“Nenek Mallomo, Lelaki Itu, dan Sepotong Kayu yang Bersandar”

0
17954

Pemenang Lomba Penulisan Cerita Rakyat 2015,
KATEGORI UMUM/DEWASA,
Penulis: Sabir.

Adalah Nenek Mallomo, penasihat kerajaan Sidenreng ratusan tahun yang
lalu, yang kejujuran dan kecerdasannya telah dikenal di setiap jengkal tanah
kerajaan, tersohor hingga ke kerajaan tetangga. Bertanyalah padanya, dia
tak butuh tunduk berpikir untuk mencari jawaban. Ketika dia yang bertanya,
bersiaplah bertanya ulang demi menemukan jawabannya. Dia pernah ditantang
membuat tali dari debu, dan siapapun tak percaya jika lelaki bertubuh kekar
itu akan melakukannya dengan sempurna. Berbekal pelepah daun pisang yang
kering, dia mencariknya menjadi tiga bagian, mengepangnya, lalu diangkatnya
sarungnya dan kepangan pelepah pisang itu dia pelintir di pahanya hingga
membentuk sebuah tali.
“Tapi, La Pagala, tali itu terbuat dari pelepah pisang, bukan dari debu.”
ungkap Raja La Patiroi saat menyaksikan pertunjukan itu.
Nenek Mallomo menunduk takzim di depan Raja La Patiroi, lalu meletakkan
tali di tanah, terakhir memantik korek berbahan bakar kapuk. Tali itu kemudian
terbakar dan menyisakan abu pembakaran yang berbentuk tali. Melihat itu, Raja
La Patiroi tersenyum puas dan menggelengkan pelan kepalanya tanda salut.
“Saya tak salah pilih mengangkatmu sebagai penasihat kerajaan, La Pagala.”
Lagi-lagi Nenek Mallomo menunduk takzim.
La Pagala adalah nama aslinya. Nenek Mallomo hanyalah gelar dari kata
Mallomo yang berarti memudahkan. Di tangannya semua akan menjadi mudah.
Setiap kalimatnya adalah petuah, gerak-geriknya adalah teladan, gagasannya
selalu jadi harapan. Pun kata ‘nenek’ adalah gelar untuk orang yang dituakan
sekaligus dihormati karena orang-orang Bugis tak mengenal kata kakek. Mereka
biasa menyebut nenek laki-laki dan nenek perempuan.
Kecerdasan dan kejujuran Nenek Mallomo sebagai penasihat Raja La
Patiroi membawa Kerajaan Sidenreng sebagai kerajaan dengan hasil bumi
yang melimpah tanpa hama, hewan ternak yang berbiak tanpa penyakit,
rakyat sejahtera tanpa kekurangan. Seluruh rakyat dan penghuni istana
bersatu membangun kerajaan dengan modal kerja keras dan kejujuran. Resopa
temmangingngi namalomo naletei pammase dewata1. Kerja keras tanpa putus
asa akan mendatangkan rahmat dari Tuhan.
****
Kayu bitti itu tumbuh di sepetak kebun. Batang kokohnya lurus menjulang.
Setiap angin berembus, tangkainya pun kokoh tak goyah. Hanya ranting yang
melambai, dan daun-daunnya yang ikut menari bersama angin. Beberapa
rantingnya menjalar hingga ke atas petak sawah di sebelahnya. Bitti memang
kuat. Kualitasnya di atas akasia, di bawah ulin. Buahnya pahit hingga tak ada
hewan yang berburu untuk memperebutkannya. Saat buahnya yang ukurannya
sedikit lebih besar dibanding telur cecak, telah matang, akan berubah warna
menjadi hitam pekat. Buah-buah itu akan ditakdir terempas ke tanah. Jika
bukan karena kekuatannya, batang dan tangkainya pun akan ditakdirkan jadi
debu setelah menjadi kayu bakar. Saat musim bunga dan lebah mendatanginya,
yakinlah bahwa madu yang akan dihasilkannya berasa pahit. Kayu bitti manis
karena batangnya yang bisa menjadi tiang rumah panggung, dan tangkainya
untuk perabot dan peralatan pertanian.
