Kondobuleng, Teater Tradisional Masyarakat

0
7838

Kondo Buleng atau Kondobuleng adalah teater tradisional masyarakat penutur bahasa Makassar di Sulawesi Selatan. Secara etimologis, kata Kondobuléng dalam bahasa Bugis dan bahasa Makassar, terbentuk dari dua kata. Kondo berarti bangau, sejenis burung yang berkaki, berleher, dan berparuh panjang. Burung ini pemangsa ikan, hidup di rawa-rawa atau di tempat berair, seperti tepi pantai atau sawah. Kata buléng ada yang mengartikannya “putih”, tapi dalam percakapan sehari-hari, kata “putih” berarti kébo’ dalam bahasa Makassar. Dalam Kamus Indonesia-Makassar (Arif, dkk: 1992), kata “putih” diterjemahkan kébo’.

Teater rakyat Kondobuleng merupakan bentuk teater bernafaskan komedi satir. Teater ini dimainkan oleh lima orang memerankan tokoh nelayan, satu tokoh memerankan Kondobuleng (bangau putih), satu tokoh memerankan Pemburu, dan satu tokoh memerankan Pak Lurah. Dalam pertunjukannya, pemain menggunakan dialog, kostum dan properti sesuai perannya dengan  diiringi oleh kelompok musik antara 5 sampai 10 orang.

Pertunjukan teater rakyat Kondobuleng (PTRK) pada awal munculnya sampai sekarang tidak pernah menggunakan naskah tertulis. Mencermati materi awal pertunjukannya yang berulang kali serta hasil wawancara dengan para pendukungnya, kita diperhadapkan hanya pada ide dalam bentuk lisan, dan tidak pernah dalam bentuk tulisan, semacam sinopsis apalagi naskah.

Berdasarkan PTRK, para aktor dalam memainkan perannya menggunakan bahasa verbal dan non verbal. Bahasa verbal yang digunakan yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Makassar. Bahasa Makassar selain dipresentasikan melalui dialog, juga dipresentasikan dalam bentuk nyanyian oleh kelompok musik. Bahkan ada nuansa Islam dalam nyanyian mereka. Sedangkan bahasa non verbal yang digunakan yaitu melalui gerak, mimik, ekspresi, properti dan musik. Adapun bentuk struktur dramatik dideskripsikan sebagai berikut:

Pada tahap awal yang merupakan pengenalan atau eksposisi pertunjukan, menggambarkan tokoh Kondobuleng muncul di pesisir. Ia secara akrab mencari ikan bersama lima nelayan, yaitu Pabalewang, Pajala, Pabalibodo, Pasodo dan Papaccalak.

Pada tahap komplikasi yang merupakan penggawatan atau perumitan, dilukiskan dengan munculnya tokohPemburu menyandang senapan untuk menembak Kondobuleng. Para nelayan berupaya menghalangi meletusnya peluru dari senapan si Pemburu.

Sekali Pemburu membidik agak lama, dan pada detik tertentu, dia menembak “door”. Kondobuleng roboh ketika peluru Sang Pemburu itu berhasil mencabik keheningan. Tapi bukan Kondobuleng saja yang roboh tetapi juga si Pemburu terpental roboh dan bahkan menghilang tiba-tiba.

Para nelayan bermusyawarah, memecahkan masalah untuk mencari Pemburu dan Kondobuleng. Pajala pun melapor ke Pak Lurah. Pak Lurah menyuruh para nelayan agar cepat mencarinya sampai dapat. Dalam keadaan genting itu, salah seorang mengusulkan untuk membuat jembatan karena laut sudah dalam. Jembatan pun jadi dibuat dengan hanya membentangkan sebuah bambu pendek ukuran 60 cm. Ketika Pabalewang menaiki jembatan itu, tiba- jembatannya roboh.

Semua kembali berfikir untuk mencari Pemburu dan Kondobuleng. Muncullah ide baru dari salah seorang nelayan dengan mengusulkan untuk membuat perahu. Perahu pun jadi dengan hanya menggunakan tubuh dua orang sebagai perahu. Pabalewang dan Pabalibodo membuat komposisi saling berhadapan, saling menduduki punggung kaki masing-masing karena lutut ditegakkan. Pajala berdiri di belakang mereka sambil memegang dayung. Perahu pun mulai bergerak meninggalkan pantai, naik turun menyeberangi laut. Mereka adalah perahu tapi pada saat yang sama mereka adalah orang yang mendayung dan naik perahu. Tiba-tiba gelombang datang, perahu terbalik. Mereka saling terpisah. Pabalewang dan Pabalibodo berenang ke pantai, sedang Pajala tenggelam dan menggelepar-gelepar di laut. Papaccalak,Pabalewang dan Pabalibodo turun ke laut menolong Pajala dan menariknya ke pantai.

 

Keempat nelayan itu pun berenang ke pantai seberang dengan beragam gaya. Pabalewang dengan gaya katak. Pabalibodo dengan gaya dada. Papaccalak dengan hanya berlari-lari di laut. Pajala dengan gaya kupu-kupu. Mereka pun tiba di seberang dan duduk di depan Pemburu yang sedang terbaring pingsan di pantai. Pajala membacakan mantra untuk menghidupkan Pemburu. Setelah Pemburu sadar, mereka bersama-sama mencari Kondobuleng dengan menyusuri pantai. Mereka pun menemukan Kondobuleng yang sedang terkapar di pantai.

Pada tahap penyelesaian atau epilog yang merupakan puncak laku, klimaks atau saat yang menentukan digambarkan ketika semua pemain menyanyikan lagu Mala-mala Hatté dengan iringan musik yang lembut dan sakral menghidupkan Kondobuleng. Perlahan tampak Kondobuleng bergerak dan terus menerus menggerak-gerakkan kakinya, lalu pelan-pelan berdiri, berputar, mengepakkan sayap, terbang mengelilingi arena dan melayang pergi. Semua memperhatikan tingkah Kondobuleng.

*

Rombongan kesenian ini bernama I Lologading. Pertunjukan utamanya adalah kondobuleng. Namun selain kondobuleng masih terdapat sejumlah pertunjukan lainnya, berupa lagu dan musik/orkes toriolo, tarian, dan teater rakyat dengan cerita yang lain. Kondobuleng adalah salah satu judul reportoar yang dipertunjukkan kelompok kesenian I Lologading yang bermarkas di Kampung Paropo, Kecamatan Panakukang, Kota Makassar. Teater Kondobuleng bercerita tentang seorang pemburu yang mengejar seekor bangau putih di daerah rawa-wara pinggiran pantai. Di daerah rawa-rawa tersebut terdapat sejumlah nelayan yang sedang menangkap ikan. Dengan susah payah akhirnya sang pemburu dibantu oleh para nelayan berhasil menembak Kondobuleng (bangau putih). Tetapi karena kesaktiannya sang bangau dapat hidup kembali. Kesenian ini telah berlangsung secara turun temurun dalam 3-4 generasi (satu generasi 25 tahun), diperkirakan penciptaan kesenian ini ketika masih zaman penjajahan. Tujuannya adalah untuk mengajak masyarakat untuk melakukan perlawanan kepada Belanda (penjajah) tanpa harus dicurigai oleh pemerintah yang berkuasa ketika itu. Maka di ciptakanlah simbol-sibol dalam pertunjukan antara lain adalah kondobuleng (bangau putih) dan juga tokoh Tuang (orang Belanda). Kesenian ini dipentaskan di istana raja dan di kampung-kampung. Rombongan kesenian kondobuleng keluar masuk kampung memenuhi permintaan masyarakat yang melakukan hajatan tanpa mendapat hambatan dari pemerintahan kolonial. Karena rombongan kesenian ini telah mendapat kartu/surat izin. Dahulu rombongan ini hanya satu grup saja dan pemainnya masih dalam satu keluarga saja. Namun dalam perkembangannya sekarang kelompok teater rakyat ini telah berkembang menjadi tiga kelompok dan bermukim di Kampung Paropo yang sekarang sudah menjadi bagian dalam Kota Makassar. Karakter/ tokoh dalam cerita ini adalah: Kondobuleng yang diperankan oleh seorang anak laki-laki dengan menggunakan kostum serba putih dengan bebuat topeng burung bangau dari kain pula; Tuang, adalah tokoh pemburu dengan mike up dan kostum yang bercirikan seorang mandor atau tuan tanah Belanda, Nelayan 1, nelayan yang menggunakan alat pancing, Nelayan 2; nelayan yang menggunakan alat jala, dan Nelayan 3; nelayan yang menggunakan alat bubu (alat yang terbuat dari bambu). Selama pertunjukan teater ini diiringi dengan orkes to riolo yang melantunkan lagu-lagu Makassar seperti ?Daeng Camummu? dan ?Balebalang?. Pertunjukan Kondobuleng biasanya pada acara-acara pesta pernikahan, sunatan, naik rumah baru, dll.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901052

Nama Karya Budaya :Kondobuleng

Provinsi :Sulawesi Selatan

Domain :Tradisi dan Expresi Lisan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda