Anyaman Purun Kalimantan Selatan, Anyaman tradisional Kalimantan Selatan

0
15055

A. Sejarah anyaman

Sejarah pembuatan anyaman tradisional Kalimantan Selatan tidak terlepas dari perkembangan masyarakat itu sendiri. Semua itu berhubungan dengan penciptaan, kreativitas dan imajinasi yang didapat dari berbagai aktivitas, baik yang berasal dari alam, binatang, maupun manusia itu sendiri sebagai bentuk hubungan sosial.

 

Peninggalan prasejarah juga ditemukan pada kawasan pegunungan meratus di bukit Batu Bali Buli situs Gua Babi Kabupaten Tabalong. Temuan sisa-sisa kehidupan tersebut menunjukkan adanya perkembangan bentuk-bentuk kebudayaan yang dinamis. Orang-orang Kalimantan telah memiliki kebudayaan yang cukup maju antara lain pembuatan pahat batu, tembikar, perhiasan tulang dan cangkang miluska, peti bambu, peti kubur kayu, tikar pandan.

 

Awalnya anyaman hanya dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari, terutama tikar sebagai tempat/alas duduk sewaktu menerima tamu. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Syamsiar Semam dalam Torang ( 2013 : 12 ) suatu ungkapan Banjar “ Ampar tikar tamu datang “. Perkembangan selanjutnya anyaman tradisional mengalami kemajuan pesat, seiring dengan waktu dan perkembangan zaman, maka terciptalah model-model baru dari anyaman dasar menjadi wadah, peralatan rumah tangga, hiasan dan gaya hidup, jadi dapat disimpulkan bahwa sejarah anyaman tradisional Kalimantan Selatan sudah ada sejak nenek moyang orang Kalimantan. Keberadaan anyaman saat ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kehidupan manusia.

 

B. Proses Pembuatan Anyaman

Anyaman dan pembentukan motif merupakan satu kesatuan, sebab motif pada barang anyaman timbul dengan sendirinya sewaktu teknik anyaman dilakukan, Teknik “anyaman dua” merupakan teknik dasar pembuatan anyaman tradisional Kalimantan Selatan. Dalam anyaman Dayak, kumpulan serat yang digunakan adalah rotan dan Bambu.  Pada anyaman Banjar lebih menonjolkan motif hiasan, kebanyakan bermotif tapak catur, saluang mudik, bintang berhamburan, pancar walu, belah ketupat, gigi haruan dan daun melancar.

Berikut akan dijelaskan tiga jenis bahan baku anyaman tradisional Kalimantan Selatan, yang menjadi ikon dari industry kecil rumah tangga dan sekaligus menjadi kebanggaan dari kekayaan alam Kalimantan Selatan.

 

1. Anyaman Berbahan Dasar Bambu

Sebelum proses pembuatan anyaman, diperlukan bahan baku utama berupa Bambu. Jenis bambu yang baik dipergunakan adalah bambu tali (paring tali), karena jenis ini memiliki kelenturan serat yang baik dan tidak mudah pecah. Bahan baku ini ada yang bisa didapat secara langsung di hutan sekitar desa pengrajin da nada  juga

yang dibeli dari pemasok/masyarakat sekitar hutan pegunungan meratus. Sedangkan produk bambu yang bukan anyaman, dipergunakan berbagai jenis bambu (paring), antara lain paring banar, paring haur, paring buluh dan paring tamiang. Langkah awal pembuatannya dimulai dengan mempersiapkan bahan baku berupa bambu yang baik, sesuai jenis barang yang akan dibuat. Kemudian dikeringkan, tanpa ada proses pewarnaan. Jika barang yang akan dihasilkan berupa peralatan perikanan seperti hampang (perangkap ikan), cukup memotong bambu sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Begitu pula dengan barang-barang lainnya, seperti tangguk, lukah dan lain-lain. Secara umum pembuatannya hampir sama, hanya saja model atau variasi bentuk kreasi yang membedakannya (ada lurus, melingkar, setengah lingkaran).

 

2. Anyaman Berbahan Dasar Rotan

Pengelompokkan jenis rotan umumnya didasarkan atas persamaan ciri-ciri karakteristik morfologi organ tanaman, yaitu: akar, batang, daun, bunga, buah dan alat-alat tambahan. Dalam ilmu taksonomi tumbuhan, rotan diklasifikasikan sebagai tumbuhan yang memiliki Klasifikasi ilmiah. Rotan dalam bahasa daerah Kalimantan Selatan disebut dengan Paikat (Banjar), telah dimanfaatkan untuk kehidupan. Ada lima jenis paikat yang digunakan dalam pembuatan anyaman tradisional Kalimantan Selatan adalah jenis Paikat taman, paikat irit, ilatung, tuhu dan manau. Dari kelima jenis paikat tersebut, hanya paikat taman yang baik dibuat anyaman.

Pengolahan rotan sebagai bahan baku anyaman melalui proses yang cukup panjang. Secara teknis pekerjaan tersebut terbagi dua, yaitu pengambilan rotan dan pengolahannya. Dari kedua teknis pekerjaan tersebut diperlukan persiapan yang baik, agar menghasilkan bahan anyaman yang diharapkan.

 

3. Anyaman Berbahan Dasar Purun

Kalimantan Selatan sebagai daerah yang memiliki dataran rendah berair, seperti sungai, danau dan rawa. Banyak ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan liar di antaranya tanaman purun. Tanaman purun tumbuh subur hamper di seluruh Kalimantan Selatan. Selain dimanfaatkan untuk keperluan hidup sebagai bahan baku anyaman, purun juga memiliki makna bagi perilaku manusia. Hal ini menunjukkan bahwa tumbuhan ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan memberikan inspirasi bagi kearifan budaya masyarakat Kalimantan selatan.

Jenis purun yang tumbuh di Kalimantan Selatan terdiri atas purun danau dan purun tikus.

Tumbuhan purun oleh masyarakat Kalimantan Selatan telah dimanfaatkan sebagai kerajinan rumah tangga antara lain sebagai tikar, tas, topi, bakul, sejadah, hiasan dinding dan aksesoris lainnya.

 

C. Motif Anyaman

Teknik pembuatan anyaman yang telah dikemukakan di atas, dapat dikembangkan menjadi berjenis-jenis jalinan yang akan menghasilkan motif dari tampilan permukaan hasil anyaman, walaupun bahan anyaman sama warnanya. Jika bahan anyaman berbeda warnanya, akan menghasilkan motif berwarna yang lebih bervariasi, seperti motif anyaman dari bambu. Sedangkan barang anyaman bermotif hias yang mengandung simbol-simbol adalah barang anyaman yang dihasilkan oleh suku Dayak Meratus.

Barang-barang tersebut berupa bakul-bakul (arangan) yang dipergunakan untuk keperluan upacara. Motif-motif tersebut adalah sebagai berikut:

• Pasang Baurang, motif pasang baurang menggambarkan 8 (delapan) orang Balian sedang menari-nari dalam upacara adat Suku Bukit / Dayak.

• Kaling Kalih, motif ini menceritakan suasana kegembiraan dalam upacara Aruh Adat, dilukiskan dalam bentuk manusia beragam perilakunya.

• Naga Betapa, motif ini menceritakan Putir Bungsu (putri bungsu) sedang bertapa digunung dikelilingi oleh naga.

• Hati Bungsu Kaling, motif ini memberikan makna / lambing sifat manusia bahwa sumber kebaikan atau kejahatan tergantung pada hati nuraninya.

• Balang Bandu (Belakang Hantu), motif ini menggambarkan belakang mertua Putir Bungsu yang menurut cerita masyarakat suku bukit mertua Putir Bungsu adalah seorang hantu (jin).

• Sanghar Ari, motif ini penggambaran dunia berupa matahari lambang kehidupan.

• Bintang Bacarang, motif perlambang petunjuk musim (Mardiana, 2001:16).

Motif motif di atas merupakan motif-motif sacral yang dipergunakan dalam upacara.

 

Untuk motif anyaman purun yang ada di Kalimantan Selatan dapat dijumpai di Kabupaten Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan dan Tabalong umumnya memiliki kesamaan yang lebih menonjolkan motif hiasan antara lain tapak catur, saluang mudik, bintang barhamburan, pancar walu, belah ketupat, gigi haruan dan daun melancar. Secara keseluruhan motif-motif yang tercipta menggambarkan keragaman khasanah budaya dan kekayaan daerah Kalimantan Selatan.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901046

Nama Karya Budaya :Anyaman Purun Kalimantan Selatan

Provinsi :Kalimantan Selatan

Domain :Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda