Keriaan anak-anak Adonara menerbangkan kain. Dok. AgungPan

Kain warna warni berterbangan di udara, suara tawa anak-anak terdengar riuh. Keceriaan anak-anak Adonara terpancar selama mengikuti kegiatan trauma healing yang dilaksanakan oleh Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Flores Timur serta KPOTI Pusat (Komite Permainan dan Olahraga Tradisional Indonesia) pada tanggal 21 Juni 2021.

Kegiatan Trauma Healing di lapangan Camay Kecamatan Adonara Timur dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, panitia, tamu undangan dan semua peserta baik anak-anak maupun pendamping wajib menggunakan masker dan diminta membersihkan tangan dengan handsanitizer. Dalam kegiatan tersebut anak-anak memainkan beberapa permainan tradisional. Hal tersebut bertujuan supaya anak-anak dapat kembali ceria dan membangkitkan kembali semangat menuju normalitas. Permainan rakyat dan olahraga tradisional merupakan sumber semangat karena memiliki sarat nilai seperti: semangat juang, kebersamaan, sportivitas, kejujuran, dan lain sebagainya.

Cuaca yang panas tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk terus ambil bagian permainan yang disediakan panitia pelaksana. Permainan tradisional yang dimainkan antara lain layang-layang yang dijadikan sebagai objek kreatifitas anak sebagai gambaran harapan dan cita-cita masa depan mereka, “harapan saya, semoga Covid-19 cepat berlalu dan saya dapat belajar kembali meraih cita-cita sebagai dokter” seru salah seorang anak lalu disambut sorak sorai dan tepuk tangan dari peserta lain. Setelah itu, anak-anak dibuat berbaris lalu berjalan mengikuti arah depan. Permainan ini disebut terowong ular disajikan sebagai bentuk persatuan dan kesatuan sebagai modal dari kemajuan dan pembangunan bangsa. Adapun permainan lempar kain dan kolecer yang memanfaatkan hembusan
angin agar bisa berputar sempurna. Besar harapan kami setelah berlangsungnya kegiatan ini anak-anak dapat kembali ceria mengejar mimpi sesuai yang mereka tulis pada layang-layang serta dapat mengapresiasi kembali permainan dan olahraga tradisional daerah masing-masing. (AgungPan)