Gambuh Desa Adat Tumbakbayuh, Munculnya adanya struktur dramatik yang lengkap

0
951

Tari Gambuh yang terbentuk di Bali tidak hanya memperkenalkan cerita sebagai lakon yang memunculkan adanya struktur dramatik yang lengkap, akan tetapi memperkenalkan pula koreografi yang rumit dan penampilan yang artistik.

Bentuk pertunjukan Gambuh memiliki standar kualitas tertentu yang mencirikan Gambuh, yaitu memiliki struktur pertunjukan dan koreografi serta iringan musik yang pasti, perbendaharaan gerak yang lengkap dengan aturan-aturan yang ketat, yang tidak dimiliki oleh Bali sebelumnya.

Begitu pula kostum yang digunakan sangat megah, berbeda dengan kostum yang digunakan oleh tari-tarian sebelumnya yang sangat sederhana. Itulah yang menyebabkan Gambuh dikatakan sebagai sumber drama tari yang muncul kemudian di Bali.

Struktur keseluruhan peran-peran yang ditampilkan dalam pertunjukan Drama Tari Gambuh adalah:

– Condong yang diiringi dengan tabuh Subandar.

– Kakan-kakan yang diiringi dengan tabuh Sumambang.

– Arya-arya dengan tabuh pengiringnya Sekar Gadung atau yang lainnya.

– Demang Tumenggung yang diiringi dengan tabuh Bapang Gede.

– Patih Manis (Rangga) diiringi dengan tabuh Godeg Miring, Tunjur.

– Panji dengan iringan tabuh Lengker, Sumeradas, Bapang Selisir.

– Penasar dengan iringan tabuh Bapang.

– Prabu Keras dengan iringan tabuh Godeg Miring, Biakalang atau tabuh lainnya.

 

Keberadaam Drama Tari Gambuh di Desa adat Tumbak Bayuh adalah merupakan jenis Tari Bebali yaitu Tari yang pementasanya menunjang jalannya upacara yakni sebagai sarana pengiring. Tarian ini dipentaskan bersamaan dengan upacara berlangsung dan tarian ini mengungkapkan suatu cerita yang disesuaikan dengan upacara yang diselenggarakan pada saat upacara piodalan di Pura Dalem Purnama, yang di selenggarakan setiap 6 (enam) bulan sekali yaitu pada Buda Kliwon Sinta Tari ini dipentaskan pada saat puncak upacara.

 

Tari Gambuh di Desa Adat Tumbak Bayuh memiliki beberapa fungsi:

1. Sebagai Tari Bebali (serimonial), yaitu sebagai pengiring upacara di pura-pura. Drama Gambuh sebagai tari lakon klasik tertua dalam khazanah tari Bali adalah merupakan bentuk total teater yang memiliki unsur seni, drama, musik, dialog dan tembang.

2. Sebagai sarana dan pelaksanaan upacara-upacara besar terutama tingkatan upacara “mapeselang”. Tari Gambuh ditarikan pada waktu Ida Bhatara turun ke paselang .

3. Sebagai sebuah hikayat yang menceritakan kehidupan, peperangan, roman, dari raja-raja Jenggala, Kediri,Gegelang dan sebagainya.

 

Adapun makna Drama Tari Gambuh adalah:

 

Pertunjukan Drama Tarih Gambuh memberikan peran penting dalam kehidupan masyarakat Balikarena memerikan makna dan nilai-nilai di dalam kehidupan sosial budaya Bali, adapun makna yang terkandung di dalam pertunjukan Drama Tari Gambuh yakni, (1) makna keseimbangan, (2 ) makna simbolik dan (3) makna prestise dan kebanggaan local. Pemaknaan terhadap suatu unsur kebudayaan, terkait erat dengan sistem nilai budaya. Sistem nilai budaya pada hakekatnya terdiri dari konsep mengenai segala sesuatu yang dinilai berharga dan penting warga suatu masyarakat, sehingga dapat berfungsi sebagai pedoman orientasi pada kehidupan para warga masyarakat bersangkutan. Mengacu kepada konsep nilai budaya universal yang dikemukakan oleh Spranger, terdapat 6 (enam) nilai budaya universal yang terkandung dalam seni pertunjukan Gambuh. Nilai-nilai budaya tersebut adalah (1) nilai religious,(2) nilai estetika, (3) nilai solidaritas, (4) nilai ilmu pengetahuan, (5) nilai kekuasaan.

 

 

*—————

Gambuh adalah sebuah Drama Tari Warisan Budaya Bali, yang memperoleh pengaruh dari Drama Tari Zaman Jawa – Hindu di Jawa Timur, yang dikenal dengan nama Raket Lalaokaran. Drama klasik yang lahir pada masa lampau, masih dilestarikan di berbagai daerah di Bali.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901013

Nama Karya Budaya :Gambuh Desa Adat TumbakBayuh

Provinsi :Bali

Domain :Seni Pertunjukan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda