Maccera Tasi, Kepercayaan masyarakat Luwu

0
5760

Kepercayaan masyarakat Luwu pada upacara maccera Tasi yaitu sebagai bentuk syukuran atas hasil laut yang didapatkan oleh masyarakat nelayan, perasaan suka cita karena limpahan rezeki yang telah diberikan Tuhan kepada masyarakat nelayan.

Hakikinya, pelaksanaan upacara adat maccera tasi secara filosofis diyakini masyarakat adat berfungsi untuk mengembalikan dan menguatkan semangat pada tubuh kasar nelayan sehingga semangat yang telah pergi akan kembali ke tubuh. Di sisi yang lain, upacara adat maccera tasi merupakan perwujudan rasa kegembiraan, rasa syukur karena banyak hasil laut yang telah diberikan Tuhan kepada mastrakat nelayan. Tradisi lisan maccera tasi adat memiliki kearifan lokal, dan nilai-nilai yang diyakini sudah menyatu dan merupakan perekat masyarakat adat, hal tersebut yang yang menjadi sumbangsih paling tinggi dalam pelaksanaan upcara maccera tasi.

Pengkajian antropolinguistik sebagai pembuka jalan untuk mengupas upacara maccera tasi yang dijadikan objek kajian dengan menggunakan teori upacara yang dikemukakan oleh Smith (1846-1894) dan untuk mengetahui tradisi lisan dipakai teori Perspektif Folley (1988), tradisi lisan Ong (2007:37-56), Finnegan (1992:151). Tol dan Pudentia (1995:2) dalam Hoed (2008:184) dan pembuka cakrawala pengkajian tradisi lisan yang dikemukakan Sibarani (2012:47) mengkaji tradisi lisan sebagai objek kajian dengan melihat bentuk dengan mengkaji teks, ko-teks, dan konteks, kemudian mengkaji isi dengan melihat nilai kearifan lokal dan norma dengan fokus kajian fungsi dan makna. Dari pengkajian itu dilakukan upaya merevitalisasi pola pelaksanaan upacara maccera tasi.

Menurut pendapat Eggin and Slade (1997:23) terdapat beberapa perspektif dalam menganalisis tradisi lisan maccera tasi  sebagai interaksi lisan dalam upacara syukuran  dengan menggunakan metode etnografi, yang dikemukakan Spreadley, antropolinguistik, dan semiotik. Perspektif etnografi/ dengan pendekatan tradisi lisan dilakukan dengan antropolinguistik sebagai jalan masuk.

Acara “Pesta Laut” atau Maccera Tasi “ adalah salah satu manifestasi Budaya Luwu mengenai hubungan antara ummat manusia dengan “Yang Maha Pencipta” maupun dengan seluruh makhluk hidup dan lingkungan hidupnya di alam ini.

Dalam Mythologie I La Galigo disebut bahwa pada masa paling awal (In Illo Tempora), bumi atau “atawareng” ini dalam keadaan kosong dan mati. Tidak ada satupun makhluk hidup yang berdiam dimuka bumi. Keadaan itu digambarkan oleh naskah I La Galigo bahwa tidak ada seekor burungpun  yang terbang diangkasa dan tidak ada seekor semutpun yang melata diatas muka bumi ini, serta tidak ada seekor ikanpun yang berenang di dalam lautan dan samudra.

Demikianlah maka acara Pesta Laut atau Maccera Tasi ini adalah salah satu acara mengucapkan Doa Syukur atas nikmat dan rejeki dari hasil laut yang melimpah sebagai karunia dari Yang Maha Pencipta.

Acara ini dilakukan ditepi pantai tepat pada garis pantai pada saat pasang surut yang terjauh. Dan merupakan batas pertemuan antara dua lingkungan hidup atau ekologi yaitu pertemuan antara habitat daratan dengan habitat lautan.

Di dalam acara ini hubungan fungsional antara setiap mahluk hidup, baik manusia maupun Flora dan Fauna, dengan seluruh isi alam ini akan di tata kembali dan akan ditempatkan pada proporsi yang sebenarnya secara harmonis, atau mengikuti ketentuan-ketentuan adat yang sakral, yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Pencipta sebagai suatu hukum alam yang harus dipatuhi.

Tanpa merubah essensi dari acara “Maccera Tasi” atau Pesta Laut seperti tersebut diatas, maka setelah kedatangan Islam, aqidah maupun ritualnya telah disesuaikan dengan Aqidah dan Syariat Islam, sesuai dengan kaidah adat Luwu yang mengatakan

“Pattuppui ri – Ade’E, Mupasanrei ri – Syara’E”, yang secara bebas berarti bahwa setiap tindakan dan kegiatan harus selalu didasarkan pada adat dan disandarkan pada syariat agama Islam.

Acara ini dimulai di pagi hari pada saat matahari terbit, dengan harapan semoga rejeki kita akan senantiasa naik seperti matahari pagi yang sedang naik diufuk timur. Iring-iringan perahu menuju ke Ance atau Menara Upacara yang didirikan di atas permukaan laut. Perahu tumpangan “Pua` Puawang” yang membawa “ Sebbu Kati” (Sajian) berada di depan diikuti oleh Pincara Datu Luwu dan Puang Ade atau Pemangku Adat. Kemudian disusul oleh perahu-perahu yang membawa “Rakki” atau santapan yang diletakkan di dalam usungan yang dihiasi, yang masing-masing di bawa oleh setiap kelompok masyarakat nelayan dari setiap Desa-Desa Pantai. Sesudah itu menyusul perahu-perahu nelayan yang ikut memeriahkan acara itu.

Pada Waktu iring-iringan perahu tiba di Ance, maka Pincara Datu Luwu dan Puang Ade diikuti oleh perahu-perahu pembawa rakki dan perahu-perahu nelayan langsung mengambil tempat di tepi pantai. Sementara itu Perahu Pua’ Puawang yang membawa Sebbu Kati mengitari Ance’ sebanyak tiga kali.

Jadi acara Pesta Laut ini juga berfungsi mengintegrasikan komunitas nelayan yang berdiam di daerah pesisir, dengan komunitas petani yang berdiam di daerah daratan/pegunungan di dalam suatu acara berdoa dan bersyukur kepada Allah Yang Maha Pengasih secara kolektif. Kemudian dilakukan acara “Massorong Sebbu Kati” atau menyerahkan sajian sebagai tanda syukur dan sekaligus merupakan doa kolektif dari masyarakat nelayan serta masyarakat petani bersama-sama yang dilakukan oleh Pua’ Puawang.

Acara ini diakhiri dengan melepaskan seekor ikan dalam keadaan hidup yang lebih dahulu telah diberi makanan secuil emas murni yang merupakan perlambang “Penghormatan” kepada biota laut dan lingkungan hidupnya.

Sesudah itu diucapkan doa ucapan  syukur di atas Ance’ atau menara upacara, yang diucapkan oleh Pua’ Puawang sambil didampingi oleh seorang gadis yang belum aqil balig (tennawettepa  dara) yang berpakaian adat lengkap (mabbulaweng) yang melambangkan ketulusan dan kesucian niat dari pelaksanaan acara Pesta Laut atau Maccera Tasi tersebut.

Acara ini diakhiri dengan Pembacaan Doa oleh Pemuka Agama (Parewa Sara’). Dengan demikian maka acara “Pengucapan Syukur” telah dianggap selesai.

Maccera Tasi’ memiliki makna persatuan dan memiliki makna pelestarian lingkungan. Nilai persatuan dapat dilihat pada prosesi mappasileliserakki yakni pertukaran makanan di antara sesama nelayan, sebelum menikmati makanan tersebut didahului dengan pertanyaan mamsemoraka (apakah sudah bersatu?) jika, seluruh nelayan menjawab iya maka, acara dapat dilanjutkan. Nilai pelestarian lingkungan terlihat pada komitmen masyarakat nelayan bersama pemangku adat untuk tidak melaut selama tiga bulan lamanya, hal ini memberikan kesempatan pada biota laut untuk bekembang biak sehingga terjadi pelestarian ekositem laut dan melimpahnya hasil laut ketika nelayan mulai melaut

 

 

*———–

Maccerak tasi merupakan manifestasi budaya Luwu mengenai hubungan antara manusia dengan Yang Maha Pencipta maupun hubungan dengan seluruh mahluk hidup dan lingkungan hidupnya di alam ini.Upacara tersebut dimulai pada pagi hari saat matahari mulai terbit, dengan harapan semoga rezeki kita akan senantiasa naik seperti matahari pagi yang sedang naik di ufuk timur. Setelah perahu yang telah disipakan beberapa hari sebelum hari pelaksaan telah disipkan,dan orang-orang yang terlibat dalam acara tersebut sudah hadir semua, maka upacara akan dimulai. Orang-orang yang terlibat dalam acara tersebut naik di atas perahu yang telah dipersiapkan untuk menuju ke ance, yaitu bangunan yang letaknya 3 mil dari garis pantai yang sengaja dibangun dengan berukuran 3 x 3 cm. Bangunan tersebut dijadikan sebagai tempat pelaksanaan ritual maccerak tasik Perahu tersebut beriringan menuju ance, yakni perahu tumpangan pua puawang yang membawa sebbu kati (sesajen) berada di depan, kemudian diikuti oleh pincara datu Luwu beserta keluarga datu dan puang ade atau pemangku adat. Kemudian disusul pleh perahu-perahu yang membawa rakki atau santapan yang diletakkan di dalam susngan yang telah didhiasi. Masing-masing nelayan dari desa-desa pantai membawa rakki untuk di buang ke laut. Pada saat iring-iringan perahu tiba di dekat ance, maka pincara datu Luwu dan pua puang ade diikuti oleh perahu-perahu pembawa rakki dan perahu-perahu nelayan, langsung mengambil tempat di tepi pantai. Sementara itu perahu pua puawang yang membawa sebbu kati mengitari ance sebanyak tiga kali. Setelah itu diadakan acara massorong sebbu kati atau menyerahkan sajian sebagai tanda syukur dan sekaligus merupakan doa kolektif dari masyarakatnelayan serta masyarakat petani bersama-sama yang dilakukan oleh pua puawang. Acara selanjutnya adalah melepaskan seekor ikan dalam keadaan hidup yang lebih dahulu telah diberi makan secuil emas murni yang merupakan perlambang penghormatan kepada biota laut dan lingkungan hidup. Selanjunya dilakukan ucapan doa syukur di atas ance yang dilakukan oleh pua puawang yang didampingi oleh seorang gadis yang belum akil baliq (tennawettepa dara) yang berpakaian adat lengkap (mabbulaweng) yang melambangkan ketulusan dan kesucian niat dan pelaksanaan acara maccera tasi tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dilakukan oleh pemuka agama (parewa sara). Setelah itu dilanjutkan dengan mappanngolo rakki atau menyerahkan suguhan kepada pemnagku adat dari desa-desa pantai secara bergiliran. Menyerahkan sepiring nasi empat warna (sokko patanrupa) dan sepasang ayam panggang yang utuh ke hadapan datu Luwu dan puang ade. Nasi ketan empat warna melambangkan unsur alam yang utama, yaitu; tanah, api, air dan anging, juga melambangkan unsur-unsur penting dalam tubuh manusia, yaitu; tulang, daging, darah, dan nafas. Sebutir telur di atas nasi ketan, melambangkan kesatuan ala mini dalam keesaan Yang Maha Kuasa. Sepasang ayam panggang melambangkan partisipasi dan keikutsertaan semua lapisan masyarakat.Setelah santapan tersebut diteruma oleh masing-masing tokoh, maka dilanjutkan dengan acara makan bersama. Selanjutnya acara tersebut diakhiri dengan seluruh hadirin bersuka ria makan dan minum sambil mandi-mandi di laut atau mengikuti permainan rakyat berupa perlombaan perlombaan.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901054

Nama Karya Budaya :Meccera Tasi

Provinsi :Sulawesi Selatan

Domain :Adat istiadat Masyarakat,Ritus dan Perayaan-perayaan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda