Nasi Astakona, Suatu istilah dari sastra Indonesia

0
547

Astakona adalah suatu istilah dari sastra Indonesia lama yang berarti segi banyak. Nasi astakona merupakan gambaran dari banyaknya sajian dari yang dihidangkan pada suatu tempat, khusus dari talam yang bertumpang ‘banyak’ tiga atau lima susun. Banyaknya sajian itu merupakan sebuah kesatuan hidangan yang terdiri atas tiga komponen pokok makanan, yaitu nasi, lauk pauk, dan buah – buahan. Hidangan nasi astakona berasal dari tradisi kesultanan Banjar untuk suatu upacara tertentu atau santap bersama dengan adanya tamu kehormatan. Namun dalam kurun waktu selanjutnya disajikan dalam acara ‘bededapatan’, yaitu santap bersama bagi pengantin setelah bersanding di pelaminan (betataian).

Pencicipan nasi astakona. Secara simbolis penyendokkan pertama nasi astakona diambil dengan sendok kayu oleh seorang tokoh wanita tua dan menyerahkannya kepada tamu kehormatan. Bilamana dalam acara penganten, nasi tersebut diserahkan kepada kedua pengantin, selanjutnya diikuti oleh hadirin sesuai dengan kedudukan dan situasinya. Astakona sejak lama lazim tidak mempergunakan alat makan seperti sendok dan garpu karena di situ tersedia pula air tempat cuci tangan dan serbet kain.

Latar belakang filosofis.

Nasi astakona sesungguhnya memiliki makna filososfis dalam tata kehidupan orang banjar, hal itu dapat dilihat dan dihayati pada beberapa sarana dan bagian – bagian penyajian.

Talam dalam jumlah tiga atau lima menunjukkan jumlah yang ganjil, dimana dalam setiap bilangan dan sarana masyarakat banjar selalu menggunakan angka ganjil.

Makanan terdiri dari tiga komponen pokok (nasi dari beras/padi yang tumbuh di tanah, lauk pauk dari ikan yang hidup di air, dan buah-buahan yang tinggi di udara) adalah menggambarkan keterikatan hidup manusia dengan tanah, air, dan udara.

Dalam beberapa momen tertentu orang banjar selalu mendahulukan peranan orang tua (termasuk pengambilan pertama secara simbolik nasi astakona) sebagai lambang penghormatan terhadap orang yang memiliki kelebihan dalam hal usia, pengalaman, kewibawaan, dan afdhol (keutamaan dan barakat).

Masih banyak masyarakat Kalimantan Selatan yang tidak mengetahui kuliner langka khas Banjar yang satu ini. Nasi Astakona namanya, kuliner ini lahir dari tradisi di Kesultanan Banjar tempo dulu. Biasanya disajikan untuk tamu istimewa di Kesultanan Banjar.

Nasi Astakona dari tampilannya cukup berbeda dengan nasi tumpeng. Jika nasi tumpeng berbentuk kerucut ke atas, nasi Astakona disajikan bertingkat-tingkat. Di dalam sajian Nasi Astakona, juga dimasukkan lauk udang yang besar, atau biasa disebut masyarakat Banjar undang galah. Udang jenis ini cukup mahal.

 

Dari beberapa referensi pustaka diketahui bahwa nasi Astakona berasal dari tradisi Kesultanan Banjar yang disajikan untuk upacara menerima tamu kehormatan, namun pada kurun waktu selanjutnya disajikan dalam acara badadapatan dan perkawinan. Nasi Astakona memiliki makna yang penting karena disajikan dalam bedadapatan sebagai simbol keakraban dan lambang penghormatan bagi tetamu. Melalui sajian nasi astakona dimaknai persahabatan dan keakraban semakin terjalin. Malah, menurut refrensi tersebut dikatakan bahwa nasi astakona juga disajikan dalam acara walimah perkawinan sebagai simbol suasana akrab antara kedua mempelai dan keluarganya. Nasi astakona disajikan dengan talam dalam bentuk 3 atau 5 tingkatan ganjil yang bermakna 3 komponen pokok yaitu nasi dari beras atau padi yang tumbuh di tanah, lauk pauk dari ikan yang hidup di air dan buah-buahan yang tinggi di udara yang menggambarkan keterikatan hidup manusia dengan tanah, air dan udara.

Penyajian nasi astakona juga dilengkapi dengan sebuah tempat sirih atau bagi urang banjar disebut penginangan, manisan atau asinan sebagai kudapan yang disukai semua orang serta teh manis juga kopi pahit.

Nasi astakona adalah sajian nasi lengkap dengan lauk pauknya di atas talam kuningan bundar bertingkat ganjil, bisa tiga atau lima. Di tiap tingkatnya, menyajikan jenis nasi dan menu berbeda. Di talam pertama, ada nasi balamak lengkap dengan iwak rabuk, otak-otak, telur dadar, ketimun, bawang dan lombok goreng.

Berikut Resep Nasi Astakona Banjar beserta cara pembuatannya .

Bahan:

• 2 sdm minyak samin

• 200 g daging kambing, potong-potong

• 600 ml santan dari 200 g kelapa

• 300 g beras, cuci, tiriskan

• Kenari, kismis, dan sukade secukupnya.

 

Bumbu, haluskan:

• 1 siung bawang putih

• 3 butir bawang merah

• 2 butir kemiri, sangria

• 2 cm lengkuas

• 3 cm jahe

• Garam dan merica secukupnya.

 

Rempah:

• 1 butir kapulaga

• ½ sdt pala bubuk

• ½ sdt cengkih bubuk

• ½ sdt ketumbar bubuk

• 1 batang serai, memarkan.

 

Pelengkap:

• Telur dadar

• Satai babakung (hati sapi)

• Ayam parapah

• Buah-buahan.

 

Cara membuat:

• Panaskan 1 sdm minyak samin, tumis bumbu halus hingga harum. Masukkan

daging kambing dan rempah. Tuang santan, masak hingga mendidih.

• Masukkan beras ke dalam santan, masak hingga meresap.

• Campurkan kenari, kismis, sukade, aduk rata.

• Kukus beras berbumbu hingga matang (30 menit). Angkat, masukkan 1 sendok

minyak samin, aduk rata. Sajikan dengan pelengkap.

 

 

*———————–

Nasi Astakona merupakan salah satu kuliner khas masyarakat Banjar yang berasal dari tradisi Kesultanan Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam perkembangannya, nasi astakona dapat disajikan dalam prosesi pernikahan adat Banjar. Biasanya disantap pada acara Badadapatan (santap bersama setelah pengantin bersanding di pelaminan). Astakona merupakan sebuah kata yang terdapat dalam istilah sastra Indonesia lama yang berarti segi banyak. Hal ini dapat dilihat dari cara penyajiannya hidangan yang cukup banyak dan disajikan pada tempat khusus berupa talam yang bertumpang 3-5 susun. Hidangan umumnya terdiri dari 3 komponen pokok yaitu nasi, lauk pauk dan buah-buahan. Nasi Astakona disajikan dalam talam kuningan tumpang tiga berkaki tunggal. Diameter talam-talam yang disusun membentuk seperti kerucut ini ukurannya cukup variatif. Dari yang terbesar (45 cm), sedang (38 cm) hingga terkecil (32 cm). Ketiganya disusun bertingkat hingga mencapai tinggi sekitar 50 cm. Talam pertama berisi nasi kebuli putih atau kuning dihiasi telur dadar yang diiris, ketimun belah melintang, cabe hijau dan merah serta seledri. Talam kedua berisi lauk pauk yang terdiri dari bumbu rujak telur, ayam goreng, sambal goring daging dan kentang, udang goreng, otak-otak ikan pipih dan acar. Tidak ketinggalan sate hati tusuk lima dalam satu rumpun (sate babangkung). Talam ketiga berisi parapah ayam (ayam utuh) yang sekelilingnya dihiasi buah yang berasa asam manis seperti nanas, belimbing dan jambu air serta bogam melati bermalai tiga. Ketiga talam tersebut dihiasi kertas merah putih dan di pinggirnya disisipi mayang pinang. Penyajian nasi astakona ini dilengkapi dengan panginangan (tempat sirih), lengkap dengan daun sirih, kapur, potongan buah pinang, gambir dan tembakau. Selain itu, terdapat makanan ringan pencuci mulut yang berupa manisan nenas, kolang-kaling, rambutan atau pepaya. Minuman yang dihidangkan adalah teh manis atau kopi pahit. Santap bersama nasi astakona ini dimulai dari pengambilan nasi pertama dengan sendok kayu oleh seorang tokoh wanita dan menyerahkan pada tamu kehormatan. Jika acara tersebut adalah acara perkawinan maka tamu kehormatannya adalah kedua mempelai. Selanjutnya diikuti oleh hadirin yang ada. Pada saat menyantap nasi astakona tidak digunakan peralatan makan berupa sendok dan garpu. Oleh karena itu di antara hidangan terdapat tempat cuci tangan dan serbet kain. Nasi astakona mengandung nilai filosofis bagi orang Banjar. Makanan terdiri dari komponen pokok, yaitu nasi dari padi yang tumbuh di tanah, ikan yang hidup dalam air dan buah yang menggantung di udara. Pengambilan nasi pertama oleh orang tua merupakan simbol penghormatan terhadap orang yang memiliki kelebihan dalam hal usia, pengalaman, kewibawaan dan keutamaan. Makan bersama merupakan lambang penghormataan, kesatuan, persahabatan dan keakraban masyarakat Banjar.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901043

Nama Karya Budaya :Nasi Astakona

Provinsi :Kalimantan Selatan

Domain :Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda

TINGGALKAN KOMENTAR