Bachtiar Siagian (alm), Film Harus Diabdikan bagi Bangsa

1
1379

Penerima Anugerah Kebudayaan Kategori Pencipta, Pelopor, dan Pembaru 2016. Bachtiar Siagian (alm) mendapat Anugerah Kebudayaan 2016 untuk Kategori  Pencipta, Pelopor, dan Pembaru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ia dinilai sebagai salah seorang pembaharu dalam penyutradaraan dan penulisan skenario film yang berlandaskan realitas sosial sebagai kekuatan ekspresi.

Bachtiar yang ikut bergerilya melawan Belanda pada zaman revolusi fisik pada mulanya menulis drama. Tahun 1954 ia belajar tentang penulisan skenario melalui Pudovkin’s Book. Setahun setelah itu, ia terjun ke film, langsung sebagai sutradara untuk film Tjorak Dunia. Setelah itu, sejumlah film keluar dari tangannya seperti Kabut Desember (1955), Daerah Hilang (1956), dan bahkan ia merangkap sebagai peran utama dalam film Melati Sendja (1956). Tak kurang 13 judul film disutradarainya sampai tahun 1964.

Kerja kerasnya dalam bidang film berbuah manis ketika film yang disutradarainya, yaitu film Turang (1957), mendapat penghargaan sebagai film terbaik pada  Festival Film Indonesia (FFI) 1960.

Dalam memoarnya, Bachtiar mengatakan, ketika FFI sedang berlangsung, dirinya sedang membuat film Sekejap Mata di Studio Film Garuda, Kebayoran Lama, Jaksel. Oleh karena itu, ketika Turang terpilih sebagai film terbaik, ia tidak bisa hadir untuk menerima penghargaan dan piala untuk filmnya itu.  “Aku minta Mieke Wijaya yang pergi menghadiri pertemuan itu,” tulis Bachtiar dalam memoarnya.

Semangat untuk menjadikan film sebagai medan perjuangan membangun bangsa itu pula yang menjadi kebanggaan Indra Porhas Siagian, putra sulung Bachtiar Siagian. Lantaran Indra sudah ditinggal pergi saat masih remaja, sikap hidup tersebut diakuinya lebih banyak ia ketahui lewat pengakuan orang dan goresan-goresan tangan sang bapak.

“Dari tulisan tentang beliau dan catatan-catatan atau memoar yang ditinggalkannya, beliau pernah mengatakan film harus diabdikan bagi kepentingan perjuangan dan pembangunan bangsa,”  kata Indra Porhas Siagian. “Saya masih remaja ketika Bapak meninggal. Namun dari memoar yang ditinggalkannya saya akhirnya bisa memahami apa yang dicita-citakannya mengenai film Indonesia,” tutur Indra.

new-picture-1Berkaitan dengan fungsi film diabdikan untuk masyarakat, Bachtiar menyatakan ada dua segi yang terkandung di dalamnya, yaitu segi industri (material) dan segi ideal (isi dan bentuk film). Segi industri agar modal industri film nasional tumbuh dan berkembang. Dengan perkembangan modal itu, ia akan mampu mendorong kehidupan perfilman ke tingkat yang lebih baik. Adapun segi ideal menyangkut  isi dan bentuk film haruslah seimbang. Landasan pikiran ini ialah bahwa keseimbangan antara kesenangan publik yang umumnya hanya mengutamakan entertaintment, dengan aspek edukatif, dan kultural yang sejalan dengan tuntutan dan kepentingan bangsa.

Dalam pandangan Bachtiar, kata Indra, film nasional harus menjadi tuan di rumah sendiri. Tak heran, ia ikut dalam kegiatan memboikot film asing yang makin merajai pasar film dalam negeri. Dan, sikapnya itu tetap konsisten sampai di rumah. Indra bercerita, pada masa kecilnya ia dan adik-adikanya dilarang oleh Bachtiar untuk menonton film Hollywood di bioskop dan televisi.

Bagi Yeni Prastanti, istri almarhum Bachtiar Siagian, sang suami adalah seorang pekerja keras. Ia tidak pernah berhenti menulis. Biasanya ia bekerja pada malam hari dan baru berhenti keesokan paginya. “Saya biasanya hanya menyiapkan satu termos air panas, kopi dan gula untuknya. Tetangga sudah tahu kalau ia sedang bekerja dari bunyi mesin ketiknya. Mereka tak merasa terganggu,” kenang Yeni tentang suaminya itu.

new-picture-2BIODATA BACHTIAR SIAGIAN (ALM)

Lahir : Binjai, Sumatera Utara, 19 Februari 1923

Wafat : Jakarta, 19 Maret 2002

Istri : Yeni Prastanti

PENGHARGAAN

  • 2016: Anugerah Kebudayaan untuk Kategori Pencipta, Pelopor, dan Pembaru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  • 1960: Karyanya Film “Turang” dinobatkan sebagai Film Terbaik pada Festival Film Indonesia 1960
  • 1963: Pemenang pertama Lomba Sastra Buruh melalui Cerpen “Pensiun”
  • 1964: Pemenang Kedua Lomba Sastra Buruh melalui Cerpen “Besok”

KARIER

  • Anggota Delegasi RI Perundingan dengan Belanda di Medan (Hasil KMB)
  • Panitia Musyawarah Film Nasional Ke-1
  • Ketua Lembaga Film Indonesia
  • Sekretaris Jenderal Persatuan Produser Film Indonesia
  • Dewan Juri Festival Film Asia Afrika di Jakarta (1964)

BUKU

  • Ichtisar Sejarah Perfilman di Indonesia (1964)

FILMOGRAFI (antara lain)

Kabut Desember (1955)

Melati Senja (1956)

Daerah Hilang (1957)

Turang (1959)

Violetta (1964)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR