Penerima Anugerah Kebudayaan Kategori Maestro Seni Tradisi 2018: Ki Supangkat (1)

0
351

Maestro Dalang Wayang Kulit Penjaga Pakem Keutuhan Lakon

Energi Ki Supangkat bergelora saat mendengar denting gamelan yang mengiringi pertunjukannya. Wajah dalang kelahiran Pasuruan, 14 Mei 1936, ini begitu bercahaya saat memainkan wayang dan menuturkan perjalanannya menjadi dalang. Menurutnya, bila kesenian sudah di hati tak bisa luntur.

Berkesenian baginya juga memastikan agar seni yang ditekuninya dapat lestari. Tak heran, selain menghasilkan gaya Sabetan Gagrak Porongan, ia juga mencetak enam dalang yaang mendapat tempat di masyarakat. Sumbangsihnya pada dunia pedalangan mendapatkan penghargaan dari Bupati Pasuruan dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

 

Ayah Supangkat, Sutiar, adalah seorang pemain karawitan yang piawai. Supangkat tidak sempat menyelesaikan sekolah rakyat, ia memilih nyantrik (berguru sepenuhnya) pada dalang wayang kulit H Gozali. Saat itu umur Supangkat 14 tahun. Kedua orang tuanya, menurut Supangkat, “setuju tak setuju” dengan pilihannya ini. Setuju karena memahami pentingnya seni perdalangan. Tidak setuju karena mereka tidak dapat mengongkosi pilihan Supangkat.

Perjalanan nyantrik  bagi Supangkat adalah perjalanan yang penuh ujian sekaligus menempa mentalnya. Selama nyantrik dia tidak diberi biaya hidup oleh orang tuanya juga tidak mendapat bayaran. Supangkat hidup ngemper, siang kepanasan, malam kedinginan, makan seadanya. Tetapi ia bertekad tidak akan pulang sampai tercapai cita-citanya menjadi dalang. Setelah delapan tahun nyantrik, barulah Supangkat dapat pentas mendalang (tahun 1958).Di pentas perdananya, Supangkat sudah dapat mendalang secara utuh lakon yang dimainkannya dari malam hingga pagi.

Sejak itu, Supangkat meniti kariernya, memenuhi undangan mendalang dari satu tempat ke tempat lainnya, hingga ia dikenal sebagai dalang yang memiliki keistimewaan dalam sabetan (gerakan cepat memainkan wayang, terutama saat berkelahi). Bila menyebut dalang Ki Supangkat, khalayak akan tertuju pada keunikan Sabetan Gagrak Porongan. Dalam menyajikan lakon, Supangkat konsisten menyajikan lakon secara utuh. Saat ini, sebagian dalang menyisipkan kesenian lain seperti dangdut atau campur sari dalam pertunjukannya sebagai gaya kompromi dengan selera penonton.

“Wayang tidak dapat dicampur dengan campur sari atau lainnya. Jalan cerita harus runtut dan lengkap. Biarkan penonton anteng sampai gemyar menikmati pakem Porongan”, demikian Supangkat menuturkan gaya mendalangnya. Dalam penggunaan gaya bahasa, maestro dalang ini memilih apa yang ia sebut “coro Suroboyo”, yaitu bahasa Jawa yang kasar dan jelas sehingga menurutnya gampang ditompo (mudah dimengerti) oleh masyarakat.

Di mata para mayang (pemain musik yang mengiringi dalang), Supangkat dikenal sebagai dalang yang rendah hati dan peduli. Meskipun saat ini sudah memasuki era telepon pintar, ia tidak pernah mengajak kerja melalui SMA atau WA. Supangkat selalu menyempatkan diri mengunjungi rumah para mayang bila mereka akan tampil bersama. Dalam hal waktu, Supangkat menghormati ketepatan. Ia dan rombongannya akan meninggalkan mayang yang terlambat berkumpul. Konsekuensinya, yang terlambat harus jalan sendiri menuju lokasi pertunjukan.

diambil dari Buku Profil Penerima Anugerah Kebudayaan Tahun 2018

TINGGALKAN KOMENTAR