Dan siapa nyana, kelak kayu itu akan membuat seluruh penduduk negeri
merana, bahkan seseorang harus dihukum mati karenanya.
****
Lelaki itu meneguk air dari tempat air minumnya. Seperti halnya petani
yang lain, tempat air minumnya terbuat dari buah majah. Untuk membuat
tempat air minum seperti itu, pangkal buah majah terlebih dahulu dilubangi
sediameter benggol kemudian isi buahnya dikeluarkan. Majah yang telah
bersih dan dilubangi, dikeringkan hingga benar-benar tak menyisakan bau dari
aroma buahnya. Penutupnya, cukuplah dengan meraut kayu sebesar diameter
1 (Bugis) Kerja keras tanpa kenal lelah akan mendatangkan rahmat Tuhan. (Kalimat Nenek Mallomo yang paling
terkenal bahkan tertulis dengan aksara Lontara di depan kantor Bupati Sidenreng Rappang).

lubang yang digunakan sebagai mulut tuang. Diameter rautan kayu tersebut
haruslah dengan suaian pas, tanpa toleransi, agar air dalam wadah majah
tak bisa merembes ke luar. Setengah hari membajak sawah dengan bantuan
sepasang kerbaunya, membuat tegukan lelaki itu terdengar keras. Beberapa
tetes air minumnya tumpah dan membasahi baju tipisnya yang telah kuyup
oleh keringat.
Hari ini dia membajak sawah dengan garu, setelah tiga hari yang lalu dia
menggunakan tenggala untuk membalikkan tanahnya. Sepasang kerbau yang
dia pakai membajak, berdiri di tengah sawah, masih dengan perlengkapan bajak
yang terpasang di pundak. Sepasang kerbau itu setia menunggu tuannya untuk
melanjutkan pekerjaan. Hanya ekornya yang liar mengempas ke kanan dan ke
kiri untuk mengusir lalat dan kutu yang hinggap di tubuhnya.
Lelaki itu kemudian mengambil batang rotan sebesar ibu jari yang
dijadikannya pecut, lalu kembali memandu kerbau bajaknya untuk melanjutkan
pekerjaannya. Hingga menjelang siang, tanah bajakannya baru selesai
seperempatnya. Dan baru tiga kali keliling setelah istirahat minum tadi, tibatiba
satu mata garunya patah.
“Sepertinya kalian harus istirahat lebih awal,” ucapnya sambil melepas ajoa2.
“Kalian makan yang banyak, ya!” lanjutnya sambil mengelus kepala kerbaunya
secara bergantian.
Lelaki itu kemudian kembali ke pematang. Bukan untuk beristirahat, tapi
untuk membuat mata garu demi mengganti yang telah rusak. Saat matanya liar
mencari pohon di pematang sawah untuk dijadikannya mata garu, tiba-tiba dia
melihat potongan tangkai bitti sebesar pergelangan tangan orang dewasa. Kayu
itu bersandar di batang bitti yang tumbuh di kebun tetangga.
Lelaki itu menengadah ke atas, tepatnya di ranting-ranting bitti. Tak
didapatinya lagi tangkai yang menjulur ke sawahnya. Tangkai yang menjulur ke
sawahnya itu telah dipotong oleh pemiliknya dan tangkai itu kini bersandar di
batang bitti. Kebetulan saya butuh kayu untuk mengganti mata garuku yang
rusak. Batinnya sambil menjulurkan tangan ke balik pagar kebun dan mengambil
kayu itu. Tak cukup sejam, mata garu yang baru telah siap dipakai.
Dan siapa nyana, kelak garu dari bitti itu akan membuat seluruh penduduk
negeri merana, bahkan seseorang harus dihukum mati karenanya.
2 (Bugis) Kayu yang dipasang di pundak kerbau bajakan, untuk menarik tenggala atau garu.

****
Daun-daun meranggas. Padi yang sebentar lagi akan mengeluarkan bulir,
kini menguning kering. Petak-petak sawah yang dulu subur, kini kerontang dan
retak-retak. Sungai kering. Sumur-sumur yang kedalamannya telah ditambah
pun, tetap tak menemukan mata air. Di mana-mana tercium bau bangkai dari
ternak yang mati kehausan dan kelaparan. Raja La Patiroi gelisah. Ini yang
pertama kalinya terjadi di wilayah kerajaannya.
“La Pagala, kamu tahu mengapa saya memanggilmu?”
Nenek Mallomo mengangguk takzim.
“Tentang kemarau panjang ini, Puang3? Saya pun sedih. Sangat sedih dengan
penderitaan rakyat yang didera kemarau.”
Tatapan mereka beradu dan sebagai penasihat kerajaan, Nenek Mallomo
memilih mengalah dan menerbangkan tatapannya ke penjuru saoraja4 yang
lain. Apalagi tatapan Raja La Patiroi sangat menuntut sebuah solusi dan
sebagai orang yang bergelar Mallomo, dia harus bisa menemukan solusi yang
memudahkan.
“Puangku La Patiroi, izinkan saya menemui rakyat. Jika saya tak bisa
menemukan solusi, paling tidak saya bisa tahu penyebab kemarau panjang ini.”
Nenek Mallomo mengakhiri kalimatnya dengan menunduk takzim,
melangkah mundur hingga tangga saoraja, lalu berbalik menuruni tangga setinggi
lima meter. Dia berjalan, terus berjalan, menyusuri jalan besar yang menuju ke
arah Kerajaan Soppeng di ujung selatan. Dalam setiap ayunan langkahnya, dia
terus mencari dan mencari solusi agar bisa keluar dari kesulitan ini. Tapi adakah
yang bisa memberi solusi untuk keluar dari paceklik karena kemarau panjang?
Nenek Mallomo meyakini bahwa kemarau ini turun dari langit. Diturunkan oleh
Puang Seuwae5, karenanya hanya Dialah yang bisa mengakhirinya.
Raja La Patiroi pernah memujinya saat dia bisa membuat tali dari debu,
bahkan sang raja pernah menepuk bahunya pertanda kagum bercampur gembira
ketika kerajaan bisa menjadi pemenang dalam perlombaan lumbung padi, dan
itu karena ide cerdas Nenek Mallomo. Saat itu kerajaan tetangga menantang
Kerajaan Sidenreng untuk adu jumlah padi. Tanpa berniat menipu ataupun
3 (Bugis) Panggilan untuk ningrat
4 (Bugis) istana
5 (Bugis) Tuhan yang Esa

berbuat curang, Nenek Mallomo memerintahkan rakyat untuk mengangkut
semua padi yang ada di lumbung, yang ada di loteng-loteng rumah, ataupun
yang ada di kolong-kolong rumah. Semua padi dipanggul ke gunung batu
Allakkuang. Di sana padi disusun mengikuti bentuk gunung, hingga tampaklah
padi itu seperti gunung raksasa. Utusan kerajaan tetangga tak berani datang
untuk menghitung jumlah padi karena dalam perjalanan dia sudah melihat
gunung padi yang menjulang.
Tapi adakah solusi untuk mengatasi kemarau? Lagi-lagi pertanyaan itu hadir
menemani langkahnya. Pertanyaan yang tak berjawab hingga langkahnya tiba
di bawah sebatang beringin dan dia memilih istirahat di bawahnya. Beringin
itu tumbuh di pinggir jalan, dekat simpang tiga menuju Kampung Buae yang
masih wilayah kerajaan. Tanah di bawah beringin itu kering kerontang. Matahari
menyengat kulit ketika dia memilih istirahat di sana. Dalam doa yang khusyu,
berharap hanya pada Puang Seuwae, dia menghentakkan kakinya di tanah
kering di bawah beringin, tiba-tiba muncul mata air sebesar lengan, lalu sebesar
betis, bahkan sebesar batang pohon beringin di atasnya. Air itu membentuk
genangan, lalu serupa kubangan, dan terakhir menjadi sumur. Orang-orang
yang lewat dan menyaksikan ada air yang muncul di bawah beringin, berlari
dan berteriak ke arah Nenek Mallomo.
“Saya menamakan sumur ini, Sumur Citta. Airnya memang tak bisa mengaliri
sawah, tapi paling tidak kalian bisa mengambil air minum di sini.”
Rakyat hanya bisa saling tatap. Antara heran dan kagum dengan kehadiran
Nenek Mallomo yang bisa membawa mata air.
****
Kemarau belum berakhir, padahal telah berbilang tahun. Rakyat semakin
sengsara. Beberapa lumbung padi milik rakyat telah kosong. Tak ada tanaman
yang bisa mengeluarkan pucuk daun apalagi bunga dan buah. Hewan ternak
pun sudah hampir punah, beberapa yang tersisa hanya menyisakan tulang
berbungkus kulit. Satu-satunya sumber mata air adalah sumur Citta. Hanya air
mata yang mengalir di mana-mana. Bahkan beberapa rakyat meninggal karena
keracunan singkong.
Saat kemarau panjang, tanaman yang bertahan hidup hanyalah singkong
beracun. Rakyat tetap nekat mengonsumsinya demi melanjutkan hidup, meski
nyawa taruhannya. Singkong beracun yang dapatkan di hutan-hutan mereka
olah dengan memarutnya, mencucinya, lalu mengeringkannya hingga menjadi
tepung tapioka. Jika mencuci atau mengeringkannya tidak sempurna, racun
yang ada pada singkong tersebut akan membahayakan. Sebenarnya, tepung
singkong serupa itu, setelah dikukus untuk dikonsumsi, rasanya seperti ampas
karena sarinya telah bersih bersama racun. Tapi bagaimana pun rasanya, jika itu
bisa mengenyangkan, demi bertahan hidup, rakyat tetap akan mengonsumsinya.
“La Pagala, banyak rakyat yang sudah kehabisan persediaan makanan. Pihak
kerajaan harus mencari solusi untuk menyelamatkan rakyat dari kelaparan.”
“Puangku La Patiroi, tak ada solusi yang tepat kecuali menemukan penyebab
kemarau panjang ini.”
“Tapi siapa yang bisa menghentikan kemarau?” ungkap Raja La Patiroi
bernada putus asa.
“Mohon maaf, Puang. Kita bukan ingin menghentikan kemarau, itu mustahil.
Kita hanya mencari penyebab kemarau panjang ini. Ibarat penyakit, jika kita
telah menemukan obatnya, penyakit itu akan sembuh. Hujan turun, rakyat
kembali bisa bertani.”
Saoraja dilalap sepi bermenit-menit. Entah pada detak jantung yang
keberapa, Nenek Mallomo kembali bersuara.
“Beberapa tahun lalu, kita kedatangan tamu, Arung Matoa dari Kerajaan
Wajo.”
“Saya pun masih mengingat itu, La Pagala. Tapi apa hubungannya dengan
kemarau panjang?”
“Saat itu Arung Matoa bertanya padaku tentang suatu hal….”
Nenek Mallomo menghentikan kalimatnya demi melihat ekspresi wajah Raja
La Patiroi. Seperti yang ada di pikiran Nenek Mallomo, raja pun teringat dengan
Arung Matoa Wajo yang saat itu menanyakan penyebab Kerajaan Sidenreng
bisa subur, rakyat sejahtera, ternak berkembang biak tanpa penyakit, bahkan
benih bukan bibit unggul pun jika itu ditanam di tanah Sidenreng, pasti akan
tumbuh dengan baik.
“Saya masih ingat jawabanmu saat itu, La Pagala. Di negeri kami, kejujuran
dan prasangka baik pada orang lain adalah keputusan tertinggi.”
“Benar, Puang! Itu berarti rakyat atau bahkan ada di antara kita penghuni

saoraja ini yang tidak jujur.”
“Tidak jujur?”
“Iya, Puang! Dan tidak jujur itu bukan hanya berbohong. Mengambil barang
orang lain tanpa minta izin, juga adalah ketidakjujuran.”
“Lalu apa yang harus kita perbuat sekarang?”
“Pengawal kerajaan harus turun ke tengah-tengah rakyat untuk mencari
tahu siapa yang telah melakukan ketidakjujuran.”
“Jika pelakunya ditemukan…?” tanya Raja La Patiroi mengakhiri
kesangsiannya.
“Pelakunya harus dihukum mati. Dia telah membuat rakyat sengsara selama
bertahun-tahun.”
****
Pengawal kerajaan mendatangi seluruh kampung di pelosok kerajaan untuk
mengumumkan penyebab kemarau panjang sekaligus mencari orang-orang
yang pernah berbuat tidak jujur. Berhari-hari pengumuman itu digaungkan,
tak ada seorang pun yang mengaku telah berbuat tidak jujur. Semua penduduk
merasa tak pernah berbohong apalagi mencuri ataupun berlaku tak adil pada
orang lain. Bukan karena mereka takut dihukum tapi penduduk Kerajaan
Sidenreng telah menjadikan sikap jujur sebagai karakter. Apalagi, mereka tahu
akibatnya jika ada di antara mereka yang tidak jujur, selain hukuman mati, juga
bencana untuk negeri seperti kemarau panjang yang kini mengeringkan semua
mata air.
****
Malam-malam kemarau adalah dingin yang menggigilkan. Di siang hari panas
menyegat, di malam hari akan berganti menjadi dingin yang menusuk hingga
ke sumsum. Seorang lelaki dengan sarung kumal yang menyelimuti tubuhnya,
duduk di teras rumah panggungnya yang berdinding anyaman bambu. Cahaya
pelita yang biasa menemaninya, telah dipadamkannya dari tadi. Dia tak ingin
ada cahaya. Bahkan seandainya dia bisa membunuh semua jenis rayap malam
yang sejak tadi bernyanyi, dia telah memusnahkan semuanya agar malam tak
hanya identik dengan dingin dan gelap, tapi juga sepi.
Lelaki itu sejak tadi mengingat dan mengingat lagi pengumuman yang tadi

siang disampaikan oleh pengawal kerajaan di seluruh pelosok kampung. Dia
merasa tak pernah berbuat tidak jujur ataupun mencuri. Dia sangat yakin bahwa
hingga detik ini, dia tetap berpantang mencuri ataupun berbohong. Tapi entah
pada menit ke berapa lelaki itu merasa gelap semakin pekat, nyanyian rayap
malam pun tak terdengar lagi olehnya, bahkan dingin yang hingga ke sumsum
pun berganti menjadi gerah berkeringat.
Dia teringat dengan sebuah kejadian beberapa tahun lalu ketika dia
membajak sawah dan mata garunya patah. Mata garu itu lalu diperbaikinya
dengan menggunakan kayu yang diambilnya dari kebun tetangganya. Dia merasa
tak mencuri saat itu, karena tangkai kayu itu sebelumnya menjulur ke sawahnya,
meskipun akhirnya sang pemilik menebangnya dan menyandarkannya di pohon.
Dia baru sadar, tangkai kayu bitti yang diambilnya itu bersandar di pohon
berarti ada orang yang sengaja menyandarkannya dan akan kembali lagi untuk
mengambilnya.
“Saya telah mencuri!” ucap lelaki itu pada dirinya sendiri.
“Sayalah yang menjadi penyebab kemarau panjang ini tak kunjung berhenti.”
lanjutnya lagi.
Tubuhnya menggigil di antara keringat dingin yang sepertinya keluar dari
setiap pori arinya. Dia diserang sesal. Tertekan oleh rasa bersalah. Bertahuntahun
rakyat tak menikmati panen karena ulahnya. Hewan ternak banyak yang
mati karena kelakuannya. Wajarlah jika balasan setimpal untuk sikap yang tidak
jujur adalah hukuman mati. Tapi dia tak gentar dengan kata hukuman mati.
Lelaki itu akan ikhlas dengan hukuman apapun karena perbuatannya telah
menyengsarakan rakyat.
Besoknya ketika pengawal kerajaan datang lagi untuk mencari orang yang
pernah berlaku tidak jujur, dia tak berpikir dua kali untuk mengakui semua
perbuatannya.
“Saya telah mencuri. Mengambil sebatang kayu yang disandarkan di pohon.
Sayalah yang membawa kemarau panjang itu datang dan tak kunjung berhenti.”
Kedua pengawal utusan istana menatap lelaki yang baru saja menyampaikan
pengakuannya itu.
“Bukankah kamu putra La Pagala?” tanya salah seorang pengawal.

“Benar, saya anak dari La Pagala. Saya siap menjalani hukuman apapun
meskipun saya putra dari penasihat kerajaan Sidenreng ini.”
Kedua pengawal kerajaan itu kemudian pergi. Keduanya pulang membawa
cemas karena mereka ragu seorang Nenek Mallomo bersedia menghukum mati
anaknya, dan jika itu tidak dilakukan, kemarau panjang semakin tak berujung.
***
Raja La Patiroi duduk di singgasananya dengan tatapan kosong jauh ke
depan. Penyebab kemarau panjang itu telah ditemukan. Selain laporan dari
pengawal kerajaan, lelaki yang mencuri kayu pun telah datang menghadap
untuk memohon maaf dan menyatakan kesediannya diberi hukuman yang
setimpal.
“Dia harus dihukum mati, Puang!”
Semua orang terdiam mendengar kalimat untuk sang raja. Kalimat itu
keluar dari mulut Nenek Mallomo. Beberapa pengawal yang berdiri di sisi kanan
singgasana refleks saling tatap lalu memfokuskan lagi tatapan ke depan. Raja La
Patiroi yang mendengar kalimat itu, mengalihkan tatapan kosongnya ke mata
Nenek Mallomo yang sedikit pun tak membalas tatapannya. Raja La Patiroi
mencari air mata di mata teduh Nenek Mallomo yang bijak. Tapi tidak setetes
pun, bahkan tak membuatnya berkaca-kaca.
“Kamu tega, La Pagala?”
“Mohon maaf, Puangku La Patiroi. Bukan persoalan tega atau tidak. Ini
persoalan hukum adat. Ade’ temmakkeana’ temmakeappo6.”
Saoraja ditelan sunyi. Tak ada suara kecuali suara hati masing-masing.
Seikhlas apapun Nenek Mallomo menjatuhkan hukuman mati ke anaknya,
dari balik dadanya tetaplah terdengar suara tangis yang tak seorang pun bisa
mendengarnya. Dia harus berkeputusan. Memutuskan melukai dirinya sendiri
karena jika itu tak dilakukannya, sama halnya dengan bunuh diri. Anaknya telah
membuat seluruh negeri menderita, bahkan seisi negeri akan mati karenanya,
jika dia tak dihukum mati.
“Tapi, La Pagala, anakmu memang mengaku mencuri sebatang kayu untuk
memperbaiki mata garunya, tapi menurut pengakuannya juga, kayu yang
6 (Bugis) Adat tak mengenal anak dan cucu. Kalimat ini adalah salah satu kalimat Nenek Mallomo yang melegenda
hingga sekarang di Kabupaten Sidenreng Rappang.

dicurinya itu, sebelumnya adalah batang kayu yang menjulur ke tanah miliknya.
Apa itu bisa disebut mencuri?”
“Puangku La Patiroi, sebelum pengakuannya di Saoraja ini, dia juga telah
menemuiku dan menjelaskan kejadiannya. Kesalahan terbesarnya karena kayu
yang diambilnya itu adalah batang kayu yang disandarkan di pohon. Itu berarti,
batang kayu itu ada pemiliknya. Bukan kayu yang tergeletak.”
