Siaran Berita

Jumat, 2 Desember 2016

Dalam rangka memperingati HUT Korpri yang ke-45 tahun 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Enthus Susmono yang juga merupakan Bupati Tegal, mengambil lakon “Bima Ngaji”.

Pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan di Aula Insan Berprestasi, Gedung A Kompleks Kemdikbud akan dibuka Mendikbud, Muhadjir Effendy, sekaligus mengawali mendalang (mucuki). Pagelaran wayang kulit yang dilaksanakan semalam suntuk ini dimulai pukul 19.00 WIB menghadirkan bintang tamu Yati Pesek dari Yogyakarta dan Sakirun (Kirun) dari Madiun.

Cerita “Bima Ngaji” mengisahkan tentang perjalanan Bima dalam proses berguru kepada Begawan Drona untuk memperoleh ilmu Sangkan Paraning Dumadi atau Ilmu Kesempurnaan Hidup. Kesungguhan hati Bima di dalam berguru kepada Drona dimanfaatkan Duryudana untuk dapat dibinasakan. Maka ketika Bima diminta mencari kayu gung susuhing angina (Kayu besar sarang angina) ke gunung Candramuka di tengah hutan Tikbrasara, Bima menyanggupi.

Di hutan Tikbrasara, Bima bertemu dengan Raksasa Rukmuka dan Rukmala, dan terjadi peperangan. Kedua, raksasa mati kemudian berubah wujud menjadi Betara Indra dan Betara Bayu. Bima diberi aji kedigdayaan dan diberitahu tentang makna perintah Drona kepadanya. Ia kemudian kembali menghadap Drona. Drona meminta sekali lagi kepada Bima agar mencari banyu pawitradi mahening suci (air kesucian hidup) ke dalam Samudra Minangkalbu, dan disanggupi oleh Bima meskuipun keempat saudaranya tidak setuju, ia tetap teguh pada tekadnya.

Ketika Bima terjun ke dalam lautan, tiba-tiba diserang Naga Nemburnawa; seluruh tubuhnya dililit hingga tidak mampu bergerak. Akhirnya Sang Naga mati tertusuk kuku pancanaka, namun seketika itu pula Bima terkapar. Disaat itulah ia menerima wejangan Dewa Ruci (guru sejati Bima) tentang asal dan tujuan hidup. Ketika Dewa Ruci lenyap, Bima telah sampai di daratan berkumpul dengan keempat saudaranya. Bima mengakui bahwa berkat perintah Drona ia bisa mendarat pengetahuan hidup.

Kisah ini mempunyai makna bahwa murid harus taat dan patuh kepada seorang guru, nasehat dan perintah guru pasti membawa kebaikan dan tidak akan mencelakakan murid. Untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan, seorang murid harus belajar dengan penuh keyakinan dan ketekunan.

Kegiatan pagelaran wayang kulit ini terbuka dan gratis untuk masyarakat umum.

Informasi lebih lanjut tentang kegiatan ini dapat m,enghubungi :

Bapak Mula Sinaga (08158837978)