Kota Banda Aceh: Bersendi Kebudayaan Menuju Kota Madani

0
839

Belum hilang dari ingatan kita tragedi amuk tsunami, 26 Desember 2004, yang menewaskan ratusan ribu nyawa dan hancurnya 60% bangunan di Kota Banda Aceh. Kini, duka itu telah berubah menjadi senyum, seiring langkah maju Banda Aceh menuju kota madani yang bersendikan kebudayaan.

Adapun yang dimaksud dengan bersendikan kebudayaan adalah berkaitan erat dengan museum, perpustakaan, maraknya kegiatan kebudayaan/festival, dan penguatan sumber daya kebudayaan melalui budaya baca-tulis. Tentu saja tanpa mena kan sektor-sektor lain yang memberikan kontribusi terhadap kemajuan pembangunan Banda Aceh.

Semua itu telah tumbuh dan berkembang sejak Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal (2012-2017), hingga saat ini Banda Aceh di bawah kepemimpinan wali kota yang baru, Aminullah Usman (2017-2022). Menuju Banda Aceh madani yang dimaksudkan tak lain adalah yang apa mereka sebut sebagai kota yang berwajah smart city, green city, dan liveable city. Reformasi birokrasi, terutama soal modernisasi tata kelola pemerintahan—melalui e-Government—telah menunjukkan hasil menggembirakan. Di dalam e-Government terdapat banyak aplikasi, di antaranya aplikasi e-Kinerja yang memungkinkan wali kota bisa menilai kinerja bawahannya dengan objektif. Juha apilkasi e-Absensi di bidang pendidikan, sehingga kehadiran siswa bisa dipantau secara daring alias online. Hasilnya, Banda Aceh banyak mendapat penghargaan terkait dengan tata kelola pemerintahan, pelayanan, perizinan, presdikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK) , Adipura, tata tertib lalu lintas, pemberdayaan perempuan, tata nugraha, dan lain sebagainya.

Sebagai wadah ingatan masa lalu, yang berguna sebagai wahana belajar pada masa kini dan menjadi bekal pengetahuan menyongsong masa depan, Banda Aceh punya Museum Negeri Banda Aceh (Rumoh Aceh), Museum Ali Hasjmi, hingga Museum Tsunami. Dari sana, terdapat informasi perjalanan sejarah Banda Aceh sejak masa kesultanan yang ditandai dengan berbagai artefak—mulai makam, meriam, hingga lonceng Cakra Donya hadiah Kaisar China yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho untuk kerajaan Samudra Pasai—dalam perspektif lokal, nasional, regional dan internasional. Monumen yang relatif baru adalah Museum Tsunami, yang membawakan ingatan kita terkait tragedi memilukan di penghujung 2004 tetapi sekaligus menggugah kewaspadaan bersama.

Tempat-tempat yang menyimpan “ingatan” kolektif masyarakat tersebut menjadi salah satu unggulan destinasi wisata di Banda Aceh, yang tak pernah sepi pengunjung. Selain itu, masih banyak peninggalan sejarah yang telah masuk situs cagar budaya, yang selama ini telah menjadi sumber ilham, pengetahuan dan penelitian, serta memperkuat identitas lokal. Dari 58 situs yang ada, di antaranya Masjid Raya Baiturrahman (di bangun pada masa Sultan Iskandar Muda, 1607-1639), saat ini dilengkapi payung-payung ala Masjid Nabawi. Masjid Baiturrahim di Ulee Lheu dibangun Tuanku Teungoh tahun 1924 di tepi pantai Ulee Lheu, yang ketika tsunami menerjang, gelombang dahsyat itu lewat dengan ‘membelah diri’ (menurut saksi mata yang selamat) di sana. Juga ada Taman Sari Gunongan, tempat bermain permaisuri Putri Kamaliah (Potroe Phang) yang dibangun saat pemerintah Sultan Iskandar Muda pada abad ke-16. Tak ketinggalan, makam Sultan Iskandar Muda.

Sepanjang tahun, Banda Aceh menggelar banyak festival yang berbasis pertunjukan, kuliner, religiositas; baik yang bernada dakwah, hiburan, berdimensi bisnis, hingga campuran dari itu semua, dalam skala lokal hingga internasional. Sebut misalnya Banda Aceh Coffee Festival, Wonderful Muharam, Festival Baiturrahman (Zikir ASEAN), Kuah Belangong, Khanduri Maulid, Piasan Seni, Dakwah Umum, hingga Geulanyang Tunang.

Meski punya festival kopi, Banda Aceh mengandalkan kopi Gayo karena tidak punya kebun kopi sendiri. Terlepas dari itu, menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh M Rizha, budaya ngopi telah menjadi bagian hidup masyarakat Banda Aceh selama ini. Lihat, kedai kopi tersebar di mana-mana, dengan pengunjungnya dari berbagai lapisan sosial, sehingga hingga kota ini dijuluki “Kota 1001 Warung Kopi”. Jangan lupa, warung-warung kopi di kota ini telah menjadi semacam sarana pertukaran infomasi dan kegiatan myangkut persoalan A hingga Z, termasuk obrolan ngalor-ngidul berbagai isu lokal, nasional hingga internasional. Oleh para politisi dan pejabat publik, warung kopi dianggap sebagai sumber informasi penting.

Kota yang terkenal dengan tarian Saman dan Seudati, hingga kuliner Mie Aceh ini dalam perkembangan budayanya secara resmi dikawal oleh Majelis Adat Aceh, agar tidak keluar dari akar tradisi (Islam). Meskipun dalam pratiknya, seperti diakui para pengurusnya, itu tidak selalu mudah karena pengaruh dinamika global yang digelontorkan oleh media massa dan media sosial.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh Syaridin menambahkan bahwa masjid-masjid dan sekolah-sekolah terus bergerak menjadi sumber peradaban. Khusus dalam upaya meningkatkan minat baca dan tulis, digalakkan perpustakaan di sekolah-sekolah hingga ke desa-desa, yang ditempatkan di masjid- masjid. Adapun untuk melestarikan pantun di bumi Melayu- Aceh, wali kota secara khusus mengeluarkan SK yang mewajibkan menggunakan pantun pada acara-acara adat.

Walhasil, berbagai upaya yang dilakukan Kota Banda Aceh menuju masyarakat madani berhasil meredam praktik korupsi dan kekerasan dalam masyarakat. Dan, pelestarian adat menjadi tiang penyangga syariat Islam dan kebudayaan.

 

TINGGALKAN KOMENTAR