BELIAN BAWO

0
5717

Belian bawo merupakan salah satu alternatif cara pengobatan orang sakit yang sudah sejak lama dikenal di kalangan suku Dayak Benuaq di Kalimantan Timur. Belian bawo adalah sejenis upacara pengobatan orang sakit. Belian bawo berasal dari kata “belian” yang dapat berarti cara penyembuhan orang sakit. Sedangkan kata “bawo” berarti bukit/gunung. Konon tradisi awal pengobatan tradisional ini berasal dari Kalimantan Tengah, lalu menyebar ke kalangan Suku Dayak Benuaq di daerah Lingau, dan Bentian, Kabupaten Pasir, Kecamatan Damai, Muara Lawa, Muara Pahu, bahkan akhirnya tersebar di daerah-daerah Suku Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai.
Sejarah
Terdapat beberapa pendapat tentang asal usul belian bawo, antara lain:
• Versi pertama menyatakan bahwa belian bawo berasal dari seorang yang bernama Janyan Liatn Ngentan. Setelah Janyan Liatn Ngentan meninggal, orang-orang tidak tahu dan tidak pernah mengadakan upacara Belian bawo lagi, karena tidak ada serorangpun yang pernah belajar tentang belian dari Janyan Liatn Ngentan. Di suatu saat muncul tokoh belian yang bernama Japaq Pelulaq. Pada suatu hari Japaq Pelulaq berjalan-jalan di belakang lamin (rumah panjang), tiba-tiba ia jatuh ke dalam sebuah lubang. Saat keluar dari lubang ia melagukan lagu belian bawo dan sambil menari-nari menuju lamin, sehingga disangka gila oleh orang sekampung. Setelah warga mengetahui bahwa Japaq Pelulaq jatuh ke dalam lubang, mereka lalu menyelidiki lubang itu dan akhirnya diketahui lubang tersebut adalah kubur dari seorang tokoh belian bawo yang bernama Janyan Liatn Ngentan. Sejak itulah upacara belian bawo diadakan lagi oleh Japaq Pelulaq yang bergelar Ketew Bulaw Japaq (Kembang emas dari Japaq). Ia mempunyai seorang murid bernama Genikng Pisik Toyak Rihai. Selanjutnya lahir tokoh-tokoh belian bawo di berbagai daerah.
• Versi kedua menyatakan bahwa belian bawo berasal dari seseorang bernama Raqsasaaq yang tinggal di daerah bernama Bawo Adang. Ia mendapatkan pengetahuan tentang belian bawo dari makhluk halus. Tidak terdapat penjelasan bagaiamana cara dia mempelajari belian bawo, apakah dengan cara mengikuti/meniru gurunya atau awalnya menjadi gila (kerasukan) terlebih dahulu sebelum bisa mahir menjadi belian bawo. Konon kabarnya Raqsasaaq memililki pengetahuan yang sangat tinggi, hingga bisa menewaskan seseorang atau ia bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal dunia melalui upacara belian bawo ini. Kini tidak ada lagi pemeliatn yang memiliki kemampuan untuk menghidupkan dan menewaskan orang seperti Raqsasaaq dan ketiga keturunannya. Namun belian bawo masih diturunkan kepada para pengikutnya hingga sekarang.
Gambar 2. Dimulainya upacara belian bawo

Sumber: INDB, 2013
• Versi ketiga menyatakan bahwa belian bawo berasal dari seseorang bernama Japaq Pelulaq. Suatu hari Japaq Pelulaq membuat lemang, ketupat dan ayam panggang, lalu memasukkannya ke sebuah wadah (anjat). Ia kemudian pergi ke tempat Kilip, seseorang yang mengikuti Japaq Pelulaq menuju ke Bawo Langit. Japaq Pelulaq membawa sebuah guci yang bibirnya pecah, sementara Kilip membawa sebuah piring. Di Bawo Langit keduanya mempelajari belian bawo, hingga ditahbiskan menjadi pemeliatn (perantara). Sejak saat itu mereka bertugas menyembuhkan orang sakit di Kampung Ruang dan mentahbiskan orang-orang berikutnya yang dianggap berbakat menjadi pemeliatn.
• Sedangkan versi keempat menyatakan bahwa belian bawo berasal dari makhluk halus (uwok). Alkisah seorang suami memasukkan peti jenazah (lungun) istrinya yang telah meninggal ke dalam sungai, karena khawatir jenazah istrinya akan dimakan oleh makhlus halus pemakan mayat (uwok) jika dimakamkan di hutan. Namun uwok tetap berupaya mencari mayat tersebut dengan mengucapkan mantera-mantera sambil menari. Setelah uwok berhasil menemukan jenazah istrinya, pemimpin uwok berhasil menghidupkan jenazah itu dengan cara menggosokkan ramuan yang terbuat dari kayu-kayuan dan minyak mujat ke tubuh jenazah. Suami yang mengawasi dan mempelajari bagaimana uwok menghidupkan jenazah (pesuli) lalu menirunya, sehingga ia kemudian menjadi pemeliatn yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati.
Deskripsi
Orang yang memiliki pengetahuan dan dapat menyelenggarakan upacara belian bawo disebut sebagai perantara (pemeliatn, dalam bahasa Suku Dayak Benuaq). Belian bawo berfungsi untuk menyelidiki apa yang menyebabkan timbulnya suatu penyakit, selanjutnya mencari cara bagaimana menyembuhkan orang yang sakit. Apabila seseorang jatuh sakit, pemeliatn tidak pernah berusaha mencari tahu apa jenis/nama penyakitnya tetapi selalu menyelidiki apa yang menyebabkan timbulnya penyakit tersebut. Jika penyebab penyakit telah diketahui, ia baru akan mengusahakan penyembuhannya.
Apabila suatu penyakit disebabkan karena kemarahan makhluk-makhluk halus, maka penyembuhan dilakukan dengan cara memohon maaf kepada makhluk-makhluk halus tersebut dengan memberikan saji-sajian dan pemujaan-pemujaan kepada mereka. Namun jika suatu penyakit disebabkan oleh keseimbangan magis yang terganggu, misalnya kesalahan dalam pelaksanaan sesuatu upacara, maka harus diimbangi dengan penghapusan dosa.
Sesuai dengan tingkat pengetahuan para perantara (pemeliatn), belian bawo dapat dibagi dalam tiga golongan, yakni:
• Ngawat, berasal dari kata “awat” yang artinya memberi bantuan. Jadi, ngawat adalah usaha pemeliantn (perantara) untuk mengadakan hubungan dengan makhluk halus secara singkat dengan maksud agar ia mendapatkan petunjuk dari makhluk halus mengenai apa yang menyebabkan seseorang jatuh sakit. Kemudian ia juga memohon agar makhluk halus mau menyembuhkan si sakit. Ngawat terbagi atas dua jenis, yaitu ngawat entaaq dan ngawat encaak. Pada dasarnya ngawat entaaq lebih sederhana dari ngawat encaak jika dilihat dari lamanya penyelenggaraan upacara dan peralatan upacara yang digunakan. Tahapan upacara dalam ngawat adalah seperti berikut: persiapan, narere, bejajuruq la mo, bakawat, ngasi ngado, nyalolo dan tangai (penutup).
• Badasuq, berasal dari kata “ba” (ada) dan “dasuq” (tujuan). Artinya, ada tujuan dari para belian yang harus dilaksanakan. Dengan kata lain pemeliatn mengadakan hubungan dengan makhluk halus tertentu, yaitu makhluk halus yang menyebabkan orang sakit, dengan maksud menyerahkan segala persembahan dan mohon agar si sakit dapat disembuhkan. Berdasarkan jenis makhluk-makhluk halus yang dapat menimbulkan penyakit, maka dasuq terdiri beberapa jenis, diantaranya: Dasuq Mulakng, Dasuq Makatn Juus, Dasuq Semantuq, Dasuq Deukng, Dasuq Tatau Bajur Batuq, Dasuq Nyemah Anaak Dampaaq Waluq Ulutn Tasik Luwau Agung dan Dasuq Nyemah Tatau Redatn Tamutn. Perbedaan dari masing-masing dasuq ini terlihat dari tujuan penyelenggaraan, tata cara pelaksanaan dan perlengkapan yang digunakan.
• Nyolukng Samat, berasal dari kata “nyolukng” (menyelesaikan/membayar dan “samat” (janji). Jadi, nyolukng samat adalah usaha pemeliatn mengadakan hubungan dengan makhuk halus dengan maksud menyelesaikan janji atau membayar janji. Nyolukng Samat terjadi hanya bila anggota keluarga si sakit (biasanya sakit keras) melakukan perjanjian dengan makhluk halus yang ditandai dengan pencabutan bulu binatang tertentu (ayam, babi, atau kerbau) dan disimpan dalam bungkusan kain. Jika janji telah dibuat, maka setelah si sakit mengalami kesembuhan, keluarga si sakit wajib untuk melakukan pembayaran janji tersebut. Upacara ini dilaksanakan hingga 5 hari. Setiap harinya diselenggarakan beberapa tahapan upacara, seperti: narere, ngabomaq, bakawat, antar longan, ngasi ngado, nutung, pemotongan babi dan ayam, serta mabaaq benuo.
Upacara belian bawo berkaitan dengan alam kepercayaan Suku Dayak Benuaq, yang didasari keyakinan religiusitasnya. Oleh karena itu upacara belian bawo sarat dengan fungsi spiritual (religius). Kepercayaan ini yang merupakan motor penggerak seluruh sendi kehidupan masyarakat Suku Dayak Benuaq yang di antaranya terwujud dalam penghormatan arwah nenek moyang, kepercayaan akan adanya kekuatan-kekuatan gaib, dan makhluk-makhluk halus. Perasaan ini mendorong mereka untuk selalu berusaha menyenangkan hati roh leluhur dan makhluk halus yang melingkupi kehidupan mereka, karena hal-hal itu diyakini sebagai sumber malapetaka dan pertolongan.
Saat ini upacara belian bawo telah jarang dilakukan oleh masyarakat. Beberapa penyebabnya adalah berkurangnya penerapan ajaran kepercayaan asli masyarakat setelah masuknya agama Kristen. Selain itu kemajuan dalam bidang pendidikan memengaruhi cara berpikir masyarakat masa kini yang lebih memercayai pengobatan medis dibandingkan pengobatan secara tradisional.