“MEDIA HARUS BISA JADI ETALASE DAN BENTENG BUDAYA”

0
731

DSC_0460
Siapa yang tak kenal kuliner asal Palembang, yaitu pempek? Nikmatnya terasa “maknyus.”Kalau dari Palembang takmembawa oleh-oleh pempek, rasanya ada yang kurang. Begitulah, pempek tidak saja membumi di Palembang, tetapi di negeri ini. Suatu makanan khas daerah tersebar ke daerah lain salah satunya melalui media massa.

Media massa mempunyai peran penting dan strategis dalam memasyarakatkan dan mengembangkan kuliner khas di suatu daerah. Peran itulah yang telah dilakoni oleh Programa 4 Radio Republik Indonesia (RRI) Palembang lewat Program “Budaya Wong Kito” yang mengangkat budaya lokal mulai tradisi, pesta-pesta adat sampai makanan lokal.

Salah satu bagian dari program tersebut adalah “Pempek Palembang: Nikmatnya Kapal Selam” yang mulai disiarkan sejak tahun 2014. Acara yang diasuh oleh penyiar Rukiah secara live dan interaktif ini telah menarik dan mendapat sambutan yang bagus dari para pendengar radio di Palembang dan sekitarnya.

Program ini dinilai telah mampu memanfaatkan elemen-elemen audio secara optimal dan kreatif sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman budaya. Karena itulah, pada tahun 2015 ini Pemerintah RI, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan Penghargaan Kebudayaan untuk Kategori Media kepada RRI Palembang.

Kepala RRI Palembang, Drs. H. Nurhanuddin, MM , mengaku merasa bangga dan bergembira atas penghargaan tersebut. “Sebagai media publik, tugas kami adalah sebagai media pembangun karakter bangsa. Karakter bangsa yang dibangun oleh RRI adalah karakter Indonesia yang mau kita bangun. Salah satunya bagaimana menghargai, melestarikan, dan mengembangkan budaya yang ada, termasuk budaya makanan. Itulah bagian dari pengembangan budaya kita,” ungkap Nurhanuddin.

Ia mengaku cukup risau dengan intervensi negara lain lewat produk makanan dan media dari negara lain itu ikut juga mengambil peran sebagai wahana yang mempromosikan dan memperkenalkan produk tersebut. Oleh sebab itu, pada tahun 2014 Programa 4 RRI Palembang meluncurkan program “Pempek Palembang: Nikmatnya Kapal Selam. ”Melalui acara itu, Nurhanuddin berharap akan lahir kesadaran masyarakat akan kuliner asli setempat yang tidak kalah dengan makanan impor dari Jepang dan Korea, misalnya. “Ini merupakan bagian dari ketahanan budaya dan, ingat, budaya makanan itu adalah aset. Apalagi makanan asli itu tidak hanya steril tetapi juga kandungan gizinya bagus,” katanya.

“Di Indonesia, media harus mampu menjadi etalase dan benteng budaya. RRI itu harus jadi etalase dan benteng budaya, khususnya untuk Program 4,” tegasnya.

Derasnya serbuan makanan impor, kata dia, menuntut media seperti RRI harus ikut berperan sebagai benteng dan etalase budaya. Media harus ikut membentengi bangsa dari sudut budaya, termasuk budaya kuliner. Media mempunyai tugas memperkenalkan makanan sehat di tiap daerah yang diproduksi oleh bangsa sendiri.

Kenapa pempek? Nurhanuddin mengungkapkan, di Palembang tidak semua penduduknya asli setempat, banyak pendatang. Penduduk pendatang ini perlu disuguhi informasi mengenai makanan khas Palembang, yaitu pempek yang memang nikmat. Selain nikmat, pempek juga memiliki kandungan gizi yang baik. Bahan pembuatannya sederhana, yaitu daging atau ikan, sagu, telur ayam, air panas, dan garam.

“Sederhana bahan pokoknya, tetapi setelah dirakit jadi makanan, nikmatnya luar biasa. Makanan ini tidak kalah dengan makanan dari Jepang atau Korea. Alhamdulillah, dengan program ini pendengar kami, termasuk saya yang pendatang, sekarang suka dengan pempek. Rasanya tidak makan sehari, kalau belum makan pempek. Dan di Palembang, hampir seluruh wilayah Sumsel, tidak ada acara tanpa pempek. Menjamu tamu itu pasti ada pempek. Itu menu kehormatan,” kata Nurhanuddin yang asalnya dari Sulawesi Selatan. Pempek, kata dia, telah menjadi makanan identitas Palembang.

Selain sebagai makanan identitas, hal penting lain dari kuliner tersebut adalah aspek historisnya yang menarik. Nurhanuddin menuturkan, pempek diperkenalkan oleh seorang perantau asal Tiongkok sekitar abad ke-16 di pesisir sungai Musi. Tatkala ia melihat panen ikan di sungai Musi yang berlimpah dan penduduk setempat hanya mengolahnya sebatas digoreng dan dipindang, ia tergerak mencoba cara lain mengolah ikan. Ia menggiling ikan dan mencampur daging ikan giling tersebut dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek. Karena penjualnya dipanggil apek, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai “empek-empek” atau “pempek”.

“Makna historis yang bisa dipetik juga, warga Palembang itu selalu terbuka kepada pendatang, bahkan itu sudah diperlihatkan sejak abad ke-16, ketika Kesultanan Palembang Darussalamdipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II. Masyarakat Palembang menerima pendatang siapa saja, termasuk orang Tionghoa. Juga makanan buatannya. Pempek itu bukan makanasli orang Palembang. Ini perlu apresiasi,” imbaunya. Pempek Palembang kini tidak hanya membumi di negeri ini, tetapi malah juga sudah diekspor ke luar negeri, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.