Gerabah Banjar Basang Tamiang, Suatu kerajinan tradisional yang unik

0
4003

Seni Gerabah Banjar Basang Tamiang adalah suatu kerajinan tradisional yang unik, karena proses pembuatannya secara manual, selalu menggunakan alat tradisional yang dinamakan “Pemubutan”. Seni Gerabah merupakan sebuah karya budaya dengan bahan mentah dari tanah liat dan prosesnya membutuhkan ketrampilan khusus dalam upaya untuk menghasilkan karya seni yang bernilai tinggi.

Seni Gerabah ini diperkirakan sudah ada sejak jaman pra sejarah. Sedangkan kerajinan Gerabah di Banjar Basang Tamiang sekitar Tahun 1103 Caka Bali. Ketika itu Pemerintahan dipegang oleh Raja Sri Aji Jaya Pangus yang saat itu Beliau melakukan Ekspedisi ke Negeri Tiongkok. Disana Beliau mempersunting seorang istri bernama Dewi Cungkang. Selama di Negeri Tiongkok Beliau banyak belajar tentang sosial budaya masyarakat setempat. Dalam perjalanannya kembali menuju Bali, Beliau membawa adat istiadat dan budaya apa yang Beliau pelajari yang salah satunya adalah kerajinan Gerabah. Dalam perkembangannya, kerajinan ini menyebar di beberapa tempat di daerah Bali termasuk di wilayah Desa Kapal. Khususnya sekitar Pangempon/Penyungsung Pura Dalem Bangun Sakti. Setelah mengalami perkembangan masyarakat mulai melaksanakan Paum/Perjanjian, selama ada upacara di Pura Dalem Bangun Sakti, masyarakat tidak diperkenankan oleh Raja untuk mengadakan kegiatan pembuatan Keramik/Gerabah. Bila dilanggar, maka usaha yang dilakukan itu akan sia-sia dan yang bersangkutan akan mengalami kegaduhan dalam keluarganya. Kenapa dinyatakan seperti itu, karena kerajinan Gerabah ini terbuat dari tanah liat, sedangkan yang dipuja di Pura Dalem Sakti adalah Sanghyang Siti Dharani atau di Bali lebih dikenal dengan nama Sanghyang Ibu Pertiwi.

Proses pelestarian kerajinan Gerabah ini adalah dari cara pembuatannya, yakni perlu keahlian khusus agar mendapat hasil yang bagus. Proses pertama-tama tanah liat ditaruh diatas pembuatan kemudian dibentuk dengan tangan, setelah jadi Gerabah tersebut dijemur supaya kering, selanjutnya dibakar kemudian terakhir baru dicat agar terlihat indah dan siap untuk dipasarkan.

Di samping itu kerajinan Gerabah ini dapat bertahan sampai sekarang karena di Bali khususnya di Banjar Basang Tamiang, dipakai sebagai penopang kehidupan atau ekonomi keluarga yang sekarang sifatnya sudah dikomersialisasi oleh masyarakat sehingga kerajinan ini boleh dikatakan eksis sampai saat ini. Jadi kerajinan Gerabah di Banjar Basang Tamiang merupakan mata pencaharian hidup sehari-hari bagi masyarakat setempat.

Ciri khas bahan dan proses pembuatan Gerabah di Banjar Basang Tamiang dengan tempat lain adalah bahan yang dipakai dari tanah liat yang dicampur dengan abu batu padas, diaduk sehingga menjadi adonan. Prosesnya adalah tanah liat dijemur hingga kering, setelah kering ditumbuk halus lalu diayak kemudian dicampur dengan abu batu padas, kemudian ditambah air secukupnya kemudian dibuat seperti adonan, lalu berubah dibentuk sesuai dengan keinginan seperti motif kendi sebagai sarana minum air, motif junpere sebagai sarana upacara agama, motif pasepan sebagai sarana tempat api menyan dan lain-lain.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901001

Nama Karya Budaya :Gerabah Banjar Basang Tamiang

Provinsi :Bali

Domain :Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda