Pelestarian Kekayaan Budaya melalui Tradisi Adat Pukul Manyapu di Negeri Mamala

0
1488

Notice: Trying to get property 'roles' of non-object in /home/website/web/kebudayaan.kemdikbud.go.id/public_html/wp-content/plugins/wp-user-frontend/wpuf-functions.php on line 4663

Masyarakat memadati Stadion Mini di Lapangan masjid Negeri Mamala
Masyarakat memadati Stadion Mini di Lapangan masjid Negeri Mamala

AMBON – Jumat (24/7/2015) masyarakat Negeri Mamala mempersiapkan diri untuk menggelar tradisi adat Baku Pukul Manyapu. Kegiatan tahunan itu kali ini tampak berbeda. Di tengah isu provokatif yang yang hadir karena Negeri Mamala dan negeri tetangganya sempat terlibat bentrok, acara Baku Pukul Manyapu dijaga oleh ratusan aparat TNI/Polri.

Tahun 2015, Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon memberikan dukungan bagi masyarakat Negeri Mamala dan tetangganya Morela untuk menyelenggarakan tradisi tersebut. Hal ini berkaitan dengan pendukungan kekayaan budaya yang akan diajukan menjadi warisan budaya takbenda Indonesia.

Acara dibuka secara resmi oleh Bapak Stevanus Tiwery, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon dan dimeriahkan dengan penampilan tarian tradisional masyarakat Mamala. Riuh penonton memenuhi stadion mini yang berada di depan masjid Negeri Mamala menyambut parade puluhan peserta baku pukul manyapu.

Hadir dalam acara di Negeri Mamala, Kasubdit Program dan Evaluasi Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Bapak Ahmad Mahendra, diberikan kehormatan untuk ikut ambil bagian dalam pukulan perdana. Bersama dengan empat orang tamu undangan lainnya yang didaulat menjadi pemukul perdana, Bapak Ahmad Mahendra diberikan 2 (dua) buah lidi pohon Enau untuk memukul perwakilan peserta.

Kasubdit Program dan Evaluasi melakukan pukulan perdana
Kasubdit Program dan Evaluasi melakukan pukulan perdana

Peserta berdiri berhadapan menggunakan celana berwarna merah dan putih serta ikat kepala yang juga menutup telinga berwarna senada. Dipimpin oleh seorang wasit dengan pluitnya, peserta dibekali segenggam lidi buah enau yang akan digunakan untuk baku pukul. Sesaat setelah pluit dibunyikan, peserta mulai melakukan pukulan. Peserta akan bergantian memukul menurut pluit yang dibunyikan oleh wasit.
Bunyi pukulan lidi, kulit robek, tetesan darah tidak menyurutkan semangat para peserta untuk terus baku pukul. Bahkan tidak terlihat sedikit pun raut kesakitan di wajah mereka. Seusai baku pukul, panitia langsung turun untuk mengoleskan minyak Tasala, asli dari Negeri Mamala yang dipercaya dapat menyembuhkan luka-luka tersebut dengan cepat tapa meninggalkan bekas.