Kennard Alvaro Hadinata Banyak Ukir Prestasi di Tingkat Dunia

0
327

Kennard Alvaro Hadinata telah menunjukkan bakat melukis luar biasa sejak usia
empat tahun. Bakat besar itu tumbuh subur di tengah keluarganya. Baik ayah
maupun ibunya menyukai dunia seni lukis. Lingkungan yang mendukung itu memungkinkan bakat melukisnya bisa berkembang baik dan menghasilkan karyakarya seni rupa berkualitas.

Bakat istimewa yang dimiliknya tercermin jelas dari sejumlah penghargaan yang
dicapainya semenjak 2012. Tidak kurang ia telah mengantongi 134 penghargaan dan sebagian besar dari penghargaan itu sebagai pemenang pertama, antara lain juara I dalam International Art for Children Painting tahun 2014 di Bulgaria. Eloknya lagi, kemenangan-kemenangannya itu justru terjadi di panggung internasional, seperti di Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, Jepang, China, Bulgaria, Meksiko, Ceko, dan India.

Sebagai ilustrasi, tahun 2015 ia mengikuti seleksi untuk bisa ikut pameran dalam rangka the 2015 Saatchi Gallery/Deutsche Bank Art Prize for School di London, Inggris. Ken, begitu ia biasa disapa, terpilih sebagai salah satu dari 20 pelukis yang dinyatakan berhak tampil dalam pameran khusus tersebut. Padahal yang ikut seleksi tidak kurang 20.000 pelukis yang datang dari seluruh dunia.

Dengan kaca mata minus satu, Ken yang merasa bakat melukisnya mendapat dukungan penuh dari kedua orangtuanya dan teman-temannya di sekolah mengungkapkan, salah satu karyanya yang paling disukainya adalah ”Peace, To Live Together in Harmony” (2018), yang sempat memenangi penghargaan 5e prix dalam The International Visual Art Competition Louis Francois di Prancis. Lukisan tersebut menghadirkan burung merpati membawa ranting daun zaitun, sedangkan di bagian tubuhnya tampil sosok manusia anak manusia dari berbagai belahan dunia dalam kostum budayanya masing-masing. Dalam keberagaman, mereka jadi satu di dunia yang satu. Harmoni hanya bisa lahir dari keberagaman. “Saya suka lukisan tersebut,” katanya singkat.

Tema-tema yang menyentuh selalu hadir di kanvasnya. Lukisannya bertajuk “I Love You, Mom” menggambarkan seekor induk orangutan yang sedang menggendong bayinya dengan penuh kasih sayang. Lukisannya tersebut langsung “menyapa” yang menontonnya. Maka, tak heran lukisan ini mendapat penghargaan utama di Polandia pada tahun 2019. Begitulah, lukisannya telah melalang buana ke seluruh dunia sampai ke Jerman, Bulgaria, Ukraina, Spanyol, Jepang, Inggris, Latvia, Italia, Belarus, Polandia, AS, Rumania, Makedonia, Turki, Pdrancis, Slovenia, Belanda, India, Ceko, Rusia dan lain-lain, meskipun Ken sendiri belum ke sana.

Ken mengaku sangat suka melukis naga dan dinosaurus atau raksasa. Di beranda Facebook-nya, ia menulis: “Saya suka naga dan dinosaurus. Saya selalu bermimpi bahwa di masa depan kita dapat membangun makhluk realitas virtual seperti naga dan raksasa atau bahkan menjaga naga peliharaan virtual yang dapat kita kendalikan dengan remote virtual. Tidak hanya itu, saya bermimpi bahwa orang-orang dapat berbicara dengan gambar virtual teman dan keluarga dari tempat yang jauh, sehingga kita dapat merasa bahwa mereka dekat. Jadi, saya berharap, ketika orang-orang dari masa depan melihat gambar saya, itu akan menginspirasi mereka untuk membuatnya terjadi. Ini akan sangat keren!” Ken banyak mendapat inspirasi melukis monster dan robot dari film-film animasi atau game-game.

Dalam mengembangkan bakat melukisnya, peran orangtuanya, khususnya sang bunda Ira Kurnia Santoso, luar biasa. Ira membimbing dan mengarahkan putra keduanya itu. Setelah mengetahui bakat melukis anaknya, Ira yang berlatar belakang seorang desainer grafis langsung menyiapkan alat-alat menggambar untuk anaknya, mulai dari kertas sampai warna. Kemudian Ken dimasukkan ke Daun Sanggar Lukis Anak binaan Arik S Wartono. Tahun 2016 ia keluar dari sana dan kemudian belajar Chinese painting pada Bernadette
Godeliva Fabiola Natasha yang lebih populer dengan panggilan Kaza Kashumi. Ken merasa senang belajar Chinese painting.

Sang ibunya pulalah yang giat mencari info tentang lomba lukis. Saat usia empat tahun, Ken sudah ikut lomba. Yang pertama kali ia ikut The 4th Yang Ming International Adolescents Painting Competition tahun 2012 di Taiwan, dan mendapat penghargaan “Honorary Mention”. Lalu, ia mengirim lukisannya untuk ikut lomba The 2012 Save The Froggs! Art Contest di Amerika Serikat, dan ia baru terpilih sebagai finalis. Masih di tahun 2012, ia menjadi pemenang untuk Youth for Human Rights International Art Illustration Contest di Amerika Serikat.

Pada tahun 2013 ia mulai mengecap rasanya menang dalam lomba saat mendapat medali emas pada 43rd Pentel International Children’s Art Exhibition di Jepang Pada tahun 2014, makin banyak kompetisi diikuti oleh Ken. Penghargaan yang didapatnya juga kian banyak. Tahun 2014 ia menjadi pemenang The 12th International Art Competition dengan karya lukis “Different Look” di Polandia. Lukisannya itu kemudian jadi ilustrasi cover untuk katalog kompetisi tersebut. Ia pun menjadi pemenang pertama untuk The Ocean Pals International Poster Contest di Amerika Serikat, tahun 2014. Ia juga jadi pemenang dalam kompetisi drawing berjudul “Build Vincent” di Belanda. Di Spanyol lukisan Ken mendapat penghargaan pertama untuk “The 2014 Peace and Cooperation School Award Family: Rights And Future”.

Ken mengungkapkan sosok yang ikut berpengaruh besar terhadapnya saat ia berusia 6 tahun adalah Vladimir Lopato-Zagorsky, Duta Besar Belarus untuk Indonesia. “Melihat kembali pada tahun 2014, aku berumur 6 tahun, ketika seseorang tanpa tahu dapat membuat pengaruh besar dalam hidup saya… Terima kasih Tuan Vladimir Lopato-Zagorsky,” tulis Ken di beranda Facebook-nya. Saat itu Ken mengikuti The 4th International Competition of Children’s Pictorial Creativity: Children are Friends All Over the Planets (Kompetisi Internasional ke-4 Kreativitas Gambar Anak: Anak-anak Saling Berteman di Seluruh Dunia).

Dari Jakarta, Vladimir Lopato-Zagorsky mengirim sepucuk surat kepada Ken untuk mengabarkan bahwa tidak kurang 31.000 orang dari 26 negara telah mengikuti kompetisi, dan karya Ken mendapat penghargaan (diploma) dalam kompetisi tersebut. “Saya harap Anda akan terus mengembangkan bakat Saudara dan akan mempunyai banyak pencapaian di masa datang,” tulis duta besar asal Belarus itu kepada Ken.

Momen lain yang tak terlupakan bagi Ken adalah saat ia menerima piagam penghargaan berupa Medal The Rose of Lidice yang diserahkan oleh Duta Besar Republik Ceko untuk Indonesia, Ivan Hotek, di Jakarta, pada 14 Februari 2019. Ken mengikuti The 46th International Children’s Exhibition of Fine Art Lidice tahun 2018 dan mendapat penghargaan tersebut.

Guna menambah wawasan dan pengalamannya, orangtua Ken mengajak putranya itu untuk melihat karya seni rupa di sejumlah galeri seperti Museum Seni Rupa dan Museum Keramik di Jakarta (Kota Tua) pada Februari 2019. Di sini Ken bisa melihat karya-karya dari maestro seni rupa Indonesia seperti Raden Saleh, S Sudjojono, Affandi, Basuki Abdullah, Dullah, Lee Man Fong, Antonio Blanco, an Hendra Gunawan. Ken juga meluncur ke Galeri Nasional Indonesia untuk menyaksikan pameran Sasya Tranggono, “Seni Rupa Post Tradisi”, dalam rangka 30 tahun Sasya berkarya, dan malamnya ia ke Galeri Indonesia Kaya di Grand Indonesia. .

Untuk prestasinya yang luar biasa itu, Pemerintah RI melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberinya Anugerah Kebudayaan kategori Anak/Remaja tahun 2019. “Saya kaget bukan main ketika mendengar kabar tentang anugerah kebudayaan dari Ibu saya,” tuturnya. Anugerah ini, katanya, melecutnya untuk bekerja lebih keras lagi agar bisa mencetak prestasi yang lebih hebat lagi.

Sumber: Buku Profil Penerima Anugerah Kebudayaan 2019

 

TINGGALKAN KOMENTAR