BANYUWANGI “THE SUNRISE OF JAVA”, Penerima Anugerah Kebudayaan Kategori Pemerintah Daerah

0
786

“The Sunrise of Java” adalah slogan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam menyikapi kelahiran kembali semangat kejayaan kerajaan Blambangan yang pernah berbinar di Banyuwangi abad ke-17. Wilayah ujung Timur Pulau Jawa ini memiliki pesona alam dan budaya yang kaya dan menarik. Menyadari potensi ini sejak lima tahun terakhir dengan gaya kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas yang dinamis dan aktif, Banyuwangi melesat pesat. “Terwujudnya masyarakat Banyuwangi yang mandiri, sejahtera, dan berakhlak mulia melalui peningkatan perekonomian dan kualitas Sumber Daya Manusia” adalah visi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang secara bertahap direalisasikan dalam berbagai kebijakan dan program kerja yang terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2014 Banyuwangi berhasil meraih penghargaan sebagai “Kota WelasAsih” (Compassionate City) dan penghargaan tersebut merupakan yang pertama kali di Indonesia. Semangat dari “welasasih” adalah bagaimana membangun sebuah peradaban wilayah dengan fondasi prinsip kemanusiaan yang kokoh, yaitu tanpa sekat suku, agama, dan status golongan. Di tengah perkembangan masyarakat Indonesia yang cenderung individualism dewasa ini, menghadirkan kembali semangat “welasasih” berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika merupakan angin segar yang dirindukan banyak pihak.

Sebagaimana dinyatakan seorang budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimayan, bahwa menumbuhkan semangat Bhinneka Tunggal Ika sangat penting bagi bangsa Indonesia, karena berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat seperti kerusuhan dan pelanggaran HAM bersumber dari pemahaman budaya yang sangat rendah. Banyuwangi mencoba hadir dengan menumbuhkan semangat bhinneka (keberagaman) dalam membangun kota yang lebih manusiawi tanpa mengabaikan ajaran dan nilai-nilai agama yang telah tertanam di masyarakat dengan kokoh.

Komitmen tersebut harus diterapkan pada semua sektor baik menyangkut sumber daya manusia, pendidikan, agama, ekonomi, sarana dan prasarana, serta ruang publik untuk berbagai aktivitas seni budaya.Salah satu program prioritas Banyuwangi dalam mewujudkan hal tersebut adalah Gerakan Siswa Asuh Sebaya, yaitu bagaimana menjalin solidaritas antarsiswa, kemudian menciptakan sekolah yang bebas diskriminasi, kekerasan, sehingga menghadirkan rasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah. Selain itu program pemberantasan buta aksara dan anak putus sekolah juga menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sehingga semua masyarakat dapat menikmati pendidikan secara layak.

Membangun kesadaran publik di tengah masyarakat plural bukan hal mudah, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengatasihal tersebut melalui pendekatan humanisme, yaitu mengajak partisipasi publik untuk menyusun beberapa program. Mensinergikan antara berbagai pemangku kepentingan dilakukan pihak pemerintah dengan merangkul masyarakat, pelaku usaha, kelompok dan komunitas seni untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini diakui salah satu Ketua Adat Desa Olehsari, Ansori, bahwa pemerintah telah memberi ruang ekspresi dan dana bagi seniman tradisi Banyuwangi dan kami harapkan dimasa mendatang pemerintah dapat meningkatkan dukungan untuk semua sektor, bukan hanya prasarana dan sarana namun juga dukungan finansial bagi kelangsungan hidup seniman tradisi.

Layanan publik diwujudkan dalam berbagai ruang publik yang hijau terbukadi beberapasudutkota. Kehadiran ruang publik ini selain berfungsi sebagai ruang silaturahmi juga bersifat multifungsi, seperti untuk sarana olah raga, ekonomi, sosial, ekologis hingga seni budaya. Berkat penyediaan fasilitasi ini Pemerintah Kabupaten Banyuwangi meraih penghargaan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebagai Kabupaten dengan Penataan Ruang Terbaik se-Indonesia.

Hal lain yang patut diapresiasi mengenai program Pemerintah Kabupaten Banyuwangi adalah dengan tersedianya ruang publik ini—bahkan sampai ke tingkatdesa—mampu menumbuhkan program–program revitalisasi yang menghidupkan kembali dimensi seni dan budaya di masyarakat. Konsep “Wisata Berbasis Rakyat” direalisasikan dengan berbasis pada partisipasi aktif masyarakat, sehingga melahirkan komitmen yang kuat dalam setiap kegiatan. Strategi tersebut memacu generasi muda untuk ikut terlibat dalam berbagai pertunjukan seni tradisi. Kini hampir diseluruh pelosok Banyuwangi telahtumbuh komunitas seni sebagai pilar kekuatan berkesenian untuk mengembangan budaya dan tradisi di Banyuwangi. Wisata berbasis rakyat itu diselenggarakan dalam bentuk festival. Sepanjang tahun 2015 Banyuwangi berhasil berhasil menggagas 38 program seni budaya yang spektakuler dan menjadi event yang ditunggu-tunggu masyarakat serta wisatawan mancanegara, antara lain Indonesia Fashion Week Batik Banyuwangi, Banyuwangi Art Week, Banyuwangi Ethno Carnival dan beberapa festival kesenian lainnya.

Berbagai kegiatan berbasis sport-tourism juga digagas, mengingat letak geografis Banyuwangi yang sangat beruntung, yaitu diapit gunung, laut dan hutan, serta pada savanah. Salah satu event internasional yang mendapat perhatian dunia adalah International Banyuwangi tour deIjen. Kegiatan menjadi agenda dari Union Cycliste Internationale (UCI) sejak tahun 2012.

Komitmen dan kerja keras semua pihak membuahkan hasil, karena beberapa penghargaan diraih Banyuwangi dalam beberapa tahun terakhir. The Sunrise of Java, telah menerangi ufuk Timur Pulau Jawa, sehingga kemilaunya menjadi pesona tersendiri. Banyuwangi telah menjelma menjadi salah satu destinasi unggulan di JawaTimuryang bersaing dengan daerah-daerah di sekitarnya. Membangun kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dengan mengoptimalkan sumber daya daerah yang berpijak pada pemberdayaan masyarakat, berkelanjutan, dan aspek kelestarian lingkungan adalah misi yang diemban. Kebijakan tersebut berdampak positif terhadap peningkatkan nilai investasi dari berbagai sektor. Diharapkan spirit The Sunrise of Java, dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah lain di tanah air sehingga peningkatan kualitas kehidupan yang layak dan bermartabat dapat terwujud.