Nurlaila, Maestro Seni Sulam Kain Kerawang Gayo

0
4731

Penerima Anugerah Kebudayaan Kategori Maestro Seni Tradisi tahun 2016. Berbekal pengalaman belajar menyulam kain kerawang Gayo selama satu minggu, Nurlaila—yang oleh masyarakat sekitarnya lebih dikenal dengan panggilan Nek Amin—mulai mengukir sejarah hidup baru. Sebelumnya ia banyak pergi ke kebun untuk berladang. Namun, berkat ketekunan dan keuletannya itu, Nurlaila menjelma menjadi teladan yang patut ditiru oleh siapa pun. Ia mahir menyulam, meski ilmu itu didapatkannya dalam waktu sangat singkat. Berkat kerja keras dan kesungguhannya yang tak bertepi, Nurlaila menguasai kemampuan menyulam kain kerawang Gayo di atas rata-rata yang lainnya.

Berkunjung ke rumahnya di Takengon, Aceh, suguhan pemandangan alam yang sangat indah langsung menyergap mata. Setelah menempuh sekitar sembilan jam perjalanan lewat darat dari Banda Aceh ke Takengon, tepatnya di Lelabu, Kecamatan Bebesan, kita bissa menyaksikan sebuah desa yang dikelilingi perbukitan hijau dan persis di tengahnya terdapat danau besar, yaitu Danau Laut Tawar. Rumah kediaman Nurlaila alias Nek Amin persis berada di atas perbukitan, dan di halaman depan terhampar pohon-pohon kopi yang buahnya mulai memerah.

Dengan penuh suka cita, Nurlaila mulai bercerita bahwa sejak usianya semakin lanjut kegiatan menyulam kain kerawang pun sudah tidak lagi aktif sebagaimana dulu ketika masih muda. Saat ini aktivitasnya sehari-hari lebih banyak ia curahkan dengan mengajar ngaji bagi anak-anak SD. Akan tetapi begitu ada anak-anak muda datang untuk belajar menyulam kepadanya, Nurlaila selalu menerima mereka dengan tangan terbuka.

Nurlaila mengawali jalur pendidikan formalnya di sekolah rakyat (SR) yang kemudian dilanjutkan ke pendidikan guru agama (PGA). Akan tetapi karena waktu itu kondisi politik tidak kondusif, akhirnya ia pun tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Tidak lama setelah putus sekolah, Haji Malim melamarnya untuk dijadikan istri. Itu terjadi pada tahun 1966. Setelah menikah, kegiatan sehari-hari ia isi dengan berladang di kebun kopi dan bertanam padi di sawah, atau sesekali menjadi buruh tani di perkebunan tetangga. Semua itu dilakukannya guna melanjutkan bahtera rumah tangga mereka yang masih seusia jagung itu. Saat ini, dari hasil perkawinannya dengan Haji Malim, Nurlaila memiliki tujuh anak (tiga putra dan empat putri), yang  memberinya 26 orang cucu.

new-picture-1Selama ia dan suaminya bekerja di kebun, ia mendapatkan upah beras yang dapat dipakai untuk makan sehari-hari. Dari upah inilah mereka berdua bertahan hidup selama bertahun-tahun. Kisah penuh keprihatinan pun berangsur berubah membaik, tepatnya ketika Nurlaila mulai mempelajari teknik menyulam kain kerawang Gayo yang memang menjadi ciri khas di daerah tersebut. Titik balik pengembangan ini berawal dari seorang kakak yang mengerawang di Bestalu, dan pada saat itu di desa tempat Nurlaila tinggal ada rencana kursus untuk berkerawang (menyulam kain kerrawang). Kejadian ini berlangsung pada awal tahun 1980-an. Di sanalah, Nurlaila bersama lima temannya belajar teknik berkerawang selama satu minggu. “Kami membayar kakak itu untuk belajar selama satu minggu. Awalnya kami juga tidaklah terlalu bagus mengerawang, akan tetapi secara perlahan kami pun bisa belajar untuk mengerawang dengan lebih rapi,” kenang Nurlaila.

Berkat ketekunan dan kerja keras, Nurlaila pada akhirnya mampu menghasilkan kain kerawang yang dapat dijual ke Toko Bintang Timur di Takengon. Produk-produk yang dihasilkan oleh tangan kreatifnya bermacam-macam: mulai dari sajadah yang digunakan untuk shalat, atau kain yang dipakai untuk upacara pernikahan dan upacara adat lainnya. Sejak saat itu, banyak yang mulai memesan kain kerawang sulaman Nurlaila. Semakin banyak yang memesan, ia pun semakin giat berkerawang. Banyak di antara mereka yang mengetahui produk Nurlaila dari mulut ke mulut melalui konsumen yang terus berdatangan ke rumahnya. Semua karya yang dihadirkan merupakan kreasi tangan langsung.

Menurut Nurlaila, proses pembuatan kerawang Gayo yang ia tekuni semua berasal dari intuisi. Ketika ingin berkerawang, ia membuatnya langsung tanpa digambar terlebih dahulu. Meski tanpa digambar terlebih dahulu, kerawang yang dihasilkan sangat presisi. Terdapat perpaduan di setiap benang yang saling menjalin menjadi untaian bunga indah. Bagi siapa pun yang melihat hasilnya olah tangan Nurlaila pasti akan dibuat berdecak kagum. Kerumitan hubungan antar-benang dapat berkaitan menjadi gambar yang memiliki makna serta menyiratkan keindahan. Tanpa kesabaran si pembuatnya, tidak mungkin maha karya tersebut dapat lahir.

Memang, kerawang Gayo sendiri merupakan busana adat suku Gayo yang biasanya dipakai saat melangsungkan acara resepsi pernikahan, acara tarian adat dan budaya secara turun-temurun. Kerawang itu sendiri merupakan hasil cipta karsa dari manusia yang menjadi nilai estetika dalam prilaku kehidupan yang kemudian menjadi budaya. Sementara budaya itu sendiri adalah hasil refleksi manusia dengan alam. Hanya manusia yang memiliki cita rasa estetika yang tinggilah yang bisa menghasilkan karya seperti kerawang Gayo.

new-picture-2Seiring kemajuan zaman, kini kerawang Gayo telah ikut berkembang menjadi salah satu motif dalam seni ukir Gayo. Ukiran kerawang saat ini menjadi salah satu ukiran yang paling diminati oleh masyarakat lokal, bahkan hingga ke luar daerah Gayo. Ukiran yang terdapat di kerawang Gayo kerap di desain menjadi pakaian yang sedang ngetren, khususnya pakaian wanita, baik anak-anak, remaja maupun dewasa. Motif kerawang Gayo sangat khas. Setiap warna dan ukiran memiliki makna dan arti tersendiri, juga yang membedakan baju adat satu daerah dengan daerah lain adalah warna dan motif yang terdapat pada baju adat. Motif-motif yang terdapat pada adat Gayo mulai dari apa yang mereka namakan mata itik, pucuk rebung, sesirung, leladu, mun berangkat, tulen iken, puter tali, bunge kipes, gegaping, hingga panah. Untuk warna dasar, kerawang Gayo memakai kain warna item (hitam), sedangkan untuk motifnya menggunakan campuran warna ilang (merah), putih (putih), ijo (hijau) dan using (kuning). Hitam merupakan hasil keputusan adat, merah sebagai tanda berani (mersik) bertindak dalam kebenaran, putih sebagai tanda suci dalam tindakan lahir dan batin, hijau sebagai tanda kejayaan dan kerajinan (lisik) di dalam kehidupan sehari-hari, dan kuning sebagai tanda hati-hati (urik) dalam bertindak. Jadi, berdasarkan keterangan dari warna-warna kerawang, masyarakat Gayo dilambangkan sebagai masyarakat yang mersik (berani), lisik (rajin) dan urik (teliti).

Di penghujung pertemuan, Nurlaila sempat mengungkapkan kekhawatirannya jika tidak ada lagi generasi muda yang melanjutan kerawang Gayo tersebut. Ia berpesan bahwa berkerawang itu mudah asal mau bekerja keras dan bersunguh-sungguh. Saat ini kedua anaknya sudah pandai berkerawang. Ada juga anak-anak di sekitar rumahnya yang pernah belajar cuma-cuma alias gratis kepadanya, akan tetapi ia sedikit kecewa karena keseriusan mereka tidak pada kerrawang Gayo tidak berjangka panjang. Ia pun berharap semoga di kemudian hari akan semakin banyak lagi orang yang punya kemampuan berkerawang Gayo, sehingga seni berkerawang tidak hilang di tanah kelahirannya.

new-picture-3Biodata

Nama               : Nurlaila (Nek Amin)

Lahir                : 1 Juli 1949

Profesi             : Pengrajin Kerawang Gayo

Alamat             : Desa Lelabu, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah

Penghargaan

Anugerah Kebudayaan 2016 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk Kategori Maestro Tradisi.