Basri Baharuddin Sila: Tanpa Musik Hidup Itu Hambar

0
1030

Keheningan di Sanggar Seni Yayasan Batara Gowa, Makassar, petang itu pecah oleh bunyi instrumen musik tradisional gendang, pui-pui, dan kecapi. Musik yang rancak itu terdengar makin keras. Basri Baharuddin Sila, maestro musik tradisional asal Sulawesi Selatan, Sila tampak menggebu-gebu memukul kendang diiringi instrumen lain. Sementara itu, tiga darah manis dengan lemah gemulai menarikan tarian Malino karya Andi Ummu Tunro yang tak lain istri Basri.

Begitulah suasana rutin saat petang menjelang di sanggar seni Yayasan Batara Gowa yang diasuh oleh Basri. Di tempat itu para muridnya, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, datang berguru musik tradisional Sulawesi Selatan. Di sanggar ini mereka juga bisa belajar tari dan teater. Bahkan perpustakaan untuk bacaan anak-anak juga tersedia di sini. “Sudah ratusan murid saya,” katanya. Basri menuturkan bahwa sejak kecil dirinya telah terbiasa mendengar musik. Di Makassar banyak ritual dan itu selalu berkaitan dengan musik. “Musik itulah yang telah merasuki saya sejak kecil dan saya merasakan itulah dunia saya,” tutur Daeng Bas, begitu ia selalu disapa.

Ia mulai berguru pada seorang maestro gendang asal Gowa, yaitu Rapo-anrong. Lalu ia merantau ke Yogyakarta mengikuti pendidikan kesenian di Padepokan Seni Bagong Kusudihardjo pada 983-1985. Ia juga rela menuntut ilmu sampai keluar negeri. Tahun 1997, misalnya, ia mengikuti Program Indonesian Art Cultural Exchange di Jepang, Malaysia, dan Singapura. Dan, ia tak pernah berhenti belajar dan terus menjalin olaborasi dengan banyak musisi. Bahkan, tahun 2015, Daeng Bas sempat berkolaborasi dengan grup musik rock terkemuka Indonesia, Slank, dalam pertunjukan tari dan musik Slank “Reog ‘n Roll”.

Ia juga tidak hanya bertemu dengan orang seni. Tahun 2006 ia mengikuti World Meditation Gathering di Surakarta, Jawa Tengah. Tahun 2007 ia terpilih mewakili Indonesia pada International Himalaya Meditation Centre di Risikesh, India. Di sini ia mendapat penghargaan dari Swami Veda Barathi, pemimpin spiritual Yoga dan Meditasi Himalaya Internasional. “Musik itu jembatan kemanusiaan,” katanya tentang sifat musik yang selalu menyatukan.

Buah manis di dunia musik yang kini dipanennya tidak datang dengan mulus. Ia melakukan perubahan yang luar biasa terhadap musik tradisional yang digelutinya. “Biasanya musik tradisional dipakai untuk mengiringi lagu seperti ‘Anging Mamiri’ sampai sekitar tahun 1980-an. Saya rombak musik tradisional itu dengan sistem perkusi dengan melodi sederhana yang saya buat,” ceritanya.

Perubahan tersebut tak serta merta diterima. Banyak yang tak mengerti dan menolak musik yang diciptakan oleh Daeng Bas. Akan tetapi ia jalan terus dengan musik pilihannya. “Sekarang semua bisa menerima musik saya,” katanya lega. Bila para pelaut asal Sulawesi Selatan yang ulung itu bisa keliling dunia karena kemahiran berlayar, Daeng Bas dengan kemahiran main musik tradisionalnya justru bisa berlayar keliling lima benua: Afrika, Eropa, Amerika, Asia, dan Australia. Tahun 2005, misalnya, Daeng Bas tampil pada South Sulawesi Performance Night pada Easter Festival di Cape Town, Afrika Selatan.

Namanya melambung ketika diminta menjadi asisten komposer dan musisi pada pementasan “I La Galigo” yang disutradarai oleh Robert Wilson di beberapa kota dunia pada 2004 sampai 2008, yaitu di Singapura, Madrid dan Barcelona (Spanyol), Lyon (Perancis), Ravenna (Italia), Amsterdam (Belanda), New York (Amerika Serikat), Melbourne (Australia), dan Taipei (Taiwan). Tahun 2011 ia kembali dipercayakan menjadi asisten komposer dan musisi pada pementasan “I La Galigo” di Fort Rotterdam, Makassar.

Dari musik, tari, dan teater, Daeng Bas menjelajahi dunia perfilman dengan menjadi pengarah musik (music director) untuk film Atambua 39° Celsius yang disutradarai oleh Riri Riza. Ia juga menggarap musik untuk film dokumenter Rasa karya sutradara Brune Charvin. Tak heran bila seniman ini telah mendapat berbagai penghargaan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Penghargaan terbaru yang diterimanya adalah Anugerah Kebudayaan 2017 untuk kategori Pelopor, Pencipta, dan Pembaharu dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Penghargaan ini sungguh membuat saya tambah percaya diri. Juga memberi motivasi bagi saya untuk terus mengembangkan dan melestarikan musik asal Sulawesi Selatan,” kata putera dari Baharuddin Daeng Paewa yang merupakan tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Ketika mengucapkan itu, matanya tampak berkaca-kaca. “Musik telah memberikan banyak penghargaan bagi saya. Makna musik bagi saya sendiri, ya, untuk menghibur diri. Musik itu jembatan kemanusiaan. Saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa musik. Hidup tanpa musik itu hambar,” kata musisi yang selalu berjuang menyejajarkan musik tradisional di Nusantara dengan musik-musik dari belahan dunia lain.