Riyaya Undhuh-Undhuh Mojowarno, Sudah menjadi tradisi setiap tahun

0
7641

Sudah menjadi tradisi setiap tahun bahwa GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) Mojowarno, kab. Jombang menyelenggarakan Hari Raya Unduh-Unduh sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen selama setahun. Unduh-Unduh berasal dari kata unduh atau dalam bahasa Jawa disebut ngunduh, yang berarti memetik atau memanen. Perayaan berupa arak-arakan ini sudah menjadi tradisi yang diperingati turun-temurun di GKJW Mojowarno.

Dalam masyarakat Kristen Mojowarno, tradisi Riyaya Unduh-Unduh diawali dengan Kebetan, Keleman dan baru masuk ke Unduh-Unduh.

Kebetan adalah doa bersama sebelum turun bekerja ke sawah berisi ucapan rasa syukur, dan meminta perlindungan serta keselamatan, agar tidak ada halangan selama bekerja. Keselamatan bagi yang bekerja maupun binatang-binatang yan dipergunakan, serta memohon agar Tuhan memberikan hujan secukupnya. Biasanya warga membawa encek berisi urap-urap, ayam dan arem-arem, juga tumpeng yang dibawa ke kantor desa untuk dimakan bersama. Kebetan dipimpin oleh kepala desa atau kepala dusun dengan mengundang pendeta untuk berdoa bersama. Ritual ini biasanya dilaksanakan bulan Oktober, saat petani memulai menanam padi.

Keleman adalah ritual yang dilakukan setelah padi berusia selapan dina (36 hari) yang bertujuan untuk meminta perlindungan Tuhan agar tanaman padi tidak diserang hama, air yang berkecukupan dan pertumbuhan yang bagus. Acara kebaktian keleman dilakukan di tempat dan cara yang sama dengan kebetan.

Barulah tiba bulan Mei, ketika padi sudah bisa dipanen digelar acara Unduh-unduh. Seperti ajaran Musa yang bercorak agraris, mereka mempersembahkan hasil panen terbaiknya kepada Tuhan. Bagi masyarakat Mojowarno yang bukan petani, mereka mempersembahkan sebagian dari gaji yan diterimanya sebagai upah kerjanya. Demikian pula mereka yang berdagang turut mempersembahkan sebagian keuntungannya. Yang memroduksi kerajinan tangan atau beternak, sebagian hasilnya juga dipersembahkan.

Prosesi Unduh-unduh dimulai dengan sejumlah orang mendorong gerobak dengan berbagai model hiasan yang diarak keliling kampung hingga menuju halaman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno. Gerobak tersebut mengangkut hasil bumi, makanan siap saji, dan binatang ternak. Suasana hiruk pikuk dan kebersamaan pagi hari itu adalah sebuah pesta untuk merayakan musim panen dan mensyukuri nikmat Tuhan dalam agenda rutin tahunan. Harapannya, semoga panen mendatang akan lebih baik dan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas panen yang berlimpah.

Terdapat tujuh blok unduh-unduh yang diarak, yakni enam blok dari jumlah dusun yang ada di Desa Mojowarno, ditambah satu blok dari RS Kristen Mojowarno. Rinciannya, selain blok RSK Mojowarno, adalah Blok Dusun Mojowarno, Blok Mojoroto, Blok Mojotengah, Blok Mojojejer, Blok Mojowangi, dan Blok Mojodukuh.

Berbagai persembahan dalam Unduh-unduh dihias dengan simbol-simbol Kristen menjadi serupa patung Yesus Kristus, Jalan Salib, dan berbagai bentuk lain. Setelah tiba di gereja, semua persembahan tersebut didoakan dalam Misa Unduh-Unduh, lalu dilelang kepada umat Kristiani dan warga sekitar. Usai diarak, hasil lelang tersebut akan dimanfaatkan untuk keperluan pelayanan gereja, serta disalurkan kepada orang-orang yang secara ekonomi butuh uluran tangan. Karena itu perayaan ini juga disebut Hari Raya Persembahan.

Unduh-unduh memang lahir dari jemaat agraris, yaitu  jemaat GKJW yang berlokasi di daerah pedesaan. Unduh-unduh awalnya merupakan budaya Jawa yaitu bentuk persembahan hasil panen kepada Dewi Sri lalu digabungkan dengan ajaran Kristen menjadi dipersembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus.  Bahwasanya setiap umat yang mendapatkan kenikmatan atau hasil yang melimpah, diwajibkan memberikan sedikit rizkinya kepada orang yang membutuhkan. Arti penting tradisi unduh-unduh adalah menghargai karunia dari Tuhan berupa hasil yang diperoleh dari pekerjaan para jemaat sehari-hari. Rasa syukur yang diwujudkan dalam perayaan unduh-unduh, dilakukan dengan cara berbagi kepada sesama.

