Massulo Beppa, Mempunyai Mengandung arti yang berbeda

0
493

Secara harfiah kata Massulo Beppa mengandung arti, yaitu Massulo = menerangi dan beppa = kue. Jadi, pengertian secara menyeluruh adalah menerangi  kue-kue semalam suntuk, dengan iringan de’de pangngarru’ (tabuhan gendang). Upacara ini merupakan rangkaian dari pelaksanaan upacara Mappogau Sihanua yang dilangsungkan tiga hari sebelumnya.

Tradisi upacara Massulo Beppa merupakan tradisi turun temurun bagi masyarakat di Dusun Karampuang, yang dilaksanakan setiap tahun sekali. Tujuannya sebagai bentuk ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas segala rezeki yang telah dilimpahkan-Nya, serta   kepada To Manurung’e di Karampuang yang telah menyediakan lahan-lahan pertanian dan perkebunan sebagai sumber mata pencaharian warga Karampuang yang tidak memiliki lahan-lahan persawahan dan perkebunan, mereka dapat mengolahnya secara bergiliran melalui persetujuan Puang Matoa/Arung.

Waktu pelaksanaan upacara Massulo Beppa adalah pada hari ketiga terhitung dari waktu acara puncak upacara mappogau hanua. Sebagai contoh pada tahun 2018 ini upacara Mappogau Sihanua jatuh pada hari Senin 29 Oktober 2018. Kemudian dilanjutkan upacara adat Massulo Beppa pada hari Rabu/Kamis 31 Oktober s/d 1 Nopember 2018. Selama tiga hari warga Karampuang beristirahat dan tidak melakukan aktivitas  apa-apa.

Pelaksanaan upacara Massulo Beppa dipimpin oleh seorang perempuan yang bergelar Puang Sanro, yang dianggap orang yang pintar dalam melakukan ritual adat, juga ahli dalam membuat ramuan obat herbal untuk pengobatan jika ada warganya sakit. Sedangkan Puang Gella sebagai pendamping, dapat memimpin juga berbagai ritual upacara-upacara adat yang dilakukan dalam kawasan adat. Sedangkan Puang Guru ahli dalam memimpin ritual atau ma’baca-baca yang berkaitan agama Islam. Mengunjungi setiap rumah-rumah warga membacakan  sesajen yang sudah disiapkan.

Pada hari pelaksanaan upacara Massulo Beppa warga Karampuang (khususnya kaum ibu-ibu) disibukkan dengan kegiatan membuat bahan-bahan sesajen untuk disiapkan dalam ritual Massulo Beppa, seperti: beppa doko-doko untuk dipersiapkan pada malam Massulo Beppa. Sedangkan kaum bapak-bapak sibuk mencari bahan kelengkapan seperti mengambil janur untuk bahan pembuatan ketupat (bokong) dan kalole, dan menyiapkan laccibung (sejenis aur) untuk bahan pembuatan lemmang (nasi bambu) dan daun pisang. Semua makanan dan jenis-jenis kue tradisional dimasukkan ke dalam bakul kemudian dibungkus dengan kain. Pada bagian luar kain dihiasi lagi dengan anyaman janur yang disebut hompong.

Menjelang malam, warga masyarakat Karampuang khususnya kaum ibu-ibu membawa bakul-bakul di atas kepalanya berjalan  kaki ke rumah adat. Bakul yang berisi makanan dan kue tradisional sudah dihiasi dengan hompong yang dibuat dari daun janur enau.

Menjelang pukul 21.00 wita rumah adat Karampuang yang tinggali Puang Arung dan Puang Sanro mulai dipadati oleh warga khususnya kaum ibu-ibu yang membawa bakul-bakulnya  untuk ikutkan dalam ritual Massulo Beppa/Ma’bali Sumange. Bakul-Bakul tersebut dikumpulkan di ruang tengah kemudian ditancapkan pesse pelleng (lampu tradisional).

Sebelum dilakukan ritual  Massulo beppa/Ma’bali Sumange, maka terlebih dahulu dimulai pukulan de’de pangngaru atau biasa disebut genrang Sanro untuk  diperdengarkan terus menerus hingga ritual Marrahung selesai dijalankan oleh Puang Sanro. Selanjutnya dua pasang muda dan mudi dipersilahkan masuk ke tengah-tengah acara (dekat dari tiang utama). Kedua pasang muda-mudi tersebut ditunjuk langsung oleh Puang Gella (tokoh adat) untuk melakukan mekkere-kere (mengiris-iris daun-daun ramuan) yang akan digunakan sebagai bahan obat herbal. Warga Karampuang mengenalnya sebagai ramuan enteng jodoh.

Daun ramuan diiris terdiri atas 40 (empat puluh) jenis, diletakkan dalam suatu wadah khusus yang disebut hallaja (talang/dulang). Irisan-irisan tersebut dimasukkan ke dalam  mangkok kuno yang berwarna putih, jika irisan-irisannya dianggap  cukup, maka sebagian dimasukkan ke dalam tempayan besar yang berisi air dan sebagian lagi digunakan untuk ritual mabbacce (membersihkan/mensucikan) di lokasi sumur tua pada waktu menjelang pagi.

Pukul 22.00 wita ritual Marrahung dimulai, dihadapan Puang Sanro telah disiapkan bahan-bahan pedupaan berupa: 1 gelas air putih, dupa, sirih dan pinang,  3 buah mangkok kuno yang berisi ramuan daun-daunan. Sedangkan talang/dulang yang berisi sesajen berupa:  sokko patanrupa, Manu nasu likku, pisang, bokong (ketupat), kalole, lemang, peca boe, kaju bete, beppa doko-doko dan beppa pitu. Sesajen untuk persembahan tersebut diletakkan dekat pada tiang utama, sebagai bentuk representatif dari sebatang pohon yang mampu menghubungkan dengan leluhurnya. Sekaligus sebagai bentuk jamuan kepada nenek moyang mereka, yang secara kasat mata  turut dalam kegembiraan. Selanjutnya, Puang Sanro dan Puang Gella sama-sama duduk tafakkur menghadap ke barat di belakang dua orang pinati yang sedang memangku talang/dulang yang berisi sesajen. Sesekali Puang Sanro melemparkan henno ase (beras disangrai) ke bakul-bakul kue maupun ke arah pengunjung. Setiap kali Puang Sanro selesai membaca mantra maka dilakukan lagi Marrahung yaitu pengunjung atau orang-orang yang berada dibagian pinggir memegang alat pedupaan yang masih berasap secara estafet menyerahkan kepada pengunjung berikutnya sampai tiga kali putaran. Sementara itu Puang Gella memercikkan (mangeppi) air ramuan obat herbal ke semua pengunjung atau orang-orang yang berada di atas rumah adat. Ritual memercikkan air dari ramuan herbal sebagai simbol pembersihan/pensucian diri sebelum memulai kembali aktifitas seperti biasa.

Setelah ritual Massulo beppa/Ma’bali Sumange yang berlangsung  semalam  suntuk, kemudian dilanjutkan  ritual mabbacce/ dibecce di sumur adat menjelang pagi.  Setelah warga selesai mabbecce/dibecce barulah   kue-kue  itu  dapat diambil oleh pemiliknya untuk dibawa pulang ke rumahnya masing-masing. Selain itu, warga juga berhak mengambil air ramuan obat yang  telah dibuat  oleh Puang Sanro untuk pengobatan anggota dalam rumahnya.

Suasana dalam pelaksanaan upacara Massulo Beppa yang tergolong unik serta sarat dengan nilai-nilai sosial budaya yakni nilai religi, nilai kepatuhan, nilai solidaritas, nilai kebersamaan yang mulai dikenal luas oleh masyarakat. Bahkan perkembangan terakhir daerah ini, banyak wisatawan-wisatawan lokal, penggiat budaya, dan peneliti-peneliti dari perguruan tinggi di Indonesia berkunjung pada saat upacara berlangsung.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901053

Nama Karya Budaya :Massulo Beppa

Provinsi :Sulawesi Selatan

Domain :Adat istiadat Masyarakat,Ritus dan perayaan-perayaan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda