Indonesian Dance Festival

0
1144

DSC_1933
Indonesian Dance Festival (IDF) merupakan salah satu komunitas seni dalam bidang seni tari yang didirikanpada tahun 1992 dengan tujuan memajukan dunia seni tari di tanah air. IDF memiliki visi untuk meningkatkan karya seni tari kontemporer khususnya di Indonesia dan meningkatkan kreativitas tari kontemporer bagi kaum muda maupun penata tari di indonesia. Misi IDF yang terpenting adalah mewujudkan tari kontemporer di Indonesia yang berlandaskan pada nilai-nilai tradisi.

Sebagai komunitas seni independen, yang didirikan oleh para tokoh dan akademisi seni tari, IDF patut mendapatkan apresasi karena keberadaannya selama 24 tahun telah memberi sumbangan besar bagi perkembangan dunia tari di Indonesia, khususnya dengan memberi kesempatan para piñata tari muda untuk bersaing di ajang internasional.

Kelahiran IDF berangkat dari keresahan beberapa tokoh dan akademisi tariyang menghadapi kenyataan bahwa programPenata Tari Muda yang pernah digagas Komite Seni Tari, Dewan Kesenian Jakarta (Sal Murgiyanto, Edi Sedyawati) dan pernah berjalan dengan baik pada tahun 1978 sampai dengan tahun 1987, kemudian terhenti pada tahun 1990.

Menghadapi situasi tersebut beberapa tokoh dan akademisi tari terkemuka Indonesia dari Institut Kesenian Jakarta, seperti Sal Murgiyanto (baru menyelesaikan studi pengkajian tari Amerika Serikat), Nungki Kusumastuti, Melina Surja Dewi, Maria Darmaningsih, Deddy Lutan, dan Tom Ibnur menginisiasi sebuah wadah seni. Prakarsa ini didukung oleh beberapa tokoh tari Indonesia, di antaranya Sardono W. Kusumo, Julianti Parani, Edi Sedyawati, dan Farida Oetoyo merasa terpanggil untuk mendirikan sebuah wadah apresasi seni yang kemudian diberi nama Indonesian Dance Festival (IDF).

Penyelengaraan IDF pertama pada tahun 1992, hanya diikuti para koreografer dari Indonesia.Namun, pada penyelenggaran tahun berikutnya (1993), IDF mengundang para koreografer dunia dengan harapan akan terjadi proses pembelajaran satu sama lain. Dalam penyelenggaraan kedua itu memiliki nilai sejarah dengan mengadakan program showcase, yaitu program yang dirancang untuk menampung bibit-bibit berbakat para koreografer muda Indonesia.

Kepengurusan IDF tahun 1992—2002 diketuai oleh Sal Murgiyanto, lalu oleh Nungki Kusumastuti pada tahun 2004—2008, dan Maria Darmaningsih dari tahun 2010—sekarang. IDF yang diadakan setiap dua tahun sekali telah berhasil menampilkan karya-karya terpenting para koreografer Indonesia yang sudah mapan maupun yang sedang berkembang di antaranya M. Miroto, Mugiyono Kasido, Eko Supriyanto, Boi G Sakti, dan Jecko Siompo. Para koreografer dari mancanegara antara lain Ku Ming-Shen (Taiwan), Min Tanaka dan Takiko Iwabuchi (Jepang), Cezerine Barry (Australia), Janis Brenner (Amerika Serikat), Arco Renz (Belgia), Jerome Bel (Prancis). IDF juga melibatkan para kurator dari luar Indonesia sebagai anggota artistic board, di antaranya Tang Fu Kuen dari Singapura dan Daisuke Mutoh dari Jepang.

Hal terpenting dari kegiatan IDF adalah proses pembelajaran yang diarahkan pada pengembangan pendidikan seni tari yang bertolak dari berbagai khazanah, baik yang tradisional maupun modern dan kontemporer melalui program-program kerjasama antara seniman Indonesia dengan seniman dari negara lain, program workshop, presentasi, seminar, kompetisi, master class, stimulasi karya-karya baru serta berbagai presentasi karya-karya inovatif. Program-program itu didesain sebagai upaya mengangkat potensi para seniman muda sekaligus ruang mediasi antara karya-karya koreografi dengan masyarakat luas yang memiliki latar belakang kultur yang beragam pula.

IDF adalah perayaan karya kreatif sebagai wahana untuk membuka diri terhadap segala perbedaan identitas. Dari perbedaan itu akan tercipta berbagai kemungkinan dialog atau bentuk-bentuk kolaborasi dalam tingkat apa pun guna mendorong kreativitas kebudayaan secara luas di masa depan. Dengan latar belakang pendiriannya, khususnya sebagai bagian dari pengembangan pendidikan tari, IDF meletakkan tujuan-tujuan tersebut pada perluasan pengetahuan dan pengalaman para kreatornya agar dapat memperluas jangkaun artistiknya dengan memanfaatkan segala khazanah yang ada sesuai perkembangan kreativitas seni secara umum maupun sebagai ruang pertemuan antara karya seni dengan masyarakat luas. Suatu pertemuan yang akan membangun dialog antara para seniman dan masyarakat untuk lebih memahami perkembangan budaya yang terbuka dari segala arus kreativitas yang bermacam-macam.