Pendeta GKJW Mojowarno Wimbo Sancoko mengatakan, “kegiatan seperti ini juga mengajarkan kepada jemaat agar memiliki kepedulian terhadap gereja dan sesama umat manusia lainnya.”

Perayaan berlangsung meriah. Tujuh blok unduh-unduh diarak dari halaman GKJW menuju tempat lelang. Ribuan warga dari juga terlihat memadati jalan yang dilewati rute unduh-unduh tersebut. Tak hanya warga Jombang saja yang menyaksikan pesta ini, banyak juga dari luar Jombang. Seperti Surabaya, Kediri, Mojokerto dan bahkan dari Jawa Tengah. Mereka bergabung dalam kegiatan ini. Sejarah panjang inilah  yang membuat tradisi Unduh-Unduh menarik. Tak hanya masyarakat Kristen yang turut merayakan riyaya Unduh-Unduh ini, namun masyarakat muslim sekitar juga turut berbaur untuk merayakannya. Masyarakat menyatu, toleransi mereka sangat tinggi. Nyaris tidak ada perbedaan ras maupun agama dan kepercayaan. Siapapun orangnya, mereka bergabung jadi satu dalam kegiatan itu dan terlihat harmonis.

Hari raya ini menjadi tradisi rutin sejak 1930, dimana pelaksanaannya jatuh pada musim panen padi, yaitu sekitar bulan Mei.  Namun jauh sebelum munculnya tradisi Riyaya Unduh-Unduh ini, masyarakat setempat telah mengenal Lumbung Pirukunan. Ini adalah sebuah bentuk patungan masyarakat Mojowarno saat hendak mendirikan bangunan GKJW Mojowarno pada tahun 1871.

Lumbung Pirukunan merupakan istilah dari mengumpulkan sumbangan atau persembahan padi dari masyarakat saat panen raya. Kemudian padi dijual dan uang hasil penjualan digunakan untuk pembangunan gereja pada saat itu, yaitu pada tahun 1879. Tercatat, bahwa GKJW Mojowarno merupakan yang tertua di Jawa Timur.

Dari proses akulturasi ini, nampak bahwa keberadaan agama tidak memudarkan budaya asli. Adanya kebudayaan justru menjadi salah satu cara untuk beribadah. Lebih jauh, ritual keagamaan ini menjadi media dalam mempertahankan kearifan lokal. Pada perayaan unduh-unduh di GKJW Kediri, jemaat pria berdandan pakaian adat Jawa berupa kain lurik dan udeng atau ikat kepala. Sedangkan yang wanita berbalut kebaya, mirip seperti petani di sawah.

Awalnya, tradisi ini digelar untuk menggalang dana pendirian GKJW tertua pulau di Jawa tersebut. Seiring waktu berjalan, GKJW yang berdiri di wilayah Jawa Timur perlahan mulai berkembang. Alhasil, tradisi yang mulanya hanya terdapat di GKJW Mojowarno ini lalu menyebar ke seluruh GKJW di Jawa Timur, termasuk di GKJW Jemaat Kediri. Tak berhenti di situ, tradisi ini bahkan turut dirayakan oleh beberapa GKJ (Gereja Kristen Jawa) yang ada di Jawa Tengah dan Jakarta.

Perayaan unduh-unduh tak hanya menjadi ritual bagi jemaat GKJW. Keberadaannya juga menjadi salah satu cara untuk membuat budaya Jawa  tetap lestari. Di antaranya, budaya mengucap syukur atas hasil panen, serta berbagai kearifan lokal yang eksis di tengah masyarakat.

Unduh-unduh yang dirayakan oleh jemaat GKJW ini memiliki beberapa makna sosial, yaitu gotong royong dan kerjasama, mempersembahkan yang terbaik, kerukunan, wujud syukur, harapan, transparansi, pengorbanan, kebersamaan, percaya diri, serta jujur suci dan berbudi luhur. Unduh-unduh juga memiliki nilai pendidikan, yaitu religius, kejujuran, toleransi, kerja keras, kreatif, cinta tanah air, menghargai prestasi, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Puncak acara dari perayaan ini biasanya digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201900986

Nama Karya Budaya :Riyaya unhuh-unhuh Mojowarno

Provinsi :Jawa Timur

Domain :Adat istiadat masyarakat,ritus dan perayaan-perayaan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda