Milenial Sambut Tantangan Industri 4.0

0
1213

Milenial Sambut Tantangan Industri 4.0 : Program Bantuan Fasilitasi Laboratorium Seni Dan Budaya

Revolusi Industri 4.0 kini tengah jadi pembahasan global. Berbagai negara di dunia tengah berpacu mempersiapkan diri menghadapi era industri generasi ke-4 ini, dimana teknologi internet menjadi basis utama pada pengembangan teknologi idustri. Kesiapan infrastruktur sekaligus SDM (Sumber Daya Manusia) tentu menjadi konsekuensinya jika tidak ingin tergerus di kancah persaingan global. Lantas, bagaimana sikap dan langkah pemerintah Indonesia menghadapi konsekuensi tersebut?  Sebagai individu, seberapa siapkah kita menghadapi tantangan global ini? Tidak ada ruginya jika pertanyaan terakhir kita jadikan sebagai bahan renungan kita sendiri.

Pemerintah Indonesia masih terus melakukan pembahasan-pembahasan berkenaan dengan Revolusi Industri 4.0 ini. Pembangunan dan pengembangan juga masih terus dilaksanakan sesuai dengan skala prioritas yang telah disusun sebagai rencana kerja pemerintah tentunya. Program-program pembangunan dan pengembangan SDM juga tidak luput dari perhatian pemerintah. Sektor pendidikan terus melakukan upaya-upaya strategis melalui berbagai program yang mengacu pada Penguatan Pendidikan dan Pemajuan Kebudayaan.

Miris memang ketika belakangan ini agaknya kreatifitas menyimpang yang memanfaatkan kemajuan teknologi seperti smartphone dan internet seakan mencoreng moral bangsa ini. Temuan-temuan kasus  video asusila yang mengatasnamakan generasi milenial negeri ini mulai dari kalangan pelajar hingga kalangan profesional muda kian ramai pemberitaannya di berbagai media. Belum lagi kasus-kasus seperti penyebaran informasi palsu yang menyesatkan (hoax), hingga pencemaran nama baik yang kenyataanya banyak berasal dari kalangan terpelajar. Kondisi seperti ini jika tidak ditata kembali dari akarnya bukan tidak mungkin ke depannya dapat mengakibatkan kemerosotan mental, moral, hingga budaya bangsa ini yang dikenal menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan tata krama. Sesungguhnya banyak aktivitas dan kreatifitas yang jauh lebih bermanfaat apabila kita mau belajar untuk bisa lebih cerdas dan terarah dalam memanfaatkan kemajuan teknologi.

Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) baru saja meresmikan sebuah laboraturium seni dan budaya di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen, tepatnya pada tanggal 4 Pebruari 2019, yang kemudian diberi nama Gedung Kesenian Kasman Singodimedjo. Laboraturium ini merupakan realisasi dari program bantuan Fasilitasi Laboraturium Seni dan Budaya milik Kemdikbud yang diperuntukan bagi sekolah-sekolah atau satuan pendidikan setingkat  Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Program bantuan ini sudah berjalan untuk beberapa sekolah lain yang ada di Indonesia sejak 2018 lalu, dan masih akan terus berjalan di tahun ini. “InsyaAllah kita bangun juga sampai ke wilayah pelosok, tahun ini rencananya ada sepuluh yang akan kita bangun,” ungkap Muhadjir Effendy usai meresmikan laboraturium milik SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen.

Banyak sekolah yang memberikan pelajaran ekstra kurikuler di bidang seni dan budaya, namun tidak semua memiliki fasilitas laboraturium seni dan budaya, terutama laboraturium yang memenuhi standar kelayakan. Kondisi tersebut dapat ditemui tidak hanya di wilayah pelosok, kota besar pun memiliki kondisi yang sama. Pelajaran ekstra kurikuler apabila mampu dikelola secara serius, mampu memberi ruang kreatifitas terarah kepada para pelajar guna meminimalisir aktifitas-aktifitas negatif di luar jam sekolah.

Banyak raihan prestasi sekolah di bidang non akademis yang berasal dari pelajaran ektra kurikuler. Salah satu contohnya adalah prestasi milik SMK Muhammadyah 5 Kepanjen, Kabupaten Malang. Sebelum menerima program bantuan ini, sekolah ini sudah lebih dulu memiliki prestasi di bidang perfilman dengan melahirkan sebuah karya film monumental mereka yang berjudul “Darah Biru Arema”. Kini film tersebut telah diproduksi kembali menjadi sekuel oleh sineas-sineas dari rumah produksi di Malang dengan judul “Satu Jiwa Untuk Indonesia (Darah Biru Arema 2)”, dan telah tayang di bioskop-bioskop di wilayah Malang sejak 2018 lalu. Berkat prestasi tersebut, sekolah ini kemudian ditunjuk langsung oleh Kemdikbud untuk menjadi sekolah pionir dari program Revitalisasi Industri Kreatif milik Kemdikbud dengan membuka jurusan perfilman.

