Penerima Anugerah Kebudayaan 2017 Kategori Komunitas: Komuntas Ulu Amber Nagari Lubuk Pandan

0
567

Komunitas ulu ambek adalah perkumpulan-perkumpulan penggiat permainan rakyat yang disebut ulu ambek di Minangkabau, khususnya di nagari-nagari (pemerintahan desa tradisional) Kabupaten Pariaman, Sumatera Barat. Komunitas penyokong dan penyemarak kegiatan tradisional alek nagari (festival desa) ini didukung oleh tokoh- tokoh masyarakat dan pemuka adat yang disebut niniak mamak, yakni pangulu (pemimpin) dan rajo (raja)) serta anggota masyarakat biasa seperti para pemuda, pendekar, pemburu, seniman, dan mereka yang ikut berpartipasi dalam semarak kegiatan permainan rakyat ini. Ulu ambek—juga disebut luambek—itu sendiri adalah gelanggang pertunjukan seni bela diri (silat) tradisional yang diselenggarakan dalam keramaian adat alek nagari, festival desa, yang diselenggarakan dari rakyat untuk rakyat dan menjadi instrumen pencerahan tradisi kepemimpinan yang berlangsung dari generasi ke generasi.

Dalam percakapan dengan Komunitas Ulu Ambek Nagari Lubuk Pandan, muncul dua fenomena penting yang membutuhkan solusi, terutama oleh para pemangku kepentingan. Pertama, tidak diragukan lagi bahwa mereka secara umum bertekad melestarikan ulu ambek sebagai warisan tradisi sampai kapan pun. Pasalnya, selain sebagai identitas kultural, karya budaya ini memiliki fungsi sosial yang begitu banyak, serta di dalamnya menyimpan nilai-nilai moral, bahkan religiositas. Akan tetapi, realitasnya, untuk bisa terus mempertahankan hal itu semakin membutuhkan kerja keras, lantaran perkembangan masyarakat kita secara umum semakin pragmatis dan materialistis. Kedua, kalangan remaja semakin tidak tertarik untuk bergabung di komunitas ulu ambek untuk mempelajari silek bayang. Mereka lebih tertarik pada hal-hal kekinian. Seperti diakui oleh pesilat remaja David Ariyaldi—siswa kelas III SMP Pakandangan yang juga anggota Komunitas Ulu Ambek Nagari Lubuk Pandan— bahwa kawan-kawannya tidak suka terhadap tradisi kuno itu, dan lebih tertarik atau memilih main “media sosial” lewat gawai yang mereka nilai lebih keren. “ Kalau saya ikut ulu ambek karena saya ingin ikut melestarikan tradisi yang banyak mengandung nilai-nilai kebaikan,” tuturnya.

Nah, sudah barang tentu jika para remaja tidak menyukai ulu ambek maka proses kaderisasi akan terganggu dan mengancam kelestarian ulu ambek di masa depan. Inilah beberapa pekerjaan rumah kita di tengah arus perubahan zaman.

TINGGALKAN KOMENTAR