Raja La Patiroi terdiam. Tak bisa bersuara hingga Nenek Mallomo mengambil
langkah ke depannya, menunduk takzim, lalu memilih melangkah mundur dari
hadapannya hingga tangga Saoraja.
“Pengawal, siapkan pasukan kerajaan untuk mengeksekusi hukuman mati
untuk anak La Pagala!” titah raja La Patiroi saat Nenek Mallomo telah menghilang
dari depan singgasana.
“Iyye’7, Puang!”
****
Di bawah langit terik, di atas tanah Sidenreng yang telah retak, lelaki itu
berserah diri dalam pejaman mata. Dia tahu dirinya akan dipancung entah di
menit keberapa, tapi dalam pejaman matanya dia tak membayangkan algojo
kerajaan dengan alat pancungnya. Baginya, inilah takdirnya. Tuhan telah
menggariskan untuknya menjadi tumbal demi keselematan negeri. Sekali pun,
dia tak pernah terpikirkan mencuri, batang kayu yang diambilnya benar-benar
dianggapnya bisa dia miliki karena sebelumnya batang kayu itu menjulur ke
sawahnya. Tapi karena di mata Tuhan itu adalah dosa, dikirimlah kemarau
panjang itu untuk memberi teguran.
Keikhlasan menerima hukuman membuatnya hanya tersentak sekali
ketika pedang menyentuh kulit lehernya, hingga kepala lelaki itu terpisah dari
tubuh. Kepala itu seperti buah majah yang jatuh dari pohonnya lalu tergeletak
begitu saja. Darah mengalir deras membasahi tanah kering. Sebelum darah
mengering, angin datang membawa awan gelap. Langit cerah tiba-tiba pekat
berkilat. Guntur bergemuruh, lalu hujan deras turun menyatukan semua retakretak
tanah. Kemarau panjang menemukan ujung. Rakyat berlari turun ke
sawah menyusuri pematang serupa berpesta dengan tarian hujan.
Tumbuhan menghijau kembali, ternak gemuk beranak-pinak lagi. Kerajaan
7 (Bugis) Iya

Sidenreng kembali sejahtera dan berkeadilan seperti semula.
****
Ratusan tahun berlalu setelah kemarau panjang itu berakhir. Kerajaan
Sidenreng yang kini telah menjadi Kabupaten Sidenreng Rappang, dikenal
sebagai lumbung padi Sulawesi Selatan. Bahkan di Allakkuang, kampung
yang dikenal sebagai kampung Nenek Mallomo, masih terdapat sumur Citta
yang mata airnya tak pernah kering hingga kini. Nama anaknya yang telah
dikorbankan memang tak tercatat dalam lontara tapi petuah-petuah Nenek
Mallomo sebagai penasihat kerajaan tak bisa terhapus dari memori rakyat
turun-temurun meskipun semua lontara yang mencatatnya kelak telah punah.
Saking legendarisnya seorang Nenek Mallomo, namanya kini diabadikan
sebagai nama rumah sakit di kota kabupaten. Bahkan beberapa warga
beranggapan bahwa Nenek Mallomo sebenarnya adalah tomompo atau orang
yang tiba-tiba muncul di Kerajaan Sidenreng sebagai penggembala kerbau
karena tak ada seorang pun yang tahu asal-usulnya. Pernyataan bahwa Nenek
Mallomo adalah penggembala diperkuat oleh nama-nama kampung yang ada
di Sidenreng Rappang yakni, Lawa Tedong (kandang kerbau), Lainungan (tempat
meminumkan gembala), Amparita/Ampiretta (Gembala), dan Allakkuang
(tempat istirahat gembala). Namun dari mana pun dan ke mana pun silsilah
keturunan Nenek Mallomo bergaris, dia telah melegenda sebagai cendikia,
sebagai penasihat kerajaan yang saat itu berkedudukan sebagai hakim, dan
kisahnya benar-benar pernah ada. ****