MAESTRO HOKEY MERAWAT SENI TRADISI DAN PERDAMAIAN

0
1391

DSC_3125
Justinus Hokey adalah budayawan dan perawat perdamaian,yang lahir di Dulumai, tepian Danau Poso, Sulawesi Tengah. Ia memberi hidupnya untuk menggali dan merawat tarian tradisi yang semakin punah, yaitu Motaro, Torompio, dan Moende. Justinus juga telaten mengajarkan Geso-geso, rebab Poso kepada generasi muda. Kecintaanya pada sastra tradisi mendorong ia melahirkan cerita-cerita rakyat yang dipertunjukan melalui seni teater. Syair-syair dalam bahasa Pamona yang diaransemen menjadi lagu-lagu daerah, bahkan lagu pop sehingga lebih mudah ditangkap anak muda. Melampaui itu, pendiri Sanggar Seni Sesedongi ini juga menggunakan tarian dan kegiatan budaya lainnya sebagai perjumpaan akar rumput untuk meretas dan merawat perdamaian guna memulihkan konflik yang pernah terjadi di Poso antara kelompok Muslim dan Kristen.

Lima pasang muda-mudi menari dan bernyanyi dalam bahasa Pamona. Mereka mengatur langkah dan nafas sambil melenggak-lenggokkan badannya. Mereka bersitatap mengatur harmoni, menghadirkan hatinya dalam tarian. Seorang pemuda memainkan gitar, dua lainnya menabuh alat menyerupai gendang, mengiringi para penari. Semuanya mengenakan pakaian adat Pamona, suku yang menempati tepi Danau Poso. Pemandangan ini berlangsung di teras rumah Justinus Hokey di Kota Tentena, tempat Danau Poso anggun terhampar.

Masyarakat Poso dekat dengan Om Justinus atau kakek Hokey, dari anak-anak hingga pejabat pemerintah setempat. Tidak ada peristiwa kebudayaan di Tentena yang luput dari rawatan Om Justinus. Baik peristiwa besar seperti perayaan Festival Danau Poso, pengajaran budaya di ruang-ruang kelas, maupun peristiwa sehari-hari berlatih bermain musik, bernyanyi dan menari di teras rumah Om Justinus.

Justinus berkat Tuhan lahir 10 Agustus 1945 di Dulumai, tepi Danau Poso. Menurut Asyer Tandapai, dalam bukunya Narasi Kemanusiaan dalam Karya Sastra Justinus Hokey, orang-orang Dulumai bangga menyebut diri Tolongkea. Identitas yang mengingatkan pada kemasyhuran peradaban silam,antara lain peradaban mokayori yaitu kearifan bertutur. Bahkan dengan tradisi mokayori, di masa lalu, seorang tawanan yang mampu bertutur arif di Dulumai dapat dibebaskan. Kearifan bertutur leluhur Tolongkea inilah yang Justinus warisi.

Budayawan lulusan IKIP Manado Cabang Poso ini, bergiat merawat seni tradisi Pamona sejak tahun 1970-an. Terdorong menampilkan pertunjukan pada festival tari tradisional di Jakarta, pada 1978 Justinus meramu tiga tarian tradisi Motaro, Torompio, dan Moende dalam satu pertunjukan yang ia sebut Petomo. Pertunjukan itu meraih juara III dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada 1980, Justinus juga diminta TVRI Manado untuk mempersiapkan materi lagu dan tarian Poso untuk mereka tayangkan. Rangsangan kebudayaan itu juga menggerakannnya untuk menggali kembali tradisi nyanyi atau tembang klasik Doni Dole yang nadanya pas untuk mengiringi pantun-pantun tradisi Poso.

Ketelatenan Yustinus dalam merawat tari tradisi ini menyeluruh, dari mulai bagaimana permainan musik yang memadai. Sehingga musik itu dapat menggerakan para penari terbawa alunan dan mengalami serupa trance. Dengan begitu pelestarian gerak tari tak dapat melepaskan pelestarian alat dan cara memainkan musik tradisi. Menurut Justinus, saat ini tarian serupa masih sering dimainkan, tetapi anak-anak muda yang dipengaruhi budaya lain, sering tak sampai ke hati untuk menghayati permainan musik dan gerak tari. Mereka bermain musik dan menarikannya dengan terlalu banyak gerak (blingsatan). Padahal tarian itu sejatinya bersifat profan dan sedikit erotik. Karena itu, Justinus menggali dan mendokumentasikan panduan tari tradisi yang ia sebarkan dalam bentuk brosur ke sekolah-sekolah, agar para guru dapat mengajarkan seni tradisi sesuai pedoman dan anak-anak akan mewarisi tradisi Pamona.

Justinus juga melalui sanggar seni Sesedongi menggali, merawat, dan mewariskan seni musik tradisi Geso-geso, rebab khas asal Poso dan Karambangan, seni yang ia duga mendapat pengaruh Jawa yang masuk ke Poso melalui pertemuan dengan kebudayaan Makassar. Ia menduga demikian, karena dalam bahasa Pamona tidak mengenal huruf mati diakhir kata. Bila kesenian itu asli dari budaya Pamona, kemungkinan ia akan bernama Karambangan. “Tetapi, karena sampai sekarang tidak ada yang komplain dari luar, ya sudahlah jadilah bagian dari seni orang Poso,” tutur Justinus.

Dalam hal merawat sejarah, cerita, dan bahasa Pamona, Justinus menulis cerita rakyat antara lain Tapo Bada yang mengisahkan seorang isteri yang rela menyaksikan suaminya dipancung dan menjadi batu. Naskah cerita Tapo Bada pernah ditampilkan dalam bentuk teater di Taman Mini Indonesia Indah yang penontonnnya selain masyarakat Indonesia juga perwakilan duta besar negara lain. Naskah sejarah yang ia tulis antara lain Rumongi, tentang pejabat pemerintah adat Pamona 1917-1921, yang kemudian menjadi asal-usul mengapa bahasa dan kebudayaan setempat bernama Pamona, yang diambil dari enam pejabat tersebut, yaitu Paimona.

Justinus juga mendokumentasikan kecantikan alam Danau Poso dan kisah manusianya melalui lagu-lagu daerah dan lagu pop yang ia ciptakan. Tak terhitung lagu yang ia ciptakan, sebagian terdokumentasi di Dinas Pariwisata Kabupaten Poso yang berjudul “Pop Daerah Poso.” Tema-tema yang menarik minat anak muda terasa di kumpulan lagu ini, antara lain “Matia Ndano” tentang kecantikan Danau Poso dan dara-dara setempat, “Katowe I Ine,” perjuangan seorang ibu pada anaknya, kenangan para muda mudi menjaga air di sawah dalam lagu “Kasoyo Ndeme,” hingga kisah turis Jerman yang jatuh hati pada pemuda Poso dalam lagu “Arawenu.”

Sebagai bagian dari penduduk yang didera konflik bersenjata, Justinus juga mengkreasi kegiatan budaya sebagai media untuk mengeratkan kembali yang terpecah-belah. Justinus mengenang masa kecilnya, sebagai keluarga Kristen yang hidup berdampingan dengan muslim. “Kalau sudah waktu makan mama-mama baku tanya, apa laukmu? Mari saling tukar. Ketika Idul Fitri bukan keluarga sesama Muslim yang saling berkunjung. Satu desa Kristen beridul fitri, datang ke desa muslim dan sebaliknya,” kenang Justinus. Semua itu tercerabut dan porak-poranda ketika terjadi konflik. Kemudian karena konflik itu festival tahunan yang menunjukkan peristiwa budaya Danau Poso pun sempat terhenti selama 7 tahun (2000–2006). Rekonsiliasi di kalangan elit, seperti kesepakatan Malino belum mampu memulihkan konflik di akar rumput. Berangkat dari situasi itu, Justinus bersama Dinas Pariwisata setempat membuat lomba pantun perdamaian dalam bahasa Pamona. Kegiatan kebudayaan dihidupkan kembali, tarian rakyat, dan penyelenggaraan kembali festival Danau Poso. “Banyak jalur yang ditempuh untuk rekonsiliasi tapi jalur budaya lebih mempan dan mengena. Ternyata bahasa seni dan budaya lebih cepat merekat kembali keadaan yang sudah terbelah dan cepat dipahami,” tutur Justinus sambil menitikan air mata haru.

Kegiatannya untuk merawat perdamaian di Poso terus ia lanjutkan hingga saat ini. Antara lain dengan memberi pengajaran budaya dan perdamaian kepada perempuan-perempuan desa, yang dikerjasamakan dengan sekolah perempuan Institut Mosintuwu.

Atas penghargaan kebudayaan kategori maestro yang ia terima Justinus menanggapi, “Saya pikir ini anugerah Tuhan lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Harapan saya kepada pemerintah supaya dalam program pembangunan, seni dan budaya hendaknya diberi porsi memadai. Karena itu perlu untuk pembentukan kepribadian dan citra bangsa umumnya, citra Poso pada khususnya.”