Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat melaksanakan kegiatan FGD Penggalian Data dan Informasi Sebagai Baseline Penyusunan Kurikulum Sekolah Adat Bayan, NTB di Bale Sangkep Sesait, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 23 – 25 September 2021. Kegiatan yang juga dilaksanakan secara hybrid via zoom ini merupakan sinergi dan kerjasama dengan Santiri Foundation dan Sekolah Adat Bayan. FGD di hadiri oleh 40 orang peserta yang terdiri dari unsur pemerintah pusat dan daerah, tokoh adat, tokoh pemuda, pegiat pendidikan, perempuan adat, LSM serta instansi terkait yang membidangi pendidikan dan kebudayaan di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Narasumber menghadirkan unsur pemerintah, akademisi dan praktisi, yaitu Sjamsul Hadi, SH, MM (Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi), Samsul Widodo (Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi), Muhammad Ghozi Alfatih (Ketua Forum Koordinasi Nasional BLK Komunitas), Prof. Josef Prijotomo (Pakar perkembangan Arsitektur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Dedi Asriady (Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani), Renadi (Kepala Sekolah Adat Bayan), Toto Raharjo (Sekolah Alam Solo), Catrini Pratihari Kubontubuh (Direktur Eksekutif BPPI), Kasmita Widodo (Kepala BRWA) serta dimoderatori oleh Dewi Hutabarat (Wakil Ketua Deputi Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan dan Koperasi KADIN Pusat), Gendewa Tunas Rancak dan Tjatur Kukuh Surjanto dari Santiri Foundation.

FGD diawali dengan sambutan dari Sjamsul Hadi, SH, MM (Direktur Kepercayaan terhadap Ketuhanan YME dan Masyarakat Adat) serta dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lombok Utara yang mewakili Wakil Bupati Lombok Utara. Adapun hasil FGD menekankan kepada hal-hal berikut :

  1. Perlunya pemahaman yang sama dari masyarakat adat mengenai 10 (sepuluh) Objek Pemajuan Kebudayaan.
  2. Perlu adanya kegiatan pelatihan dan penjaringan pemuda sebagai kolektor data untuk mempermudah dalam proses penggalian data lapangan.
  3. Perlunya materi mengenai metode pengumpulan data yang mudah dipahami dan diaplikasikan di dalam kegiatan pelatihan dan penjaringan pemuda sebagai kolektor data.
  4. Setelah melakukan pelatihan dan penjaringan pemuda, maka tahapan selanjutnya adalah melakukan penggalian data lapangan sebagai baseline penyusunan kurikulum Sekolah Adat Bayan.
  5. Proses selanjutnya adalah memasukkan (input) data 10 (sepuluh) Objek Pemajuan Kebudayaan ke dalam aplikasi Sidakerta dan basis data lainnya.
  6. Data-data terkait 10 (sepuluh) Objek Pemajuan Kebudayaan tersebut kemudian dapat digunakan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sebagai bahan penyusunan kurikulum kontekstual Sekolah Adat Bayan. Selain itu data-data tersebut dapat digunakan oleh pemangku kepentingan lainnya sebagai bahan dalam penyusunan kebijakan.
  7. Kurikulum kontekstual yang telah tersusun lalu diintegrasikan ke dalam pendidikan muatan lokal di satuan pendidikan formal melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat serta Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lombok Utara.

FGD ditutup secara resmi oleh Tjatur Kukuh Surjanto dari Santiri Foundation.