Palagan Bojongkokosan, Heroisme di Sukabumi yang Menyulut Lautan Api di Bandung

0
1514
Gerbang Monumen dan Museum Palagan Bojongkokosan.
Gerbang Monumen dan Museum Palagan Bojongkokosan.

Monumen dan Museum Palagan Bojongkokosan

Kisah kepahlawanan R.H. Eddie Soekardi dan adiknya R.H. Harry Soekardi terabadikan dalam Museum Palagan Bojongkokosan. Mereka berasal dari Bandung. Namun Kempeitai (polisi miiter Kekaisaran Jepang) membawanya dengan paksa dari kediamannya di Gang Ijan Bandung. Mereka dijadikan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Takdir ini menjadikannya sosok berjasa dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

PETA terlahir dari ide Otto Iskandar Dinata, Iyos Wiriaatmaja, dan R. Gatot Mangkupraja pada Masa Pendudukan Jepang. Secara rahasia mereka melakukan pembicaraan mengenai masa depan Negara Indonesia yang memerlukan kader-kader militer. Pada 7 September 1943 Gatot Mangkupradja mengirim surat kepada penguasa militer Jepang. Surat itu berisi permohonan agar Bangsa Indonesia diperkenankan membantu Jepang di garis depan. Maka pada 3 Oktober 1943, Lentan Jenderal Kumakici Harada mengabulkan permohonan itu, dan meresmikan pembentukan PETA.

Museum dan Monumen Palagan Bojongkokosan berada di Jalan Siliwangi No. 75, Desa Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, Sukabumi. Museum ini terdiri atas dua bangunan. Kondisi keduanya tidak terlalu baik. Tampak kotor dan kusam. Beberapa bagian plafonnya berlubang. Koleksinya pun tidak terawat. Seperti tidak bercerita apa-apa. Maka dari itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman akan merevitalisasi museum ini melalui APBN 2018. Agar museum ini menjadi bagian dari museum-museum terbaik di Indonesia. Museum yang memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya. Museum yang dapat memberikan informasi dengan baik. Museum yang dapat menjadi tempat belajar atas peristiwa bersejarah yang pernah terjadi.

Monumen Palagan Bojongkokosan.
Monumen Palagan Bojongkokosan.

Empat hari serangan pertama

Empat hari lamanya perang itu berkobar. Tiga ribu personel Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dibantu oleh Laskar Pejuang Rakyat Sukabumi melakukan penghadangan terhadap konvoy tentara Sekutu di Jalur Sukabumi-Cianjur. Peristiwa ini terjadi pada 9 hingga 12 Desember 1945. Salah satunya terjadi di Bojongkokosan. Daerah yang terletak di sebelah baratlaut Kota Sukabumi.

Batalyon I yang dipimpin oleh Mayor Yahya B. Rangkuti bersiaga di Jalan raya Ciawi-Cigombong-Cibadak, yang berjarak 18 km. Batalyon ini sebagai pemukul pertama. Kemudian Batalyon II yang dipimpin oleh Mayor Harry Soekardi bersiap melakukan penyerangan kedua. Lokasinya berada di Cibadak hingga Sukabumi bagian barat, yang juga berjarak 18 km. Batalyon III yang dipimpin oleh Kapten Anwar berjaga dari Gekbrong hingga Ciranjang Cianjur sejauh 30 km. Batalyon IV yang dipimpin oleh Mayor Abdulrachman ditempatkan di jalan raya Sukabumi bagian timur hingga Gekbrong yang berjarak 15 km.

Sebelumnya….

Pada 29 September 1945, Panglima Skadron Penjelajah V Inggris, Laksamana Muda W.R. Patterson telah tiba. Turut pula Ch. O. van Der Plas, Wakil Kepala NICA (Netherlands Indies Civil Administration) untuk membentuk Pemerintahan Sipil Hindia Belanda. Mereka melakukan konvoi APWI (Allied Prisoners of War and Interneers), yang bertugas untuk melakukan pengiriman dan pemulangan tahanan perang. Dikawal oleh Batalyon 5/9 Jats, yang merupakan satuan tentara Inggris yang berasal dari Punjab, India. Konvoi itu terdiri atas 150 truk yang dikawal Tank Sherman, Panser Wagon, dan Brencarrier.

Pada 9 Desember konvoi melewati di Cicurug. Setelah kepala konvoi sampai di Bojongkokosan, satu ruas jalan dengan terbing di kedua sisinya, mereka mendapatkan serangan tiba-tiba. Sementara ekor konvoi yang masih berada di Cicurug mendapatkan serangan kedua. Konvoi itu pun panik, dan perang pun tidak terhindarkan.

Cibadak dibombardir RAF

Saat masih pagi, pada 10 Desember, RAF memborbardir Cibadak hingga sore hari, sekitar pukul 16.00. Serangan balasan ini merupakan serangan udara paling dahsyat dalam perang di Pulau Jawa. Sementara itu Batalyon Jats yang tersisa menyatukan diri dan beristirahat di kota Sukabumi.

Pada 11 Desember 1945 Markas Sekutu di Cimahi mengirim bantuan. Mereka mengirim Batalyon 3/3 Gurkha Rifles. Akan tetapi pasukan ini dihadang Batalyon III di sepanjang Jalan Raya Cianjur. TKR menggunakan taktik “Hit and Run”, atau disebut juga dengan gerilya.

Dengan susah payah Batalyon Gurkha Rifle dan Jats akhirnya dapat bergabung pada malam harinya di kota Sukabumi. Mereka akhirnya memohon untuk dapat melanjutkan perjalanan ke Bandung dan tidak diganggu. Permohonan ini dilakukan oleh juru runding, Mayor Rawin Singh. Akibat peristiwa ini Pemerintah Inggris mendapat kecaman dari berbagai pihak. Terutama keluarga tentara dan pers internasional, yang menghebohkan Parlemen Inggris. ANFEI dengan terpaksa mengakui ketidakmampuannya menjalankan Misi Internasional. Mereka harus kembali pada kesepakatan Konferensi Postdam. Akhirnya ANFEI meminta bantuan Pemerintah RI dan mengalihtugaskan Misi Internasional ini kepada TKR.

Hikmah dari Pertempuran Konvoy pada 9 hingga 12 Desember 1945 di Bogor, Sukabumi dan Cianjur, ini adalah Republik Indonesia secara tidak langsung telah mendapatkan pengakuan (de facto) dari pihak Sekutu, yang menggugah dunia Internasional.

Gedung Museum 1 Palagan Bojongkokosan.
Gedung Museum 1 Palagan Bojongkokosan.

Perang Konvoi Kedua

Tidak senang dengan keberhasilan diplomasi RI dengan Sekutu, NICA membujuk AFNEI agar memindahkan pusat kekuatan militernya ke Bandung. Sebelum Indonesia merdeka, Hindia-Belanda telah memindahkan Kementrian Peperangan (DVO) dan markas tentaranya ke Bandung. Bahkan kota ini telah dipersiapkan untuk Pusat Pemerintahan Hindia Belanda. Mereka berpikiran bahwa untuk menguasai Indonesia, harus menguasai Jawa Barat lebih dulu, terutama Bandung. AFNEI pun terbujuk dan membiarkan pendaratan besar-besaran tentara Belanda di Tanjung Priuk.

Resimen III TRI Sukabumi kembali ditugaskan menggagalkan rencana AFNEI

Sekutu kembali menggunakan jalur Jakarta-Bandung melalui Sukabumi. Mereka menduga jalur ini sudah aman. Akan tetapi pada 10 Maret 1946 Konvoy Tentara Sekutu dari Batalyon Patiala mendapatkan Hadangan. Serangan ini dilakukan pada sore hari oleh Batalyon II Resimen III TKR Sukabumi. Tepat di jalan raya Cipelang. Batalyon Patiala adalah batalyon yang tediri atas tentara sewaan yang berasal dari suku Patiala India. Sementara itu bagian ekor konvoi dihajar oleh Batalyon I. Saat itu TKR sudah berganti dari Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat pada 7 Januari 1946. Pada 26 Januari 1946 akhirnya Tentara Keselamatan Rakyat pun berganti menjadi Tentara Republik Indonesia atau TRI.

Ketika memasuki kota Sukabumi mereka mendapat serangan lagi. Serangan ini dilakukan Batalyon IV. Kejadian ini mirip dengan serangan tiga bulan sebelumnya. Tampaknya Sekutu tidak mengambil pelajaran. Pada 11 Maret, dari malam hingga subuh, pasukan gabungan Batalyon I, II, dan IV melakukan serangan kepada Batalyon Patiala yang terkepung di tengah kota Sukabumi. Mereka memadukan taktik gerilya dan “kirikumi”. Serangan yang dilakukan secara mendadak kemudian menghilang. Dilakukan secara bergantian oleh berbagai kompi yang dibantu laskar perjuangan dan rakyat.

Sekutu dibantu tank Aquadron 13 Lancer

Pada 12 Maret 1946 Markas Tentara Sekutu di Bogor mengirimkan bantuan. Sekutu mengirimkan pasukan tank Squadron 13 Lancer yang dikawal Pasukan Grenadier. Saat mereka tiba di Cikukulu Sukabumi sore hari, disambut dengan serangan dari Batalyon I dan II. Pasukan penolong ini pun meminta tolong kepada pasukan yang semestinya harus ditolong. Sebagian pasukan Patiala dikirim untuk menolong Pasukan Grenadier. Akan tetapi, di tengah jalan mereka mendapat serangan lagi dari TRI.

Saat bersamaan, Markas Tentara Sekutu di Bandung mengirim Pasukan Rajputana Rifles. Namun Batalyon III yang berkedudukan di Cianjur tidak membiarkan mereka begitu saja. Pasukan Rajnaputana pun harus berjibaku untuk dapat memasuki kota Sukabumi. Sesampainya di kota inipun, mereka harus menghadapi serangan sporadis dari satuan kecil, kompi-kompi dari Batalyon IV.

Brigade I tiba dari Bandung

Setelah 4 satuan Sekutu tidak berdaya, Inggris akhirnya mengirimkan Brigade I dari markasnya di Bandung. Brigade ini dipimpin oleh Brigadier N.D. Wingrove pada 13 Maret 1946. Pasukan ini terdiri atas 400 kendaraan. Termasuk lapis baja dan artileri berat. Pasukan ini bekekuatan 2500 personil, yang terdiri atas tentara Inggris dan sewaan dari India. Brigade I tertahan di Ciranjang dan harus bermalam di daerah ini. Oleh karena mendapat serangan hebat dari Batalyon IV yang dipimpin Kapten Anwar di jembatan Cisokan.

Pada 13 Maret 1946 pukul 20.00 empat kesatuan Tentara Sekutu akhirnya dapat berkumpul di kota Sukabumi. Namun kembali mendapat serangan kirikumi. Dalam keadaan terjepit dan terkepung mereka sulit melakukan balasan. Akhirnya, pada 14 Maret 1946 dini hari, pasukan Brigade I Inggris dapat melanjutkan perjalanan untuk membantu konvoi yang terkepung.

Gedung Museum 2 Palagan Bojongkokosan.
Gedung Museum 2 Palagan Bojongkokosan.

Menarik mundur dari Sukabumi

Meskpun sepanjang perjalanan Pasukan Sekutu mendapat serangan dari Batalyon III dan IV, sampailah mereka di Kota Sukabumi. Setelah 5 kesatuan itu dapat berkumpul, merekapun meninggalkan kota Sukabumi menuju Bandung. Sepanjang perjalanan mereka mendapat gangguan dari penembak jitu Batalyon IV dan III Resimen III TRI. Empat hari empat malam adalah saat saat berat. Pasukan berpengalaman dan pemenang dalam Perang Dunia II itu kewalahan. Meski disokong persenjataan lengkap dan pengintai udara RAF.

Ketika kekuatan militer AFNEI (Sekutu) dan Tentara Belanda sudah terhimpun di kota Bandung, meletuslah “Bandung Lautan Api”. Tepatnya pada 24 Maret 1946. Peristiwa ini tersulut percikan Pertempuran Konvoy yang terjadi pada 9–12 Desember dan 10–14 Maret 1946. Peristiwa heroik ini adalah gambaran keberhasilan TKR/TRI dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sumber:

Iskandar, Yoseph, dkk. 1997, Pertempuran konvoi Sukabumi-Cianjur 1945–1946, Jakarta, PT Sukardi LTD.

Doulton, Lieut.-Colonel A.J.F. 1951, The Fighting Cock Being the History of the 23rd Indian Division 1942-1947, Published by Gale & Polden, Ltd.,, Aldershot

Baca juga:

Peran dan Aktivitas Pelabuhan di Pedalaman Majalengka

LEAVE A REPLY