembunyikan dibalik selendang tipis yang disampirkan ke bahunya, ia mengikatnya sebagai ekor kuda terlebih dahulu.

“Sabai pergi ke sawah dulu, Mak!”

“Baiklah, hati-hati di jalan, Nak! Oya, kemana Mangkutak (Mangkutak Alam), saudaramu?”

“Sedang tidur di kasurnya, Mak! Ia sedang bermimpi di siang hari” Sabai menjawab pertanyaan ibunya sambil tersenyum.

Sadun Saribai mendengus, menahan kesal, menghadapi anak lelakinya yang manja dan pemalas. Untunglah Sabai, anak gadisnya, seorang perempuan yang tidak saja cantik, tapi juga rajin bekerja. Dan pandai menenun. Itulah yang menghibur hati Sadun. Budi pekerti anak gadisnya ini begitu berkebalikan dengan Mangkutak saudaranya. Andai saja Mangkutak bukan kesayangan Radjo Babandiang suaminya, sudah tentu Sadun ingin mengusirnya dari rumah.

Demikian pemalasnya Mangkutak, sehingga untuk menemani ayahnya ke sawah pun ia enggan. Sadun kembali menarik nafas panjang.

Di perjalanan menuju sawah, Sabai bersua dengan Radjo nan Pandjang, seorang kaya yang selalu didampingi oleh beberapa orang bujangnya. Hampir saja Sabai membuang mukanya, melihat senyum nakal di bibir lelaki tua itu.

Tapi Sabai menahan diri, tetap tersenyum, meski mempercepat langkahnya.

“Panas sekali hari ini ya, Pak?”

Sabai melihat ayahnya mengipas-ngipaskan topi bambunya. Radjo Babandiang sudah duduk di tepi sawah, ketika Sabai sampai di sana.

“Ya, benar, Sabai… Memang panas sekali siang ini”

“Tadi saya bersua Radjo nan Pandjang”

Radjo Babandiang memperhatikan wajah anak gadisnya. Ia terdiam. Ia mengerti dan bisa merasakan kerisauan anak gadisnya. “Pulanglah kau Sabai, hati-hati di jalan! Sore nanti, suruhlah Mangkutak menjemput Abak, katakan padanya, Abak yang menyuruh.”

“Baik, Pak. Nanti kalau ia sudah bangun, akan kukatakan kepadanya” Sabai berlalu meninggalkan ayahandanya yang tengah melahap makan siangnya.

***

SORE hari, seperti lazimnya, Sabai menyibukkan diri dengan menenun songket. Kegiatan ini menyenangkan hatinya, bercengkrama dengan benangbenang beraneka warna, menyatukannya dengan benang emas, dan menyatukannya menjadi songket, kain yang digunakan secara khusus untuk kesempatan khusus, seperti ketika merayakan hari besar, pernikahan, upacara adat, dan semacamnya.

Sabai menyukai warna-warna cerah itu, merah, biru, ungu, kuning, oranye, hijau. Warna-warna yang seolah menggambarkan perasaannya sendiri. Keceriaan yang tak bisa disembunyikannya, semangatnya, kerinduannya yang diam-diam disimpannya untuk seseorang, pikiran-pikirannya. Kadang, ibunya duduk di dekatnya, memperhatikan setiap gerakannya. Ibunya memperhatikannya, sebagaimana ia memperhatikan ibunya ketika sedang menanak. Setiap gerakan yang mengagumkan, menjalin benang-benang halus itu, warna-warni itu, ke dalam sebuah ikatan yang saling menguatkan. Ikatan yang disusupi warna emas, kemegahan. Selang-seling, yang menggambarkan silih bergantinya siang dan malam, susah dan senang, kekalahan dan kemenangan. Warna-warni yang mengelorakan, menenangkan, mencerahkan hari-hari Sabai.

Sebagai gadis remaja yang menjelang dewasa, seperti gadis lainnya, Sabai juga merasakan perasaan yang sama. Diam-diam, seorang pemuda kampung, yang tampan dan sedang bersekolah di Jawa, yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak, kini hadir di antara mimpi-mimpi malamnya. Samar-samar ia mengingat kapan terakhir mereka bertemu. Zulkifli, begitu nama pemuda itu, anak dari Sutan Sati Batuah yang disegani.

Rupanya Sabai tidak sedang bermimpi. Sesekali, ia menerima selembar dua lembar surat dari tanah Jawa. Zulkifli, nama yang tertulis di sampul belakang amplopnya. Sabai merasakan pipinya menghangat dan memerah. Bagai buah yang ranum.

Radjo Babandiang dan Sadun Saribai bukan tidak mengetahui hal ini. Bahkan Mangkutak Alam, saudaranya, dengan bergurau sering mengganggu Sabai yang sedang bersembunyi di kamar dan membaca lembar-lembar surat dari Zulkifli, tambatan hatinya. Mangkutak, bersembunyi di balik tirai pintu kamar, berusaha mencuri selembar surat yang sedang tergeletak di kasur Sabai, ketika Sabai lengah dan mengamati lembaran yang lainnya.

Pura-pura marah, Sabai mengusir saudaranya keluar kamar, dan mengunci pintu kamarnya.

Pikirannya melayang ke tanah Jawa.

***

RADJO Babandiang menutup pintu rumahnya. Lompong Batuah dan Radja nan Kongkong, dua orang utusan Radjo nan Pandjang, baru saja pergi. Mereka datang dengan membawa sirih dengan pinang, kapur dengan gambir. Suatu pertanda pinangan untuk anak gadisnya, Sabai nan Aluih.

Sabai bersembunyi di kamarnya, berharap Abak dan Maknya tahu apa yang ia rasakan. Sebagai anak gadis, ia tak berhak menyuarakan pendapat dan pikirannya. Waktu belum mengijinkannya untuk berbicara mengenai nasibnya.

Sabai hanya bisa berharap Radjo Babandiang, ayahandanya, bisa merasakan perasaannya, dan mau mendengarkan pendapat Sadun ibunya. Sebagai seorang suami, Radjo Babandiang sesekali mau mendengarkan pendapat istrinya. Sabai tadi sempat mendengar, bahwa ayahandanya mengirim pesan untuk Radjo nan Pandjang agar mereka bisa bertemu di Padang Panahunan, hari Sabtu nanti. Hati Sabai bergetar, teringat mimpinya beberapa malam terakhir.

Lumbung padi menjadi abu, kerbau-kerbau di kandang dicuri orang, dan ayam disambar elang.

“Untuk apa Abak mengajak berjumpa di sana?”

“Tenangkan hatimu, Sabai, tidak akan terjadi apa-apa.”

“Tapi Sabai bermimpi buruk, Abak!”

Radjo Babandiang menatap anak gadisnya. Diam. Lalu tersenyum. Ia meraih tangan Sabai,”Tak akan terjadi apa-apa, Sabai, percayalah!” Sadun hanya mendengarkan keduanya, tanpa bicara.

***

PAGI sekali Sabai bangun, seperti biasanya. Namun, pagi ini, hatinya risau.

Tak hendak rasanya ia mengerjakan tugas-tugas rumah yang biasanya dengan cekatan dilakukannya. Ia hanya memikirkan ayahnya. Apakah ayahnya jadi bertemu dengan Radjo nan Pandjang, siang nanti?

Sadun bekerja seperti biasa, ia sudah pandai menyimpan pikiran dan perasaannya. Tak tampak risau di wajahnya yang mulai tua. Hanya kecantikan yang menyamar, yang kini menurun kepada anak gadisnya. Kecantikan yang membuat Sabai diinginkan banyak laki-laki, kecantikan yang membuat Radjo Babandiang menantang Radjo nan Pandjang berkelahi…

Mangkutak Alam, masih tertidur di kamarnya. Kalau pun Sadun membangunkannya, yang dilakukannya tentulah sesuatu yang tak banyak gunanya. Siang hari, ia akan bermain layang-layang, layaknya seorang kanak-kanak. Masih tak terpikir olehnya, untuk menolong Radjo Babandiang, ayahandanya, bekerja di sawah. Kalaupun kulitnya menjadi hitam, itu sama sekali bukan karena ia berada di sawah saat terik, tetapi karena ia menerbangkan layang-layangnya di tengah hari.

Radjo Babandiang, tenang sebagaimana biasa. Ia menyiapkan segala sesuatunya untuk pertemuan nanti siang. Ia juga mengajak salah seorang bujangnya, Palimo Parang Tagok, untuk menemani. Ia khawatir, jika sesuatu yang buruk terjadi menimpa dirinya, maka masih ada bujangnya yang bisa pergi memberitahu keluarganya. Namun, sesungguhnya, Radjo Babandiang, akan lebih senang bila kawan dekatnya itu, Radjo nan Pandjang, sudi menerima penolakan atas pinangannya terhadap anak gadis Radjo Babandiang, Sabai nan Aluih. Bila Radjo nan Pandjang berbesar hati, dan sadar bahwa ia kurang sepadan dengan Sabai, maka segalanya akan baik-baik saja. Namun Radjo nan Pandjang tampaknya masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa tidak semua orang menginginkan kekayaan yang dimilikinya.

Setahu Radjo Babandiang, Radjo nan Pandjang, kawan dekatnya itu, sudah memiliki beberapa istri. Tetapi lelaki yang umurnya sebaya dengan Radjo Babandiang itu, tampak tak pernah merasa puas, dan merasa tidak pantas untuk ditolak oleh siapapun. Semata karena ia merasa bahwa ia “Orang Besar” yang disegani, dan karena kekayaannya yang melebihi orang lain. Ia menjadi seorang yang congkak dan tak bisa menerima kenyataan, termasuk dalam perkara pinangan atas anak gadis Sadun dan Radjo Babandiang, Sabai nan Aluih.

Matahari sudah beranjak dari tempatnya semula, sinarnya sudah semakin terasa panas di kulit. Radjo Babandiang menyadari, sudah waktunya untuk berangkat ke tempat pertemuan yang mereka janjikan, Padang Panahunan.

Bersama Palimo Parang Tagok, ia menuju ke sana. Berjalan beriringan, dalam diam. Sesekali Radjo Babandiang berujar, apa yang sebaiknya dilakukan Palimo Parang Tagok, bila sesuatu yang tak dikehendaki terjadi. Lumrah bila Radjo Babandiang berpikir demikian, mengingat kawannya yang sebentar lagi menjadi lawannya itu, terkenal sebagai orang yang licik dan curang. Dari kejauhan tampak oleh Radjo Babandiang, bahwa Radjo nan Pandjang telah berada di tempat yang disepakati. “Rupanya ia telah sampai lebih dahulu” begitu piker Radjo Babandiang. Dari kejauhan pula tampak Radjo nan Pandjang, menoleh ke sana ke mari, seperti berbicara kepada orang lain. “Tentu saja ia tidak akan datang sendirian,… Untunglah ada Palimo menemaniku.”

“Ah! Akhirnya sahabatku, Radjo Babandiang datang juga! Kukira tak akan melihat batang hidungmu!”

“Cih! Ia mulai menampakkan keangkuhannya,” kembali Radjo Babandiang sibuk dengan pikirannya. “Tentu saja aku datang, mengapa pula tidak, sedang aku yang mengundangmu?”

“Mengapa kau katakan yang tidak pantas kudengar, hai Sahabatku?”

“Mengapa kau lakukan apa yang tidak pantas pula rupanya, Kawanku?”

“Aih! Meminta anak gadismu nan cantik merupakan tindakan yang tak pantas menurutmu?”

“Kau sudah punya beberapa bini, untuk apa lagi kau minta Sabai anak gadisku?” “Bukan urusanmu, tentang jumlah biniku, mengapa kau menolakku itulah soalnya!”

“Bukan adat kita tentang kedatanganmu setelah utusanmu yang dua kusuruh pergi dan menyampaikan pesanku. Mengapa kau melanggar adat dengan datang meminang sendiri ke rumahku? Bukankah sudah kusampaikan pesanku melalui utusanmu? Yang kini bersembunyi di balik semak-semak itu!”

Merasa terus menerus dipermalukan, terlebih di depan kawan dan bujangnya, Radjo nan Pandjang naik pitam. Namun, sebagaimana perkelahian yang tak adil, belum apa-apa Radjo nan Pandjang sudah berlaku curang. Palimo Banda Dalam, salah seorang bujang Radjo nan Pandjang, menyerang Palimo Parang Tagok, dan segera mendapat balas yang seimbang dari lawannya.

Bahkan lebih dari itu, sehingga ia tersungkur. Untuk membela kawannya, Lampong Batuah, ikut menyerang Palimo Parang Tagok. Perkelahian menjadi tidak seimbang. Sekaligus melawan dua, belumlah menghabiskan tenaga Palimo Parang Tagok, seandainya saja Lampong Batuah tidak menikamnya dari belakang. Melihat bujangnya tersungkur, membuat Radjo Babandiang marah. Ia maju untuk bertarung dengan Radjo nan Pandjang,” Sebaiknya kau berhadapan saja denganku, Radjo nan Pandjang!”

Radjo nan Pandjang pelan-pelan maju, mengibaskan tangannya secara perlahan, seperti menyuruh Lampong Batuah untuk menyingkir sebentar, karena demi harga dirinya, ia mesti berhadapan langsung dengan Radjo Babandiang. Radjo nan Pandjang, menyadari ia bukan lawan berkelahi yang sepadan dengan Radjo Babandiang, maka sambil berjalan ia melirik Radjo nan Kongkong yang sedang bersembunyi di balik semak, yang siaga dengan senapannya. Matanya membelalak sebentar ke arah Radjo nan Kongkong, supaya tetap siap dengan senapannya itu.

“Biarkan aku yang berhadapan!” Radjo nan Pandjang berkata kepada Lampong Batuah. Palimo Banda Dalam masih meringis menahan sakit, tersungkur di tanah. Palimo Parang Tagok, merasakan darah mengucur dari punggungnya, luka tikaman Lampong Batuah. Ia menatap penuh harap kepada Radjo Babandiang yang sedang menyiapkan jurus-jurus silatnya. Di masa mudanya, tak sembarang orang meladeni Radjo Babandiang berkelahi. Mereka mesti berpikir dua kali sebelum beradu jurus dengannya. Tapi, kekuatan tubuh Radjo Babandiang seolah dimakan masa. Ia tak lagi sehebat dulu. Meski jurus-jurus silat masih dapat ia lakukan semuanya, termasuk jurus Harimau Menerkam, tapi ia sudah tidak muda lagi. Bahkan, sebenarnya ia sudah tua. Sabai anaknya sudah menjelang dewasa, sementara Mangkutak, belum siap mengggantikannya.

Tapi sebagaimana Radjo nan Pandjang, sebagaimana juga ia. Ini bukan lagi perkara amarah, bukan perkara ditolak atau menolak, diterima atau menerima, ini semata perkara harga diri, perkara martabat. Dan untuk perkara ini, mati pun ia rela.

Mula-mula Radjo nan Pandjang membiarkan dirinya menjadi sasaran pukulan dan tendangan kaki lelaki tua yang sebaya dengannya, kawannya yang kini menjadi lawannya. Namun ada saatnya ia mesti mengakui bahwa bagaimana pun Radjo Babandiang tak bisa dianggap remeh. Saat itulah ia memberi isyarat kepada Radjo nan Kongkong untuk menarik pelatuk senapan.

Bum!

Seketika Radjo Babandiang jatuh tersungkur. Padahal, tinggal sedikit lagi, Radjo nan Pandjang akan lebih dahulu jatuh, bila saja ia bisa bertanding secara benar dan adil. Bukannya menyuruh bujangnya untuk menarik pelatuk.

Sambil menahan sakit dari peluru yang menikam dadanya, Radjo Babandiang berkata lirih, “Kau masih saja seperti dulu, Radjo nan Panjang. Kau belum berubah. Kau tak pernah berubah”

Kemudian ia teringat kepada Sadun Saribai, istri yang dicintainya, yang menemaninya sepanjang hidupnya Yang segera ditinggalkannya. Sebentar pikirannya melayang kepada Mangkutak Alam, Sibiran tulang, anak lelaki kesayangannya, cahaya hatinya, yang selalu ia khawatirkan masa depannya. Sekelebat, hanya sekelebat saja. Lalu Radjo Babandiang teringat Sabai, anak gadisnya yang cantik, yang halus budi pekertinya, yang tak pernah ia bayangkan bisa menjadi harapan hidupnya, karena ia hanyalah seorang anak perempuan. Radjo Babandiang, dalam letih karena darah yang mengucur dari dadanya, masih membayangkan Sabai, bagaimana ia pada akhirnya, sebagai seorang ayah mesti menegakkan harga dirinya. Membayangkan Sabai di detik-detik terakhirnya.

Tapi tidak! Ini bukan bayangan!

Bum!

Terdengar dari telinganya yang semakin lemah, suara bunyi ledakan kedua, dan di hadapannya, kawannya yang kini menjadi lawannya, Radjo nan Pandjang, jatuh tersungkur. Tepat di depan hidungnya! Sebagaimana ia, Radjo nan Pandjang kini juga menahan sakit dari dadanya yang mengucurkan darah dan akan segera bernasib malang seperti halnya dirinya.

Kini mereka saling menatap dalam diam. Dalam perih. Dalam letih. Memegang dan mempertahankan harga diri dan martabat masing-masing.

Membayarnya dengan darah. Menghentikan waktu.

Sabai memeluk Radjo Babandiang dengan erat. Enggan melepaskan tubuh ringkih itu. Membiarkan hangat darah dari dadanya mengalir ke dadanya sendiri. Hanya sedetik. Lalu dingin dirasa tubuh ayahnya yang sangat dicintainya. Keduabelah tangan Sabai dipenuhi darah. Darah Radjo nan Pandjang dan darah Radjo Babandiang.

***

HARUM tanah pekuburan itu. Bunga-bunga bertabur di atasnya. Radjo Babandiang tertidur di dalamnya. Selamanya. Mangkutak Alam, termenung sebentar di sisi kubur ayahnya. Pikirannya melayang kesana kemari, tapi ia masih saja memenjara tubuhnya sendiri, dalam kemanjaan dan kemalasan yang tak menentu.

Sadun Saribai menyeka air matanya, menembunyikan kesedihannya. Ia harus terbiasa dengan itu. Sebagaimana ia, diharapkannya juga Sabai, anak gadisnya yang cantik dan halus budi pekertinya itu, belajar menyembunyikan pikiran dan perasaannya, sebagaimana lazimnya seorang perempuan.

Sabai seolah mengerti perasaan dan pikiran ibunya, meraih tangan Sadun. Sebentar ia menoleh, melihat dari kejauhan, keluarga Radjo nan Pandjang, juga baru selesai menguburkan lelaki yang menghancurkan perasaannya. Lelaki yang kini kesepian dalam kuburnya. Ia sendiri, kini berjongkok di sisi kuburan ayahandanya Radjo Babandiang, yang tertidur dalam sepi. Sabai memanjatkan doa-doa. Hanya kepada Allah yang Suci ia bisa berharap dan memanjatkan doanya. Mengharap kedamaian bagi ayahnya. Kemudian, mereka bertiga yang kini tinggal, Mangkutak Alam, Sadun Saribai dan dirinya, berjalan pelan meninggalkan pekuburan. Membiarkan sepi menemani jasad ayahnya.

Berjalan perlahan, bergandengan tangan dengan ibunya. Sabai melayangkan pikirannya ke tanah Jawa, membayangkan Zulkifli, sang tambatan hati. Risau hatinya disimpannya dalam diam. Sore nanti Sabai berencana melanjutkan menenun kain songket, mengikat dan menjalin benang-benang warna-warni dengan benang warna emas, sebagaimana biasa. Mengikatnya dengan ikatan yang saling menguatkan. Keceriaannya, keindahannya, kemegahannya terpancar melalui warna-warni kain itu. Belajar dari dan seperti Sadun Saribai, ibunya, Sabai menyembunyikan segalanya, dan menyimpan pikiran dan perasaannya dalam diam, lazimnya seorang perempuan.