Ma’badong

0
503

Ma’badong adalah nyanyian duka pada waktu ada orang meninggal, dilakukan dengan membentuk lingkaran di halaman rumah duka. Tiap-tiap kampung mempunyai ciri masing-masing dalam melakukan acara ma’badong. Ma’badong dapat dilakukan pada siang hari maupun malam hari, akan tetapi banyak orang yang lebih menyenangi melakukan ma’badong pada malam hari karena menganggap suasananya lebih hening sehingga lagu yang dinyanyikan terasa begitu syahdu. Jumlah penyanyi dalam ritual kesenian ma’badong ini adalah minimal 20 orang.Dalam sebuah grup atau kelompok bernyanyi ma’badong, ada yang dipilih untuk menjadi komando atau pemimpin suara yaitu seseorang yang dianggap memiliki kemampuan berbicara dalam bahasa Toraja dan menguasai sastra Toraja. Sebelum memulai, pemimpin kelompok bernyanyi ini akan berbicara dengan pihak keluarga si mati, dan membicarakan perihal posisi si mati dalam keluarganya, sifat-sifatnya, dan beberapa hal mengenai kenangan tentang si mati. Pembicaraan tersebutlah yang menjadi dasar rangkaian kalimat-kalimat atau bait lirik ma’badong. Jadi lirik dalam ma’badong itu bersandar pada pikiran pemimpin kelompok mengenai situasi yang sedang berlangsung, tidak dengan teks tertulis yang sudah jadi. Jika terjadi kesalahan dalam ungkapan yang dikeluarkan oleh pemimpin kelompok, maka pihak keluarga yang punya hajatan dapat menegur yang bersangkutan.