“Kami berterima kasih karena tahun ini ditunjuk sebagai sekolah yang menjadi pionir pada jurusan produksi film, dimana sebelumnya anak-anak SMK Muhammadiyah 5 telah membuat sebuah karya monumental yaitu sebuah film yang berjudul “Darah Biru Arema”, yang telah ditonton oleh lebih dari 15.000 penonton dan keliling 15 kota di Indonesia, bahkan tahun kemarin juga telah diproduksi kembali oleh rekan-rekan yang ada di Malang “Darah Biru Arema 2” dan telah tayang di bioskop di Malang dengan jumlah penonton 10.000 lebih,” ungkap Arief Joko Suryadi, Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen pada acara peresmian laboraturium seni dan budaya di sekolahnya.

Gedung Kesenian Kasman Singodimedjo ini merupakan mini teater dengan kapasitas lebih kurang 70 pengunjung untuk tingkat kenyamanan optimal, dan dilengkapi fasilitas yang memenuhi standar sebuah gedung pertunjukan, mulai dari panggung, tata suara, sampai dengan ventilasi udara. Desain dan tata ruangnya yang terbilang apik dan proporsional, terdapat ruang produksi minimalis dan ruang kontrol di dalamnya. Keberadaan gedung ini tentunya diharapkan akan semakin memicu kreatifitas siswa dalam seni dan budaya, dan sekaligus menjadi akses baru dalam berkesenian di wilayah Malang Selatan.

“Gedung ini sangat representatif untuk mengembangkan sumber daya anak-anak dalam bidang seni budaya. Tidak ada yang seperti ini di Malang Selatan, mau nari saja susah, ndak tahu harus kemana, mau nonton juga susah,” tutur Arief.

Bantuan terhadap sekolah-sekolah baik sekolah negeri maupun swasta masih terus diberikan oleh pemerintah guna mendukung kinerja sekolah dalam mencetak generasi yang berkualitas. Akan tetapi adanya keterbatasan jumlah bantuan dari pemerintah tentu menuntut kerjasama antara mereka yang ketempatan sebagai penerima bantuan dengan lingkungan sekirtarnya agar pemanfaatanya bisa lebih merata dan optimal tentunya.

“Pemerintah masih terus memberikan bantuan-bantuan kepada sekolah baik negeri maupun swasta tanpa pandang bulu, secara rata dan adil di seluruh Indonesia, tapi tentu saja karena jumlahnya terbatas tidak semua kebagian, oleh sebab itu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya”, kata Muhadjir. Beliau juga menggaris bawahi, “Jangan hanya digunakan oleh sekolah yang ketempatan bantuan, tapi juga dapat dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah lain disekitar,” pesan beliau.

Penting adanya untuk bisa mencetak generasi industri 4.0 yang cerdas secara intelektual dan berbudaya, agar nantinya bisa hadir sebagai SDM yang tidak hanya mampu bersaing dalam mengisi pos-pos di tengah laju pertumbuhan infrastruktur global, tapi juga sekaligus memiliki mental yang mampu menjaga harkat dan martabat bangsa.

“Tugas kita sekarang ini, kita harus menyiapkan lulusan-lulusan SMK yang betul-betul capable, memiliki kualifikasi yang bagus untuk nanti mengisi pos-pos lapangan pekerjaan karena akibat semakin berkembangnya infrastruktur, atau yang terkenal saat ini itu menyiapkan generasi industri 4.0,” tutur Muhadjir.

“Pak Presiden selalu mewanti-wanti, kita bertanggungjawab untuk selalu menjaga asset peninggalan pendiri Republik Indonesia ini, yaitu kerukunan, persaudaraan dan persatuan,” kata Muhadjir. “Anak-anak sekarang ini harus cerdas dalam menggunakan smartphone-nya, jangan sampai tersesat karena perilaku hoax,” pesan Muhadjir selanjutnya, dan beliau juga menegaskan bahwa kurikulum pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan harus mulai mengacu pada kebutuhan industri. (CATRA)