Ngrebeg Keris Ki Baru Gajah, Satu tradisi dan ritus masyrakat

0
1045

Ngrebeg merupakan salah satu tradisi dan ritus masyarakat di Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan Provinsi Bali. Sejarah awal keberadaan ritus ngrebeg berkaitan dengan kedatangan pendeta Hindu dari tanah Jawa yaitu Rsi Markandeya, disebut pula dengan nama Danghyang Nirartha, Danghyang Dwijendra, ataupun Pedanda Bawu Rawuh. Kedatangannya ke Bali dalam rangka memberi pendidikan spiritual pada masyarakat Bali. Diceritakan bahwa Rsi Markandeya tiba di Bali  tahun saka 1411 (1489 Masehi). Jejak perjalananya dimulai dari ujung barat Pulau Bali yakni di pesisir barat tepatnya di Desa Perancak Kabupaten Jembrana Bali. Di Desa Perancak beliau mendirikan tempat pemujaan di tepi laut bernama Pura Perancak. Rsi Markandeya kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur melalui beberapa desa hingga sampai di daerah Tabanan. Di Tabanan beliau menemukan sebuah tempat di pesisir pantai selatan yang indah, berada di wilayah Desa Beraban. Di tempat tersebut beliau mendirikan dua tempat pemujaan diberi nama Pura Tanah Lot dan Pura Pekendungan. Pada saat itu, masyarakat Desa Beraban sedang mengalami musibah hama tanaman yang menyebabkan masyarakat mengalami kesusahan karena tidak memperoleh hasil pertanian. Untuk mengatasi masalah tersebut Rsi Markandeya bertemu dengan Ki Bendesa Beraban (pemimpin Desa Beraban) dan memberikan sebuah keris sakti bernama Ki Baru Gajah. Dang Hyang Nirartha menyarankan agar membunuh penyebar hama dengan keris tersebut serta melakukan doa dan pemujaan menggunakan keris Ki Baru Gajah untuk mengusir hama tanaman pada lahan pertanian. Sejak saat itu masyarakat melakukan upacara mengusir hama menggunakan sarana keris Ki Baru Gajah disebut ngrebeg. Sesuai bisama Dang Hyang Dwijendra, upacara ini dilakukan secara berkesinambungan dari generasi ke generasi dan diyakani sebagai upaya untuk mengusir hama dan melestarikan sistem pertanian.

Ketika Kerjaan Tabanan menguasai Desa Beraban, Keris Ki Baru Gajah yang disimpan oleh Ki Bendesa Beraban diminta oleh Raja Tabanan untuk disimpan di istana. Ki Bendesa Beraban menyerahkan keris tersebut dengan harapan keris itu tidak berada jauh dari masyarakat Beraban. Memperhatikan keinginan masyarakat, Raja Tabanan memerintahkan saudaranya termuda untuk mendirikan istana di Desa Kediri yang membawahi Desa Beraban dan menyimpan keris Ki Baru Gajah di Puri Kediri. Sejak saat itu keris Ki Baru Gajah disimpan di Puri Kediri dan pelaksanaan ngrebeg dimulai di Puri Kediri. Sampai saat ini upacara nedunang (menurunkan) dan perjalanan memundut (membawa) keris Ki Baru Gajah ke Pura Pekendungan dimulai dari Puri Kediri.

Upacara Ngerebeg berlangsung pada hari setiap 210 hari yang jatuh pada hari Sabtu (Saniscara) Kliwon, wuku Kuningan. Proses upacara diawali dengan menyambut tibanya Keris Ki Baru Gajah yang diusung dari Puri Kediri dan diiringi oleh pangrebeg dari Desa Pakraman Kediri. Dari Puri Kediri keris Ki Baru Gajah diusung berjalan kaki menuju  menuju Pura Luhur Pakendungan yang berjarak  kurang lebih 11 kilometer. Ketika sampai di Pura Luhur Pakendungan, keris Ki Baru Gajah ditempatkan di Meru Payogan Ida Bhatara Hyang Sedhana Tra. Selanjutnya dilakukan upacara ngabejiang (menuju mata air) untuk menyucikan sarana upacara. Kembali dari beji Ida Bhatara berkeliling tiga kali (mapurwwadaksina) di Pangubengan, di sana disambut dan dipersembahkan tapakan matiti mamah kebo suci. Di Bale Agung dipersembahkan banten datengan berupa linggih kebo 35/54 dan linggih bawi (babi) 35/54. Pengiring Ida Bhatara kembali berkeliling tiga kali (mapurwadaksina) di payogan baru kemudian munggah ke meru. Selanjutnya dipersembahkan wangi, rayunan, gayung, wajik cane. Setelah itu barulah dilaksanakan pangilen pujawali. Apabila Pujawali/patirthan Madhya, maka ngabejiang dilaksanakan ngalumbung dan Ida Bhatara tidak mapralawat. Selain itu, pangilenan pujawali di-puput oleh Pamangku Gede. Setelah ilen pujawali selesai, diikuti tarian Baris Sang Gede dari Desa Pakraman Kedungu, juga dilengkapi dengan upakara. Kemudian dilanjutkan dengan ilen payung pagut, dilengkapi lagi dengan ilen tajen taluh, tajen kelapa, dan tajen tingkih, yang dilaksanakan oleh para pamangku dan prasayang secara bersama-sama. Upacara terakhir adalah makincang-kincung. Selanjutnya ngelebarang karya di pangubengan, diiringi dengan tarian rejang pendet dan rejang dewa dan berputar tiga kali di pangubengan mengikuti putaran purwwa daksina, lengkap dengan sarana upacara lainnya. Apabila Patirthan Madhya, tidak ada ilen payung pagut dan makincang-kincung. Setelah dilaksanakan upacara nglebar karya, Ida Bhatara nyejer tiga hari, mulai dari hari Minggu, Umanis, Wuku Langkir sampai dengan Selasa, Pon, Wuku Langkir. Kemudian Ida Bhatara masineb disertai dengan mempersembahkan upakara panyineban yang di-puput oleh Jro Mangku Gede. Setelah nyineb, Bhatara Keris Ki Baru Gajah diusung/diiring kembali ke payogan di Puri Kediri.

Selain Ngebeg dilakukan pula upacara Ngisah yang berlangsung pada tumpek landep (sabtu Klowon wuku landep) yang diyakini sebagai hari pebersihan senjata tajam. Pada saat ini dilakukan pembersihan terhadap keris pusaka Ki Baru Gajah menggunakan sarana banten ayaban, kemudian Keris Pengabih dan Keris Ki Baru Gajah yang selanjutnya dibawa ke Manjang Siluang memulai proses Nglisah oleh penglingsir Puri Kediri, Tabanan. Pertama, adalah membersihkan kedua keris menggunakan air kelapa gading. Keris tersebut dibersihkan dengan kapas dan air dari pembersihan keris diletakkan di dalam sebuah kendi disebut lisah. Langkah kedua adalah menggunakan jeruk nipis. Jeruk nipis dibelah menjadi dua dan kembali digosokkan pada keris Ki Baru Gajah dan keris pengabih. Setelah digosokkan pada kedua keris, jeruk tersebut dicampur dengan air kelapa gading.

Langkah terakhir menggunakan minyak yang berasal dari buah kelapa gading. Keris Ki Baru Gajah dan Keris Pengabih dibersihkan kembali dengan kapas. Selanjutnya minyak tersebut dicampur dengan air pembersihan pertama dan kedua. Setelah prosesi Nglisah selesai, Keris Ki Baru Gajah beserta Keris Pengabih ditempatkan di pelinggih Ida, yaitu di Pepelik merajan Agung Puri Kediri, Tabanan yang disebut Manjang Siluang. Kemudian dilanjutkan upacara yang berkaitan dengan rainan Tumpek Landep. Air lisah (air pembersihan) keris tersebut selanjutnya digunakan sepagai air suci yang dipercikkan di sawan dan kebun dengan harapan sawah dan kebun terhindar dari hama.

Masyarakat di Kecamatan Kediri yakin bahwa keris Ki Baru Gajah merupakan pemberian Ida Dang Hyang Dwijendra yang mampu mengusir hama penyakit untuk kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, fungsi tradisi Ngrebeg Keris Ki Baru Gajah yang dilaksanakan oleh masyarakat Kecamatan Kediri adalah sebagai berikut; 1) Pelengkap upacara Dewa Yadnya, khususnya penangluk merana (membasmi hal-hal negatif). Hal ini sesuai dengan bhisama Ida Dang Hyang Dwijendra untuk menjaga dan mengupacarai keris Ki Baru Gajah tersebut agar kelak selalu memberikan kesejahteraan. 2) Sebagai pendidikan masyarakat terutama anak-anak selaku generasi penerus selalu memelihara tanah pertanian yang terdapat di alam sekitar. Salah satu di antaranya adalah menjaga kualitas air, karena air selain sebagai sumber kehidupan juga dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan lainnya terutama untuk mengairi sawah para petani. Jika kualitas air tanah pertanian terjaga, hama penyakit pun tidak akan menyerang tanaman pertanian. 3) Mempererat hubungan sosial, melalui tradisi ngrebeg masyarakat di Kecamatan Kediri merasa satu, satu ikatan. Mulai dari persiapan, pelaksanaan, dan setelah upacara (tradisi) mereka bergotong royong memikul tugas sebagai pengabdian dan memohon keselamatan kepada Tuhan. 4) Pengusir hama penyakit, sejalan dengan mitos keris Ki Baru Gajah yang digunakan untuk membunuh hama tanaman bernama Buta Babahung. Berdasarkan mitos tersebut tradisi Ngrebeg diharapkan hama tikus atau hama tanaman lainnya tidak merusak tanaman padi.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901010

Nama Karya Budaya :Ngrebek keris ki baru Gajah

Provinsi :Bali

Domain : Adatr istiadat masyarakat,Ritus,dan perayaan-perayaan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda