Rabab merupakan alat musik yang dimainkan melalui biola yang melantunkan tentang kisah ( bakaba ) yang bersumber dari rabab pasisie,rabab juga mengandung unsur mistik. dalam kesenian rabab pasisie unsur magis sepertinya tak bisa dilepaskan begitu saja, hal ini seperti diungkapkan oleh beberapa tukang rabab. Unsur magis ini diperoleh dan dipelajari dari orang gaek (orang pintar).Mereka mengatakan bahwa unsur magis, atau biasa disebut dengan pitunang, ini digunakan untuk menunjang penampilan mereka di atas panggung, salah satunya untuk membuat penonton betah menyaksikan pertunjukkan sampaiselesai.
Unsur magis kadang-kadang juga digunakan apabila ada penonton yang membuat mereka sakit hati, misalnya ada seorang penonton yang mengejek atau mencemeehnya (mencemooh) dengan mengucapkan kata-kata yang pedas. Istilah untuk orang seperti ini adalah ”Capek di muluik dikatonyo, capek di tangan dijangkonyo” artinya seseorang yang terlalu cepat mengucapkan kata-kata tanpa dipikir dan dipertimbangkan dahulu jika seseorang sengaja mencela permainan tukang rabab sehingga membuat tukang rabab tersebut tersinggung, maka si pencela itu bisa-bisa dikerjain. Dikerjain oleh tukang rabab bisa berarti bermacam-macam, misalnya dibuat kanai hati (jatuh cinta) kepada si tukang rabab, apabila dia perempuan. Rabab berfungsi sebagai hiburan saat pesta yang dimainkan ketika malam tiba hingga menjelang subuh.
Permainan rabab biasanya ditampilkan oleh dua orang pemain secara bergantian, atau seorang menjadi tukang gesek dan seorang lagi menjadi pendendang atau penyanyi. Sikap pemain adalah duduk bersila di atas tikar atau kasur. Berbeda dari cara memegang biola, yang di letakkan di leher dekat bahu, rabab dimainkan dengan cara ditegakkan miring di depan pemain, tangan kiri memegang tangkai atau leher rabab di bawah padang-padang dengan empu jari. Jari-jari yang lain menekan-nekan senar pada tempat tertentu sesuai dengan nada yang hendak dihasilkan. Tangan kanan memegang penggesek dan menggesek tali (senar) di posisi atas badan rabab.
Rabab menghasilkan nada-nada do, re, mi, fa, sol, dan la (1, 2, 3, 4, 5, dan 6). Syair atau pantun yang dinyanyikan dalam pertunjukan rabab bertemakan suka-duka rumah tangga, kesusahan hidup, pesan pendidikan, pesan keagamaan, kesenian, dan pergaulan. Tema tersebut disampaikan secara dialogis oleh dua pemain pendendang. Irama lagu yang sering dibawakan adalah lohari (instrumentalia), pelayaran, buaian anak, dendang panjang, hoyak ambacang, kuliliang dan lagu kaba, atau si gadih ampai. Rabab dipertunjukkan pada malam hari, dalam momen-momen helat perkawinan, keramaian anak nagari, pengangkatan penghulu, batagak kudo-kudo, dan momentum lainnya.
Kesenian rabab adalah kesenian bernuansa Islam yang pada awalnya berfungsi sebagai media pendukung kegiatan dakwah islamiah. Oleh karena Islam masuk ke Minangkabau melalui pantai barat, rabab pun berkembang pertama kali di pantai barat, yakni Pariaman, Pesisir Selatan dan Pesisir Utara (Pasaman) dan terus ke daerah pedalaman Minangkabau atau darek. Akibat proses adaptasi, saat ini dapat dijumpai beberapa bentuk rabab, yakni Rabab Pariaman, Rabab Darek, dan Rabab Pesisir Selatan.
Rabab Pariaman ditandai oleh badannya yang terbuat dari tempurung kelapa atau galuak dan senarnya sebanyak dua buah. Rabab Darek disebut juga Rabab Payakumbuh (dengan sebaran di Agam, Limo Puluah Koto, dan Tanah Datar), badannya terbuat dari kayu nangka yang dikeruk untuk membuat ruang resonansi. Rabab Pesisir Selatan mempunyai bentuk yang persis sama dengan biola, baik ukuran maupun jumlah talinya (senar), yaitu empat buah. Sebutan untuk permainan rabab di Pesisir Selatan disebut babiola (berbiola).